IHSG Bangkit dari Tekanan
đ Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun â Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun â Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an â Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan ditutup naik ke level 5.936 pada perdagangan Jumat, 10 Juli 2026. Penguatan ini didorong oleh sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali membuka ruang dialog.
Pengamat pasar menilai penguatan IHSG kali ini cukup signifikan mengingat indeks sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir akibat kekhawatiran eskalasi konflik global. Bursa Asia pun kompak menghijau, mendukung pergerakan positif IHSG.
Sektor-sektor Penggerak IHSG
Beberapa sektor menjadi motor penggerak IHSG pada perdagangan hari ini. Sektor energi menjadi salah satu pendorong utama seiring kenaikan harga minyak mentah dunia yang stabil di level USD 72 per barel. Saham-saham seperti PGEO, HRTA, dan ADRO masuk dalam jajaran top gainers.
Sektor properti dan infrastruktur juga turut mendorong penguatan IHSG. Sentimen positif datang dari kebijakan KPR 40 tahun yang terus menjadi katalis sektor properti. Sementara itu, sektor perbankan cenderung mixed dengan beberapa saham big banks mencatatkan penguatan tipis.
Rupiah Kembali ke Bawah Rp18.100
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan penguatan yang cukup berarti. Rupiah ditutup menguat 63-67 poin ke level Rp18.061-Rp18.065 per dolar AS, tergantung pada sumber referensi kurs yang digunakan. Pergerakan ini menjadikan rupiah kembali betah di bawah level psikologis Rp18.100.
Kurs tengah Bank Indonesia mencatat penguatan yang konsisten, didukung oleh aliran modal asing yang mulai kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia. Stabilitas nilai tukar menjadi perhatian utama pemerintah dan Bank Indonesia.
Faktor Eksternal Dominan
Beberapa faktor eksternal memengaruhi pergerakan IHSG dan rupiah pada pekan kedua Juli 2026:
- Dialog AS-Iran - Pembukaan kembali ruang dialog antara AS dan Iran meredakan ketegangan geopolitik, menekan harga minyak dan mengurangi risiko gangguan pasokan energi global.
- Kebijakan Suku Bunga Global - Pasar menanti keputusan suku bunga The Fed yang diperkirakan tetap dovish, memberi ruang bagi penguatan mata uang emerging market termasuk rupiah.
- Harga Komoditas - Stabilitas harga minyak dan komoditas lainnya mendukung nilai ekspor Indonesia dan memperkuat neraca perdagangan.
Aliran Modal Asing Mulai Masuk
Setelah sempat mengalami net sell yang cukup besar, investor asing mulai menunjukkan minat kembali pada pasar saham Indonesia. Data Bursa mencatat investor asing melakukan aksi beli bersih pada beberapa saham blue chip dan sektor energi.
Analis menilai valuasi pasar yang sudah murah menjadi daya tarik utama bagi investor asing untuk melakukan akumulasi. IHSG yang masih berada di level 5.900-an dinilai undervalued dibandingkan dengan target fundamental yang mencapai 7.000-8.000.
Proyeksi IHSG ke Depan
Untuk perdagangan-pekan mendatang, IHSG diperkirakan akan cenderung mixed dengan potensi penguatan terbatas. Level resistance terdekat berada di 6.000, sementara support di 5.850.
Katalis positif yang dapat mendorong IHSG lebih tinggi antara lain data inflasi yang terkendali, rilis laporan keuangan emiten semester I 2026 yang solid, serta kepastian arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
