Jakarta â Pasar saham Indonesia akhirnya bernapas lega. Setelah mengalami tekanan jual selama enam hari beruntun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses membukukan rebound signifikan sebesar 1,56% pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026, ditutup di level 6.186.
IHSG dibuka menguat 18,89 poin (0,31%) ke posisi 6.110 dan terus melanjutkan penguatan hingga menyentuh level tertinggi harian di 6.186. Posisi ini masih jauh dari level tertinggi tiga minggu lalu yang sempat menyentuh 6.340 pada 21 Juli 2026, namun cukup untuk menghentikan pendarahan setelah IHSG kehilangan hampir 4% nilainya dalam sepekan terakhir.
Koreksi Enam Hari Berakhir, Semua Sektor Hijau
đ Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun â Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun â Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an â Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Data historis menunjukkan IHSG mengalami penurunan berturut-turut sejak 23 Juli hingga 29 Juli 2026. Puncak tekanan terjadi pada Rabu (29/7) saat indeks menyentuh level terendah 6.029 di sesi I sebelum ditutup di 6.091 â level terendah dalam dua pekan terakhir. Secara mingguan, IHSG mencatat pelemahan hingga -3,55% dari posisi 6.315 pada 23 Juli.
Pada hari Kamis, seluruh sektor saham berhasil ditutup di zona hijau. Sektor barang konsumen non-primer memimpin penguatan, disusul oleh sektor teknologi dan sektor perbankan yang menjadi andalan indeks. Saham-saham blue chip seperti BBCA (Bank Central Asia) menjadi primadona aksi beli investor.
Investor Asing Kembali Net Buy, Borong Saham BBCA
Salah satu katalis utama rebound hari ini adalah kembalinya aliran modal asing. Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp262,80 miliar di seluruh pasar, setelah berhari-hari melakukan aksi jual besar-besaran yang turut menekan IHSG.
Saham BBCA menjadi yang paling banyak diborong asing pada sesi I perdagangan, diikuti oleh saham-saham likuid lainnya. Sebaliknya, saham TPIA (PT Chandra Asri Pacific Tbk) tercatat sebagai salah satu yang paling banyak dilepas asing di sesi awal, meskipun tekanan jual mulai mereda menjelang penutupan.
Data Bloomberg Technoz mencatat bahwa IHSG berhasil menguat di tengah lesunya bursa Asia lainnya, mengindikasikan adanya faktor domestik yang mendorong kepercayaan investor. Ekonom menilai rebound ini merupakan technical rebound yang wajar setelah koreksi dalam. Namun demikian, investor tetap diminta mencermati sentimen global, terutama keputusan suku bunga The Fed dan pergerakan nilai tukar rupiah.
Saham-Saham Pendorong dan Peristiwa Korporasi
Beberapa saham mencatatkan penguatan signifikan dan menjadi motor penggerak IHSG. Saham MDIA (PT Media Nusantara Citra Tbk) dilaporkan menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) pada perdagangan hari ini. Saham FAST (PT Fast Food Indonesia Tbk) juga turut melesat berkat sentimen positif di sektor konsumen.
Selain itu, saham emiten grup energi yang terafiliasi dengan pengusaha Haji Isam turut mendongkrak performa indeks di sesi pertama. Penguatan saham-saham ini mencerminkan optimisme investor terhadap prospek kinerja emiten di tengah ekspektasi perbaikan daya beli masyarakat.
Prospek Jumat: Akankah Rebound Berlanjut?
Para analis memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (31/7/2026), meskipun pergerakannya diperkirakan akan mixed seiring investor mencermati data ekonomi global. Level resistance terdekat berada di kisaran 6.200 â 6.220, sementara support berada di 6.050 â 6.091.
Secara fundamental, valuasi IHSG saat ini yang berada di level 6.100 â 6.200 dinilai masih cukup atraktif mengingat posisinya yang telah terkoreksi lebih dari 6% dari level tertinggi 52 minggu di 7.200-an (setelah stock split adjustment). Investor disarankan untuk mulai melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat dengan valuasi yang sudah murah, sembari tetap waspada terhadap potensi volatilitas jangka pendek.
Konfirmasi lebih lanjut dari pergerakan rupiah dan arus modal asing akan menjadi kunci apakah rebound ini bersifat sementara atau awal dari tren kenaikan baru.
