Emiten.org â Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Rabu (15/7/2026), ditutup naik tipis 2,45 poin atau 0,041% ke level 6.041,97. Ini merupakan hari kelima berturut-turut IHSG mencatatkan penguatan, menandai fase pemulihan setelah tekanan jual asing yang masif sepanjang tahun ini.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total volume perdagangan mencapai 28,7 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 11,7 triliun. Sebanyak 334 saham berhasil menguat, sementara 267 saham melemah dan 195 saham stagnan.
Sentimen Penggerak IHSG
đ Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun â Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun â Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an â Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Penguatan IHSG didorong oleh enam indeks sektoral yang menghijau, dipimpin oleh IDX Basic yang naik 0,76%, IDX Property sebesar 0,57%, dan IDX Cyclicals yang menguat 0,49%. Ekspektasi pelonggaran suku bunga The Fed menjadi katalis utama setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan penurunan pertama dalam enam tahun terakhir.
Dari dalam negeri, keputusan Standard & Poor's (S&P) yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di BBB dengan outlook stabil menjadi angin segar bagi pasar. Direktur Utama BEI menegaskan fundamental pasar keuangan Indonesia tetap kuat di tengah volatilitas global. Gubernur Bank Indonesia juga mengklaim independensi BI diakui dunia, tercermin dari rating S&P tersebut.
DBS Proyeksikan IHSG ke 8.000
Dalam riset terbarunya, DBS Bank menyampaikan optimisme terhadap prospek pasar saham Indonesia. Lembaga keuangan asing tersebut memproyeksikan IHSG berpotensi menuju level 8.000 pada akhir tahun 2026. Proyeksi ini didasarkan pada valuasi yang sudah murah pasca koreksi, prospek pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta potensi masuknya kembali dana asing setelah ketidakpastian global mereda.
Senada dengan DBS, sejumlah analis juga melihat momentum penguatan masih berlanjut dalam jangka pendek. Saham-saham berbasis komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi motor penggerak utama, sementara saham RANS tercatat melonjak 24,77% pada perdagangan hari ini.
Rupiah Menguat, Dana Asing Mulai Masuk
Di pasar valuta asing, rupiah terus menunjukkan penguatan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat di level Rp 18.060 - Rp 18.070, menguat signifikan dari posisi terendahnya di atas Rp 18.200 pekan lalu. Bank Indonesia mencatat aliran dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah mencapai Rp 105 triliun dalam beberapa pekan terakhir, menandakan kembalinya kepercayaan investor global.
Meski demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan bahwa masih ada risiko yang perlu diwaspadai, termasuk ketidakpastian perang dagang global dan kebijakan moneter negara maju. Sepanjang tahun ini, net sell asing di pasar saham Indonesia telah tembus Rp 91 triliun.
BEI Perketat Indeks dengan Metode Baru
Dalam upaya meningkatkan kualitas pasar, BEI baru-baru ini memperkenalkan metode baru berbasis Price Impact Ratio untuk mendeteksi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC). Sebanyak 37 saham baru masuk daftar HSC dan akan dilarang masuk indeks LQ45 dan IDX30. Langkah ini diharapkan meningkatkan kepercayaan investor dan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata internasional.
