IHSG Rebound Tipis di Sesi Pembukaan
📎 Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun — Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun — Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an — Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, dengan menguat 10,57 poin atau 0,17% ke level 6.141. Penguatan ini mengikuti rebound di pasar saham Asia setelah aksi jual besar-besaran pada sesi sebelumnya. Meski demikian, IHSG dengan cepat berbalik melemah dan diperdagangkan di kisaran 6.093 pada pertengahan sesi, mencerminkan sentimen pasar yang masih rapuh.
Penguatan tipis ini terjadi setelah IHSG ditutup di level 6.130 pada perdagangan Selasa dan sempat menyentuh level terendah dalam periode terakhir. Secara year-to-date, IHSG telah ambles sekitar 29%, menjadi salah satu indeks dengan performa terburuk di kawasan Asia.
Net Sell Asing Capai Rekor Rp94 Triliun
Salah satu faktor terbesar yang membebani IHSG adalah arus keluar modal asing yang masif. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, net sell investor asing telah mencapai Rp94 triliun sepanjang tahun 2026, rekor tertinggi dalam sejarah pasar saham Indonesia.
Investor asing terus melepas saham-saham blue chip unggulan, terutama di sektor perbankan dan infrastruktur, di tengah sentimen global yang tidak menentu. Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global, ketegangan perdagangan AS-Tiongkok, serta prospek suku bunga tinggi di Amerika Serikat mendorong investor global untuk menarik dana dari pasar emerging market termasuk Indonesia.
Aksi jual asing ini terjadi meskipun sekitar 80% emiten di bursa mencatatkan pertumbuhan laba pada semester I-2026, menunjukkan adanya disonansi antara fundamental korporasi dan sentimen pasar.
Antisipasi Keputusan Suku Bunga The Fed
Pasar sedang mencermati hasil Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Keputusan suku bunga acuan AS akan menjadi katalis penting bagi pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
Jika The Fed kembali mempertahankan suku bunga tinggi atau memberikan sinyal hawkish, tekanan terhadap rupiah dan IHSG berpotensi berlanjut. Sebaliknya, sinyal dovish dapat memicu relief rally di pasar saham Indonesia mengingat valuasi yang sudah sangat murah.
Kepala Riset beberapa sekuritas memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan volatilitas dalam jangka pendek dengan rentang support di 6.000 dan resistance di 6.250.
Rupiah Tertekan, BI Transisi
Selain tekanan dari eksternal, pasar keuangan Indonesia juga dihadapkan pada dinamika internal. Rupiah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, level terlemah dalam beberapa tahun terakhir. Pelemahan rupiah ini diperparah oleh situasi transisi kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) menyusul mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo.
Transisi kepemimpinan BI menimbulkan ketidakpastian di kalangan investor mengenai arah kebijakan moneter ke depan, terutama dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi.
Saham-saham yang Masih Menarik di Tengah Tekanan
Meskipun IHSG tertekan, beberapa sekuritas masih merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik di level harga saat ini. Reliance Sekuritas misalnya, menjagokan saham BNBR (Bakrie & Brothers) dan TINS (Timah) di tengah potensi penguatan komoditas.
Saham-saham sektor teknologi dan kesehatan juga mulai dilirik karena penurunan harga yang signifikan telah menciptakan valuasi yang lebih masuk akal. Sementara itu, investor tetap disarankan untuk menerapkan strategi akumulasi bertahap (dollar cost averaging) mengingat volatilitas yang masih tinggi.
Prospeke Jangka Pendek
Analis memperkirakan IHSG akan bergerak volatile dalam pekan ini dengan kecenderungan sideways menjelang pengumuman The Fed. Dari sisi teknikal, IHSG masih berada dalam zona oversold sehingga peluang technical rebound tetap terbuka. Namun, tanpa katalis positif yang kuat, pemulihan berkelanjutan diperkirakan membutuhkan waktu.
Support terdekat IHSG berada di level 6.000, sementara resistance di 6.250-6.300. Level psikologis 6.000 akan menjadi garis pertahanan krusial.
