IHSG kembali mencatatkan penguatan pada perdagangan Jumat (17/7/2026), menutup pekan dengan reli tujuh hari berturut-turut. Indeks ditutup naik 1,10% ke level 6.175,53, menjauhi level psikologis 6.000 yang sempat terancam beberapa pekan lalu. Pencapaian ini menjadi sinyal kuat bahwa investor mulai kembali percaya diri terhadap prospek pasar modal Indonesia.
Aksi beli investor asing menjadi katalis utama di balik penguatan ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), net foreign buy tercatat mencapai Rp638,6 miliar pada Jumat (17/7). Mayoritas dana asing tersebut dialokasikan ke saham-saham perbankan lapis satu alias big caps seperti BBCA, BBRI, dan BMRI. Saham perbankan kompak menghijau dan menjadi penopang utama indeks.
Saham Bank: Primadona Baru di Tengah Volatilitas Global
đ Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun â Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun â Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an â Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Sektor finansial, khususnya perbankan, mencatatkan lonjakan signifikan dalam beberapa hari terakhir. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,3%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 1,8%, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat naik 1,5%. Kenaikan ini tidak terlepas dari optimisme pasar terhadap prospek suku bunga dan likuiditas perbankan yang masih longgar.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya memastikan bahwa likuiditas perbankan masih terjaga dengan baik. Tingkat suku bunga INDONIA mengalami penurunan, dan BI terus melakukan ekspansi likuiditas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini memberikan ruang bagi bank untuk tetap agresif dalam menyalurkan kredit, yang pada akhirnya mendorong minat investor terhadap saham sektor perbankan.
Volume transaksi pada hari Jumat tercatat mencapai Rp16,14 triliun, jauh di atas rata-rata harian. Lonjakan volume ini mengonfirmasi bahwa partisipasi pasar benar-benar meningkat, bukan sekadar teknikal rebound semata.
Rupiah Menguat ke Rp17.885, Dolar AS Tertekan
Nilai tukar rupiah juga menunjukkan performa impresif dengan menguat 0,53% ke level Rp17.885 per dolar AS pada penutupan Jumat (17/7/2026). Ini menjadi level terkuat rupiah dalam beberapa pekan terakhir. Penguatan rupiah didorong oleh aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia serta sentimen positif dari kebijakan Bank Indonesia yang membatasi pembelian dolar AS maksimal US$10.000 per bulan per nasabah.
Kebijakan BI tersebut mulai menunjukkan efektivitasnya dalam menstabilkan nilai tukar. Para pelaku pasar menilai langkah BI cukup berani dan tepat sasaran untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah di tengah kuatnya dolar AS secara global.
ASII Buyback Rp8 Triliun, Suntik Sentimen Positif
Di sisi korporasi, PT Astra International Tbk (ASII) mendapatkan restu pemegang saham untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham senilai Rp8 triliun. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pekan ini.
Buyback saham oleh emiten konglomerasi ini dinilai sebagai sinyal positif bahwa manajemen ASII percaya harga sahamnya saat ini masih undervalued. ASII merupakan salah satu saham dengan bobot besar di IHSG, sehingga aksi korporasi ini turut berkontribusi pada penguatan indeks secara keseluruhan.
Investment Forum 2026: Kolaborasi Regulator-Pelaku Pasar
Pada hari yang sama, Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi tuan rumah Investment Forum 2026 yang dihadiri oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta para investor institusi dan ritel. Forum ini membahas peluang dan tantangan implementasi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
Kehadiran para pemangku kepentingan utama dalam forum ini memberikan kepastian dan kepercayaan tambahan bagi investor bahwa pasar modal Indonesia terus didukung oleh kebijakan yang pro-pertumbuhan. Beberapa poin penting yang mengemuka antara lain reformasi regulasi pasar modal, insentif bagi investor, dan rencana pembentukan Pusat Financial Internasional Indonesia (PFII) yang menawarkan pajak 0% selama 50 tahun.
Prospek IHSG Pekan Depan: Uji Level 6.200?
Setelah reli tujuh hari berturut-turut, pertanyaan besar kini tertuju pada keberlanjutan momentum. Secara teknikal, IHSG kini mendekati resistance psikologis di level 6.200. Jika mampu menembus level tersebut dengan volume yang solid, bukan tidak mungkin IHSG akan melanjutkan penguatan menuju level 6.300 - 6.400 dalam jangka pendek.
Namun demikian, investor tetap perlu mewaspadai beberapa risiko. Pertama, potensi profit taking setelah reli panjang. Kedua, ketidakpastian ekonomi global terutama dari kebijakan suku bunga The Fed dan tensi geopolitik. Ketiga, pergerakan harga komoditas yang masih fluktuatif.
Rekomendasi analis untuk pekan depan adalah tetap selective buying dengan fokus pada saham-saham big cap perbankan dan konsumer yang memiliki fundamental kuat. Sektor teknologi dan properti juga mulai menunjukkan potensi reversal yang menarik untuk dicermati.
