Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menorehkan rekor baru. Pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026, IHSG ditutup menguat 1,74% ke level 6.340. Pencapaian ini merupakan hari kesembilan berturut-turut IHSG parkir di zona hijau â sebuah reli panjang yang jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Kinerja IHSG Selama Reli 9 Hari
đ Baca Juga
- IHSG Dibuka Menguat ke 6.254 Lalu Sideways di 6.234, OJK Konfirmasi Rebound 10,51% Juli 2026 â Ini Potret Pasar Awal Agustus
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun â Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun â Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
Reli IHSG dimulai sejak pekan kedua Juli 2026. Dari level sekitar 6.037 pada 13 Juli, IHSG terus merangkak naik hingga menembus level psikologis 6.300 dan berakhir di 6.340 pada 21 Juli. Dalam sembilan hari tersebut, IHSG mencatat kenaikan total sekitar 5% â sebuah pencapaian impresif di tengah ketidakpastian global.
Pada perdagangan Selasa (21/7), IHSG dibuka hijau sejak sesi I dengan penguatan 1,41% ke level 6.319 di sesi I, lalu melanjutkan momentum ke 6.340 pada penutupan. Top gainers LQ45 antara lain DEWA, CUAN, dan AMMN.
Asing Net Buy Rp220 Miliar di Sesi I
Salah satu katalis utama reli IHSG adalah aksi beli investor asing. Pada sesi I perdagangan Selasa (21/7), tercatat investor asing melakukan net buy sebesar Rp220 miliar. Beberapa saham yang menjadi incaran asing antara lain saham perbankan big four dan saham blue chip sektor energi.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa aliran dana asing masuk sudah berlangsung selama sepekan terakhir, mencerminkan optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia di semester II-2026. Sentimen positif ini didorong oleh penguatan fundamental ekonomi, stabilitas politik, serta prospek hilirisasi yang terus berlanjut di bawah pemerintahan Prabowo.
Wall Street Mendukung Sentimen Global
Dari sisi global, Wall Street juga mencatatkan penguatan. Dow Jones Industrial Average naik 171,34 poin atau 0,33% ke level 52.010,60 pada perdagangan Selasa waktu New York. Reli saham teknologi dan rebound saham chip menjadi motor penggerak utama.
Pasar mencermati musim laporan keuangan kuartal II-2026, di mana Alphabet (Google) dan Intel akan merilis hasil laba mereka. Kinerja positif emiten teknologi AS diperkirakan turut mendorong sentimen risk-on di pasar global, termasuk Indonesia.
Panda Bond Perdana Indonesia dan PFII Jadi Sentimen Tambahan
Kabar positif datang dari Purbaya yang mengumumkan bahwa Panda Bond perdana Indonesia akan terbit pada 23 Juli 2026. Obligasi dalam mata uang yuan China tersebut telah mendapatkan rating tinggi dan ditargetkan menyerap dana hingga US$1 miliar.
Sementara itu, Otoritas Pengelolaan Investasi dan Industri (PFII) yang diresmikan pemerintah terus menjadi sorotan positif. Presiden Prabowo mengklaim Danantara DSI telah mengelola devisa US$10,5 miliar hanya dalam enam minggu beroperasi. PFII diyakini akan menjadi magnet baru bagi dana family office global yang ditaksir mencapai Rp61.250 triliun.
Rupiah Ditutup Perkasa di Rp17.880
Penguatan IHSG juga diiringi penguatan nilai tukar rupiah. Pada Selasa (21/7), rupiah ditutup perkasa di level Rp17.880 per dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang terkuat di kawasan Asia. Stabilitas rupiah didukung oleh cadangan devisa yang solid dan keyakinan pasar terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia.
Proyeksi Rabu (22/7): Waspadai RDG BI dan Profit Taking
Memasuki perdagangan Rabu (22/7), sejumlah analis memproyeksikan IHSG berpotensi kembali menguat, namun investor diminta mewaspadai aksi profit taking setelah reli panjang. Level resistance terdekat berada di 6.400, sementara support di 6.250.
Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 Juli 2026. Pasar menantikan keputusan suku bunga â apakah BI akan mempertahankan BI Rate di level saat ini atau menyesuaikan. Inflasi AS yang mereda turut memberi ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga.
S&P Global Ratings baru-baru ini mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil, menegaskan kondisi fiskal Indonesia yang solid. Hal ini juga memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Secara teknikal, IHSG berada dalam fase overbought setelah reli 9 hari beruntun. Investor disarankan untuk mencermati saham-saham yang secara fundamental masih solid dengan valuasi wajar, terutama di sektor perbankan (BBRI, BBCA, BMRI) serta sektor energi dan komoditas yang mendapat angin segar dari kenaikan harga komoditas global.
