Jakarta, 1 Oktober 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok kuat pada perdagangan Kamis, menyentuh level 5.900 untuk pertama kalinya sejak 10 Juli 2026. Pelemahan ini berpotong lintasan langsung dengan pelaksanaan reshuffle Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto, peristiwa yang menimbulkan pertanyaan tentang arah kebijakan dan stabilitas pasar modal. Di sisi makro, inflasi konsumen Indonesia pada September 2026 bertahan di 3,28 persen YoY, sekaligus membatasi ruang bagi Bank Indonesia untuk secara agresif menurunkan suku bunga. Kombinasi sentimen domestik yang berubah dan aliran dana asing yang keluar membuat IHSG kembali menguji dasbor teknis terendah dua bulannya.
Reshuffle Kabinet Jadi Pencetus IHSG ke Level Terendah Dua Bulan
📎 Baca Juga
Pada sesi kedua perdagangan, IHSG ditutup turun 1,02% ke 6.009,50 setelah sebelumnya anjlok lebih dari 1% secara intraday. Pada puncak tekanannya, indeks kembali menyentuh 5.973,16 — level terendah sejak 10 Juli 2026 — sebelum bersiap menuju gerbang psikologis 5.900. [Sumber: CNBC Indonesia, 1 Okt 2026]
Pemicu utama adalah pelantikan ulang sejumlah menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (1/10/2026). Para pelaku pasar membaca pergantian ini sebagai sinyal bahwa arah kebijakan—khususnya terkait regulasi pasar modal dan fiskal—baru saja disegarkan, sehingga menambah ketidakpastian jangka pendek. Perubahan kunci adalah:
* Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan, menggantikan Jenderal TNI Dudung Abdurachman. * Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto naik ke posisi Kapolri. * Seknas Bahlil Lahadalia dialihkan menjadi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Energi.
Dari sudut pandang pasar, reshuffle ini memicu repositioning cepat: investor asing dan dana domestik menunggu konkritasi kebijakan baru, sementara volatilitas sektor saham dan utilitas mengukuhkan tekanan jual. IHSG berkibar di rentang sempit 5.973–6.095, menandakan likuiditas tetap cukup namun sentimen rawan.
Penjualan Asing Rp204 Miliar dan Sektor Mana yang Ditekan
Tekanan jual asing terukur jelas pada sesi I: investor luar negeri mencatatkan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp204,30 miliar, dengan total pembelian mencapai Rp1,70 triliun namun penjualan lebih tinggi di Rp1,90 triliun. [Sumber: CNBC Indonesia] Lima saham pemberat menonjolkan jual bersih terbesar:
| Saham | Net Foreign Sell |
| GOTO (GoTo) | Rp62,77 miliar |
| CUAN (Petrindo) | Rp29,52 miliar |
| AMMN (Amman Mineral) | Rp24,55 miliar |
| BBRI (Bank Rakyat Indonesia) | Rp19,80 miliar |
| MDKA (Merdeka Copper Gold) | Rp19,54 miliar |
Pola ini konsisten dengan dinamika "risk-off": saat aliran dana asing kembali, pilihan jatuh pada sekuritas yang paling likuid dan paling tidak sensitif — biasanya saham keuangan dan infrastruktur — sementara value dan komoditas berpaparan langsung terjual lebih cepat. GOTO, yang baru saja mengakhiri fase pertumbuhan penggabungan Gojek-Tokopedia, menjadi simbol utama repositioning tersebut.
Inflasi 3,28% dan Stabilitas Rupiah di Bentang Rahasia BI
Sepanjang September 2026, tingkat inflasi tahunan (YoY) Indonesia tiba di 3,28 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 108,74 pada September 2025 ke 112,31 pada September 2026. [Sumber: ANTARA/BPS] Peningkatan IHK didorong terutama oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Secara tahun kalender (YTD) inflasi tercatat 2,17%, sementara month-to-month (MTM) sebesar 0,30%.
Laju inflasi di atas sasaran kemudi Bank Indonesia (3%-3,5%) memberdayakan argumen agar BI Rate dipertahankan pada 5,75% — konsensus pasar saat RDG September, yang kini masuk ke agenda evaluasi Oktober. Di sisi lain, Federal Reserve baru saja menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin ke 4,00%, sehingga spread antara BI Rate dan FFR membesar kembali ke 1,75% dari 2% sebelumnya. [Sumber: ANTARA] Spread yang masih relatif lebar (rata-rata tiga tahun terakhir 0,75–1,25%) dianggap cukup untuk menopang stabilisasi rupiah, melainkan bila rupiah melemah secara berkelanjutan.
Sentimen eksternal menambah dimensi ketegangan: penguatan manufaktur China, inflasi PCE AS yang lebih rendah dari ekspektasi, dan revisi naik pertumbuhan ekonomi AS secara bersamaan menciptakan cross-current bagi aliran modal ke pasar berkembang seperti Indonesia.
Apa yang Perlu Dipantau di Sisa Oktober?
Tiga faktor saja akan menjadi kompas IHSG ke depan. Pertama, hasil RDG Bank Indonesia Oktober — pasar konsensus menilik pada "hold" bila inflasi dan rupiah tidak mengalami guncangan baru. Kedua, aliran alokasi ulang pasca-reshuffle, khususnya perubahan kebijakan yang berpotensi memengaruhi emiten infrastruktur dan energi. Ketiga, data ekspor-impor serta PMI manufaktur yang akan memperbarui narasi pertumbuhan. Untuk sekarang, IHSG kembali berada pada fase konsolidasi tekanan jual, dan investor dihorman agar menjaga eksposur sambil menunggu kejelasan dari sebenarnya.
