IPO BACH: Emiten Infrastruktur Afiliasi Djarum Melantai di BEI
đ Baca Juga
Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali kedatangan emiten baru di sektor infrastruktur. PT Bach Multi Global Tbk (BACH), perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi dan penyediaan genset, resmi menggelar penawaran umum perdana (IPO) dengan rentang harga Rp400 hingga Rp500 per saham. Yang menarik, BACH merupakan bagian dari ekosistem bisnis Grup Djarum, salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia.
BACH memiliki lini usaha yang terdiversifikasi dalam ekosistem infrastruktur telekomunikasi. Perusahaan menyediakan layanan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jaringan telekomunikasi, serta penyewaan dan penjualan genset untuk mendukung operasional menara telekomunikasi di seluruh Indonesia. Dengan booming kebutuhan konektivitas digital, positioning bisnis BACH dinilai strategis.
Kinerja Keuangan dan Valuasi BACH
Berdasarkan prospektus yang dirilis, BACH menawarkan saham perdana dengan valuasi yang kompetitif di kisaran price-to-earnings ratio (PER) yang menarik untuk sektor infrastruktur. Dana hasil IPO akan digunakan untuk ekspansi bisnis, termasuk penambahan armada genset, pengembangan infrastruktur jaringan, dan modal kerja untuk proyek-proyek baru.
Dengan dukungan Grup Djarum yang memiliki rekam jejak panjang di dunia bisnis Indonesia â termasuk kepemilikan di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan berbagai perusahaan strategis lainnya â investor mencermati IPO BACH dengan minat yang tinggi. Konglomerasi Djarum dikenal mampu memberikan nilai tambah signifikan bagi entitas bisnis dalam ekosistemnya.
Sektor Konstruksi 2026: Masih Tertekan
Di sisi lain, IPO BACH hadir dalam lanskap sektor infrastruktur dan konstruksi yang belum sepenuhnya pulih. Data dan analisis pasar menunjukkan bahwa kinerja sektor konstruksi sepanjang 2026 masih menghadapi tekanan berat. Beberapa faktor utama yang membebani antara lain:
- Tantangan Eksekusi Proyek: Banyak proyek infrastruktur besar yang mengalami keterlambatan akibat kompleksitas pembebasan lahan dan rantai pasok material.
- Beban Biaya yang Meningkat: Inflasi biaya material konstruksi dan tenaga kerja menekan margin keuntungan kontraktor.
- Suku Bunga Tinggi: BI Rate yang masih elevated meningkatkan cost of fund bagi perusahaan konstruksi yang umumnya memiliki leverage tinggi.
Prospek BACH: Infrastruktur Digital vs Konstruksi Fisik
Menariknya, BACH berada di persimpangan antara sektor infrastruktur digital yang sedang booming dan sektor infrastruktur fisik yang sedang tertekan. Fokus BACH pada infrastruktur telekomunikasi memberikan eksposur ke pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai ratusan miliar dolar AS pada 2030.
Permintaan akan genset dan infrastruktur pendukung telekomunikasi terus meningkat seiring ekspansi jaringan 4G dan 5G oleh operator seluler besar seperti Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata. Selain itu, program pemerataan akses internet di daerah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal) membuka peluang kontrak jangka panjang bagi BACH.
Analis menilai bahwa IPO BACH menawarkan proposisi investasi yang unik: eksposur ke pertumbuhan digital dengan valuasi yang lebih terjangkau dibandingkan emiten teknologi murni. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko eksekusi dan ketergantungan pada klien-klien besar di sektor telekomunikasi.
