Bank Indonesia (BI) mencatat keberhasilan signifikan dalam upaya menarik kembali arus modal asing ke pasar keuangan Tanah Air. Melalui kebijakan moneter yang agresif, BI berhasil membalikkan outflow yang terjadi di kuartal I-2026 menjadi inflow besar-besaran di semester kedua.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan hal ini dalam acara Investment Forum 2026 yang diselenggarakan CNBC Indonesia di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (15/7/2026). Menurutnya, ketidakpastian global yang tinggi menjadi pemicu utama arus modal asing keluar di awal tahun, terutama di pasar saham.
"Kami melihat karena memang persepsi sehingga menyebabkan risk premi meningkat di RI," jelas Destry di hadapan para pelaku pasar dan investor.
Menghadapi tekanan tersebut, BI mengambil langkah tegas dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 100 basis poin (bps) dalam periode Mei hingga Juni 2026. Langkah frontloading ini bertujuan untuk melakukan repricing terhadap portofolio pasar uang Indonesia, termasuk SBN dan SRBI, sekaligus mengantisipasi inflasi ke depan.
Strategi Repricing yang Membuahkan Hasil
đ Baca Juga
- Rupiah Menguat 2 Hari Beruntun ke Rp17.980, Ditopang Deflasi Juli yang Melandai ke 2,88% â Bisa Lanjut?
- Outstanding Pinjol Tembus Rp1.012 Triliun, OJK Hentikan 951 Entitas Ilegal â Potret Industri Fintech Lending RI 2026
- Rupiah Lolos dari Rp18.000-an, Ditutup Perkasa di Rp17.990/US$ â Ini Pendorong dan Peluangnya
Keputusan BI untuk menaikkan suku bunga terbukti efektif. Data BI menunjukkan bahwa telah terjadi arus masuk (inflow) yang signifikan di instrumen SBN dan SRBI sejak kebijakan tersebut diterapkan.
Pada periode Juni hingga awal Juli 2026, SBN mencatat inflow sebesar Rp33 triliun, sementara SRBI mencatat inflow sebesar Rp72 triliun. Total keseluruhan mencapai Rp105 triliun dalam waktu kurang dari satu setengah bulan.
Secara kumulatif sejak awal tahun, Destry memaparkan bahwa inflow SBN tercatat sebesar Rp17,7 triliun, meskipun sempat mengalami outflow negatif di kuartal I. Sementara itu, SRBI mencatat inflow kumulatif yang jauh lebih besar, mencapai Rp174 triliun. Di pasar saham, repricing juga berhasil menarik inflow sebesar Rp132 triliun.
"Ini mendasari juga kami lakukan keputusan itu karena harus ada repricing asset portofolio kita (melalui BI Rate)," tegas Destry.
Pentingnya Anchoring Persepsi Pasar
Dalam kesempatan yang sama, Destry menekankan bahwa ketika terjadi outflow, langkah pertama yang harus dilakukan BI adalah menjaga persepsi pasar (anchoring). Upaya ini harus bersifat frontloading â dilakukan lebih awal dan agresif â untuk mengantisipasi kondisi ke depan.
"Kebijakan frontloading ini penting untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi, termasuk tekanan inflasi yang mungkin timbul," paparnya.
Strategi ini sejalan dengan praktik bank sentral di berbagai negara yang menghadapi tekanan serupa. Dengan menaikkan suku bunga lebih awal dan lebih besar, BI memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa Indonesia siap menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi.
S&P Pertahankan Rating Investment Grade
Keputusan BI ini juga didukung oleh sentimen positif dari lembaga pemeringkat internasional. S&P Global Ratings baru-baru ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook stabil.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai keputusan S&P tersebut lebih fair dibandingkan lembaga pemeringkat lainnya yang merevisi outlook Indonesia menjadi negatif sebelum data ekonomi kuartal I-2026 dirilis.
"Saya sudah bilang berkali-kali, lembaga-lembaga sebelumnya yang lain, ada kemungkinan mereka offside karena mereka melakukan assessment sebelum data triwulan pertama keluar. Jadi ini S&P yang lebih fair saya pikir," ungkap Purbaya.
Dampak bagi Pasar Obligasi dan Investor
Inflow dana asing sebesar Rp105 triliun dalam waktu singkat memberikan dampak positif bagi pasar obligasi Indonesia. SBN dan SRBI yang mengalami repricing menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif di tengah ketidakpastian global.
Bagi investor ritel, kondisi ini menjadi momentum untuk mulai melirik instrumen pendapatan tetap. Dengan suku bunga yang lebih tinggi dan prospek penguatan rupiah, SBN dan SRBI menawarkan alternatif investasi yang menarik di tengah volatilitas pasar saham.
Ke depan, BI diproyeksikan akan terus memantau perkembangan global dan domestik untuk menentukan langkah kebijakan selanjutnya. Jika tekanan inflasi global mereda dan arus modal asing terus mengalir masuk, bukan tidak mungkin BI akan mulai melakukan pelonggaran moneter secara bertahap.
