Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
Rupiah & BI netral ⏱ 6 menit

Kredit Nganggur Capai Rp2,548 Triliun, Dana Perbankan Masih Lari ke SBN dan SRBI

Kredit Nganggur Capai Rp2,548 Triliun, Dana Perbankan Masih Lari ke SBN dan SRBI
Bundaran Bank Indonesia panorama, Wikimedia Commons, CC BY-SA

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa kredit nganggur (undisbursed loan) mencapai Rp2.548 triliun pada Juli 2026. Dua faktor utama: permintaan kredit sektor swasta yang belum pulih sepenuhnya dan strategi perbankan menempatkan likuiditas di SBN dan SRBI. Untuk mempercepat alokasi kredit, BI menerapkan insentif Giro Wajib Minimum (GWM). Pertumbuhan kredit Agustus 2026 tetap kuat di 13,6% yoy, didorong kredit investasi dan modal kerja ke sektor produktif.

Jakarta, Emiten.org — Kredit nganggur — atau kredit yang telah disetujui namun belum disalurkan oleh perbankan — kembali mendapat sorotan publik setelah Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkapkan angka Rp2.548 triliun pada Juli 2026. Dua hari setelah pertemuan tingkat tinggi dengan Menteri Keuangan Suahasil Nazara untuk mengkoordinasikan likuiditas dan strategi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), BI menjelaskan bahwa ukuran besarnya kredit nganggur dipengaruhi oleh permintaan (demand) yang belum pulih sepenuhnya sekaligus strategi penawaran (supply) perbankan yang cenderung menempatkan likuiditas di instrumen pemerintah dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

\n\n

Dua Penyumbang Utama: Government-Led Masih Dominan, Swasta Perlu Bangun

📎 Baca Juga

\n\n

Dari sisi permintaan, Destry menilai pertumbuhan kredit pada semester I-2026 masih banyak ditopori oleh belanja dan proyek pemerintah. Sementara itu, permintaan pembiayaan dari sektor swasta dinilai belum cukup kuat untuk menyerap seluruh fasilitas kredit yang telah disiapkan perbankan.

\n\n

"Kenapa undisbursed loan-nya masih di level Rp2.500-an triliun? Dari sisi demand, memang kalau kita lihat pertumbuhan kredit ini hingga kuartal II itu masih banyak didrive oleh government-led," ujar Destry dalam konferensi pers selepas high level meeting dengan Menteri Keuangan di Kantor BI, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

\n\n

Meski demikian, BI mulai melihat tanda-tanda perbaikan. Menurut Destry, permintaan kredit dari sektor swasta perlahan meningkat seiring membaiknya aktivitas dunia usaha. Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa roda ekonomi mulai bergerak lebih merata dan tidak lagi hanya bergantung pada belanja pemerintah.

\n\n

Mengapa Dana Perbankan Lari ke SBN dan SRBI?

\n\n

Di sisi lain, dari sisi penawaran, sejumlah perbankan sebelumnya lebih memilih menempatkan dana pada instrumen surat berharga ketimbang menyalurkannya menjadi kredit. Instrumen yang menjadi tujuan penempatan likuiditas tersebut antara lain Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pilihan ini memperlebar celah kredit nganggur, karena dana yang seharusnya mendukung kredit riil justru terjaringkait pada pasarnya sendiri.

\n\n

Strategi ini dipahami sebagai upaya perbankan untuk mendapatkan yield yang relatif aman dan likuid, terutama di tengah ketidakpastian yield global yang masih tinggi. Namun, hal ini justru menambah beban bagi pemerintah yang ingin mendorong kredit produktif agar menyuplai sektor riil dan mendorong ekspansi usaha.

\n\n

Insentif GWM: Cara BI “Mendorong” Bank Menyalurkan Kredit

\n\n

Untuk mengubah perilaku tersebut, Bank Indonesia menerapkan skema insentif dan disinsentif melalui Giro Wajib Minimum (GWM). Bank yang terlalu besar menempatkan likuiditasnya pada surat berharga tidak akan memperoleh insentif GWM, sedangkan bank yang agresif menyalurkan kredit berpotensi mendapatkan pengurangan kewajiban GWM.

\n\n

"Kita melihat mana bank-bank yang menyalurkan kredit padahal memiliki likuiditas. Jadi kita tahu memang Himbara sekarang yang paling aktif, tapi kita juga melihat ada beberapa bank yang demand-nya sudah mulai ada," kata Destry. Langkah ini diharapkan mendorong tambahan likuiditas di sektor perbankan yang kemudian kembali mengalir ke dunia usaha dalam bentuk kredit.

\n\n

Sistem insentif GWM ini selaras dengan koordinasi moneter-fiskal yang digerakkan Kemenkeu dan BI pada pertemuan high level meeting, di mana kedua otoritas sepakat menjaga agar biaya pinjaman pemerintah dan dukungan likuiditas tidak memicu volatilitas yang berlebihan.

\n\n

Pertumbuhan Kredit Tetap Kuat di 13,6% YoY, Bergeser ke Sektor Produktif

\n\n

Di tengah masih tingginya kredit nganggur, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit mulai menunjukkan tren yang lebih positif. Pada Agustus 2026, kredit perbankan tumbuh 13,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), terutama ditopori oleh kredit investasi dan kredit modal kerja yang mengalir ke sektor-sektor produktif.

\n\n

Menurut Destry, komposisi pertumbuhan kredit tersebut menjadi sinyal yang menguntungkan karena menunjukkan pembiayaan semakin banyak digunakan untuk aktivitas yang mampu menambah kapasitas produksi dan mendorong ekspansi usaha, bukan sekadar menutupi tagihan pemerintah.

\n\n

"Sebenarnya ini hal yang bagus karena artinya pertumbuhan kredit itu masuk ke sektor produktif. Jadi ini bagi kami menjadi suatu sinyal juga bahwa aktivitas ekonomi terus berputar dengan kapasitas produksinya yang menambah karena ada kredit investasi tadi," pungpasnya.

\n\n

Menjelang sisa 2026, BI memproyeksikan pertumbuhan kredit tetap terjaga pada kisaran 8-12% YoY, didukung oleh insentif GWM dan pemulihan permintaan sektor swasta yang dilaporkan.

\n\n

Referensi harga pada akhir September 2026: kredit nganggur Rp2.548 triliun (Juli 2026), pertumbuhan kredit 13,6% YoY (Agustus 2026), BI Rate 5,75%.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa besar kredit nganggur (undisbursed loan) di Indonesia pada Juli 2026?

Pada Juli 2026, kredit nganggur mencapai Rp2.548 triliun, sesuai pengungkapan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam konferensi pers pada 24 September 2026.

Mengapa kredit nganggur masih tinggi meskipun pertumbuhan kredit kuat di 13,6% YoY?

Karena pertumbuhan kredit masih didorong government-led (belanja dan proyek pemerintah) dan permintaan sektor swasta belum pulih sepenuhnya. Di sisi lain, perbankan cenderung menempatkan likuiditas di SBN dan SRBI sebagai instrumen yang lebih aman, sehingga dana tidak sepenuhnya mengalir ke kredit riil.

Apa itu insentif GWM dan bagaimana cara kerjanya?

Giro Wajib Minimum (GWM) adalah kebijagan Bank Indonesia. Bank yang menempatkan likuiditasnya pada surat berharga tidak memperoleh insentif GWM, sementara bank yang agresif menyalurkan kredit dapat mendapatkan pengurangan kewajiban GWM. Skema ini mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor riil.

Apakah masih ada ruang bagi perbankan menempatkan dana di SBN?

Ya, perbankan tetap dapat mengakses SBN dan SRBI. Namun, BI menambah disinsentif melalui GWM agar penempatan likuiditas tidak dominan di instrumen pemerintah, sekaligus menyeimbangkan dengan dukungan kredit produktif ke sektor swasta.

Bagaimana prospek kredit di sisa 2026?

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12% YoY, didukung oleh insentif GWM dan pemulihan permintaan kredit sektor swasta yang perlahan membaik.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter