Ledakan Pasar IoT di Indonesia
đ Baca Juga
Berdasarkan laporan Digital 2025 yang disusun We Are Social dan Meltwater, jumlah rumah di Indonesia yang menggunakan perangkat smart home telah mencapai 6,9 juta unit pada awal 2025. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar smart home dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.
Peningkatan adopsi perangkat IoT tidak hanya terjadi di segmen rumah tangga, tetapi juga merambah sektor industri, logistik, dan perkantoran. Asosiasi IoT Indonesia (Asioti) menilai bahwa kebutuhan efisiensi energi, keamanan, dan kemudahan operasional menjadi pendorong utama pertumbuhan ini.
Emiten Teknologi yang Diuntungkan
Salah satu emiten yang paling prospektif di sektor ini adalah PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP). Dalam paparan publik terbaru, manajemen CHIP mengungkapkan strategi ekspansi ke pasar Afrika dan pengembangan produk embedded SIM (eSIM) sebagai andalan bisnis.
CHIP juga tengah mengembangkan platform roaming berbasis aplikasi Koneqo serta layanan manajemen kehadiran berbasis cloud. Perusahaan mengalokasikan belanja modal atau capex hingga Rp 8 miliar pada 2026, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya karena kebutuhan investasi utama telah diselesaikan.
Produsen Elektronik dan Ekosistem Smart Home
LG Electronics Indonesia menjadi salah satu pemain utama dengan konsep LG AI Home yang menghubungkan berbagai perangkat rumah tangga melalui platform LG ThinQ. Mulai dari televisi, kulkas, mesin cuci, hingga pemurni udara, semua dapat diakses melalui satu aplikasi.
Presiden LG Electronics Indonesia, Ha Sang-chul, menyatakan bahwa perusahaan terus mengembangkan perangkat rumah tangga yang saling terhubung untuk mengikuti perubahan kebutuhan konsumen. Persaingan kini tidak hanya pada spesifikasi produk, tetapi pada kemampuan menawarkan ekosistem perangkat yang terintegrasi.
Regulasi Pemerintah dan Dukungan Digitalisasi
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital terus mendorong percepatan transformasi digital nasional. Regulasi penggunaan eSIM yang semakin longgar menjadi angin segar bagi pengembangan produk-produk IoT. Selain itu, pembangunan infrastruktur digital di daerah tertinggal turut memperluas pasar potensial.
Dari sisi demand, meningkatnya penetrasi internet dan smartphone menjadi katalis utama. Data We Are Social menunjukkan pengguna internet di Indonesia telah melampaui 230 juta jiwa pada awal 2026, menciptakan basis konsumen yang masif untuk produk smart home.
Prospek Saham Teknologi 2026
Analis menilai bahwa sektor teknologi masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar di Indonesia. Namun, investor perlu tetap mencermati faktor valuasi dan fundamental. CHIP yang bergerak di solusi telekomunikasi dan IoT dinilai memiliki prospek cerah dengan ekspansi pasar globalnya.
Sementara itu, emiten teknologi besar seperti GOTO masih tertekan di level Rp 50an, namun beberapa value hunter mulai meliriknya. Saham-saham seperti SOCI dan MLPT juga menjadi perhatian dengan prospek pemulihan di semester II 2026.
Risiko yang Perlu Dicermati
Meskipun prospeknya cerah, sektor teknologi tetap menghadapi risiko pelemahan daya beli masyarakat. Tekanan inflasi dan suku bunga tinggi dapat menghambat adopsi perangkat smart home yang masih tergolong mahal bagi segmen menengah ke bawah.
Di sisi lain, persaingan ketat dari produk impor dan ketergantungan pada komponen semikonduktor global menjadi tantangan tersendiri. Investor perlu memantau perkembangan rantai pasok global dan kebijakan tarif yang diterapkan negara mitra dagang.
