IHSG kembali menunjukkan performa impresif dalam beberapa pekan terakhir. Pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,74% ke level 6.340, menandai 9 hari perdagangan beruntun di zona hijau. Penguatan ini didorong oleh optimisme investor terhadap valuasi saham Indonesia yang dinilai murah serta mulai kembalinya minat investor asing ke pasar saham domestik.
Namun di balik rally ini, para analis mengingatkan bahwa tantangan besar masih membayangi pasar saham Indonesia di semester kedua 2026. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam riset terbarunya yang dirilis Selasa (21/7/2026) memaparkan pandangan komprehensif mengenai prospek IHSG ke depan.
"Perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada momentum rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten di tengah tantangan makro yang masih berlangsung," ujar Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Ancaman The Fed Higher for Longer
📎 Baca Juga
- IHSG Dibuka Menguat ke 6.254 Lalu Sideways di 6.234, OJK Konfirmasi Rebound 10,51% Juli 2026 — Ini Potret Pasar Awal Agustus
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun — Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun — Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
Tantangan utama pasar semester II 2026 masih berasal dari kebijakan moneter global. Mirae Asset memperkirakan Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga acuan masing-masing 25 basis poin (bps) pada September dan Desember 2026. Dengan demikian, kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) diperkirakan masih akan berlanjut.
"Kondisi higher for longer membuat likuiditas dolar AS semakin ketat sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi dan potensi twin deficit, ruang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin terbatas," jelas Rully.
Revisi Proyeksi Ekonomi
Sejalan dengan kondisi tersebut, Mirae Asset merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8% pada 2026 dan 4,9% pada 2027, dari proyeksi sebelumnya masing-masing 5,0% dan 5,1%. Revisi ini didasarkan pada melemahnya permintaan domestik, kondisi eksternal yang kurang kondusif, serta kebijakan moneter global yang masih ketat.
Sementara itu, inflasi diperkirakan mencapai 4,0% pada 2026 sebelum kembali ke kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5%–3,5% pada 2027. Ini menjadi perhatian penting bagi investor obligasi dan saham berbasis konsumsi.
Status Emerging Market MSCI Jadi Katalis Positif
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin menambahkan, keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market menjadi katalis positif yang mengurangi ketidakpastian pasar, meskipun masih dalam masa pemantauan hingga November 2026.
"Status Indonesia sebagai Emerging Market tetap terjaga, meski bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi sekitar 0,4% pada Juni 2026 dari 1,2% pada akhir 2025, seiring berkurangnya kepemilikan investor asing dan arus keluar dana dari pasar saham Indonesia," ujar Wilbert.
Sebelum keputusan tersebut diumumkan, pasar sempat mengantisipasi risiko reklasifikasi Indonesia menjadi Frontier Market yang berpotensi memicu arus keluar dana bersih hingga sekitar Rp80 triliun. Dengan status Emerging Market yang tetap dipertahankan, risiko tersebut pun mereda.
"Net outflow asing masih didominasi dana yang mengacu pada indeks (index linked funds), sementara investor strategis tetap mempertahankan eksposurnya pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Dengan valuasi pasar yang berada pada level terendah dalam satu dekade, peluang kembalinya aliran dana asing ke pasar saham domestik tetap terbuka," jelas Wilbert.
7 Rekomendasi Saham Pilihan Mirae Asset
Meskipun dihadapkan pada tantangan global, Mirae Asset tetap merekomendasikan sejumlah saham pilihan yang dinilai memiliki fundamental kuat dan prospek menarik:
- BBCA (PT Bank Central Asia Tbk) — Top pick di sektor perbankan, dengan likuiditas solid dan kualitas aset terbaik.
- BRIS (PT Bank Syariah Indonesia Tbk) — Bank syariah terbesar dengan pertumbuhan pembiayaan yang agresif.
- ADRO (PT Adaro Energy Indonesia Tbk) — Emiten batu bara dengan diversifikasi ke bisnis hijau.
- TLKM (PT Telkom Indonesia Tbk) — Raja telekomunikasi dengan prospek data center dan digital.
- EXCL (PT XL Axiata Tbk) — Operator telekomunikasi dengan sinergi Smartfren.
- JPFA (PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk) — Emiten pakan ternak dan poultry terintegrasi.
- CMRY (PT Cisarua Mountain Dairy Tbk) — Emiten susu dan produk olahan dengan pertumbuhan stabil.
- INKP (PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk) — Emiten pulp dan kertas dengan prospek ekspor cerah.
Prospek IHSG ke Depan
Meskipun IHSG telah menguat signifikan dalam 9 hari beruntun, potensi profit taking tetap perlu diwaspadai. Level resistance terdekat berada di kisaran 6.400–6.500. Namun, faktor-faktor seperti musim laporan keuangan emiten kuartal II-2026, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kepastian arah kebijakan dinilai dapat menopang pemulihan pasar secara bertahap.
Sebagai informasi, dalam sepekan terakhir IHSG mencatatkan penguatan lebih dari 4% dengan investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) di pasar reguler. Sektor keuangan dan energi menjadi motor utama penguatan, diikuti oleh sektor infrastruktur dan teknologi.
Dengan valuasi yang masih berada di level terendah dalam satu dekade terakhir, banyak analis melihat bahwa risiko downside sudah cukup terbatas, menjadikan momen ini menarik untuk akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat.
