BI Diprediksi Kembali Tahan Suku Bunga Acuan di 6,50%
đ Baca Juga
- BEI Perbarui Notasi Khusus Saham, Kini Ada Penanda 'P' untuk Emiten Free Float Kurang
- IHSG Dibuka Menguat ke 6.254 Lalu Sideways di 6.234, OJK Konfirmasi Rebound 10,51% Juli 2026 â Ini Potret Pasar Awal Agustus
- Rupiah Menguat 2 Hari Beruntun ke Rp17.980, Ditopang Deflasi Juli yang Melandai ke 2,88% â Bisa Lanjut?
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada pertengahan Juli 2026 diperkirakan akan kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 6,50%. Keputusan ini sejalan dengan konsensus pasar dan langkah BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Keputusan menahan suku bunga juga didukung oleh data inflasi yang terkendali. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat di level 3,2% year-on-year, masih dalam sasaran inflasi BI sebesar 1,5-3,5%. Inflasi inti yang lebih stabil di kisaran 2,8% memberikan ruang bagi BI untuk tidak menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas Utama BI
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih menjadi perhatian utama BI. Sepanjang semester I 2026, rupiah bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS. Meskipun sempat tertekan oleh penguatan dolar global dan ketegangan geopolitik, rupiah menunjukkan ketahanan berkat intervensi BI di pasar valas dan penerbitan Sekuritas Rupiah BI (SRBI) yang menarik aliran modal asing.
BI juga terus memperkuat cadangan devisa yang saat ini berada di level sekitar US$145 miliar, cukup untuk membiayai 6,5 bulan impor. Ketahanan eksternal ini menjadi bantalan bagi stabilitas rupiah ke depan.
Dampak ke IHSG: Sektor Perbankan Diuntungkan, Obligasi Pemerintah Stabil
Keputusan BI menahan suku bunga memberikan dampak positif bagi IHSG, khususnya sektor perbankan. Dengan suku bunga tinggi yang bertahan, spread bunga bersih (NIM) perbankan tetap terjaga. Bank-bank besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI diproyeksikan mencatatkan kinerja stabil di kuartal II 2026.
Namun, sektor properti dan konsumen yang sensitif terhadap suku bunga mungkin masih menghadapi tekanan. Tingginya suku bunga kredit mempengaruhi daya beli masyarakat dan permintaan KPR, meskipun program KPR bersubsidi pemerintah memberikan sedikit bantalan.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan bertahan di level 7,0-7,5%, menarik bagi investor asing yang mencari yield tinggi di tengah suku bunga global yang mulai melandai.
Proyeksi Suku Bunga ke Depan: Peluang Penurunan di Akhir 2026
Meskipun suku bunga ditahan di Juli 2026, pasar memperkirakan BI akan mulai melonggarkan kebijakan moneter pada kuartal IV 2026. Hal ini sejalan dengan proyeksi The Fed yang diperkirakan akan memangkas suku bunga acuannya sebanyak 1-2 kali di semester II 2026.
Jika penurunan suku bunga terjadi, IHSG diperkirakan akan mendapat katalis positif yang signifikan. Sektor properti, konsumen, dan teknologi diprediksi menjadi yang paling diuntungkan karena biaya pendanaan yang lebih murah dan peningkatan daya beli masyarakat.
Beberapa ekonom memproyeksikan BI rate bisa turun 50-75 basis poin pada akhir 2026, yang akan membawa suku bunga acuan ke level 5,75-6,00%.
Strategi Investasi di Tengah Suku Bunga Tinggi
Bagi investor, kondisi suku bunga tinggi saat ini memberikan peluang di instrumen pendapatan tetap seperti obligasi pemerintah dan deposito. Sementara di pasar saham, sektor perbankan dan komoditas dinilai lebih defensif karena margin yang tetap terjaga.
Investor dengan horizon jangka panjang dapat mulai melakukan akumulasi saham sektor siklikal seperti properti dan konsumen yang valuasinya sudah turun signifikan, dengan ekspektasi penurunan suku bunga di akhir tahun.
