Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi September 2026 pada Rabu–Kamis, 23–24 September mendatang. Keputusan suku bunga yang akan diumumkan bukan sekadar angka: ini merupakan debut perdana Destry Damayanti sebagai Gubernur BI definitif usai dilantik pada 2 September 2026, menggantikan Perry Warjiyo setelah satu dekade memimpin bank sentral terbesar di Asia Tenggara itu.
Pasar masuk ke pekan krusial ini dengan kondisi yang serba berat. IHSG masih bertengger di zona lemah di level 6.441,16 (18/9/2026), melemah 1,53% sepanjang pekan lalu. Rupiah pun masih tertekan di posisi Rp17.740/US$ per Jumat (20/9/2026), melemah 0,82% sepekan—jauh dari level psikologis Rp17.500 yang sempat disentuh pertengahan Agustus.
The Fed Balik Arah, Picu Gelombang Baru di Pasar Asia
📎 Baca Juga
- Rupiah Menguat ke Rp17.685 di Akhir Pekan, Kepastian Gubernur BI Kalahkan Penguatan Dolar AS
- BI Serap Rp24 Triliun dari Lelang SRBI, Imbal Hasil Turun ke 7% — Sinyal Modal Asing Masuk Era Destry
- Destry Damayanti Resmi Disetujui DPR Jadi Gubernur BI 2026-2031, Gantikan Perry Warjiyo: Ini Konsekuensinya ke IHSG & Rupiah
Tekanan terbesar datang dari Federal Reserve (The Fed). Pada Federal Open Market Committee (FOMC) 15–16 September 2026, bank sentral AS itu memutuskan menaikkan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%–4,00%—sebuah pembalikan arah yang mengejutkan pasar.
Sepanjang 2024 dan 2025, The Fed justru rajin memangkas suku bunga, dari level puncak 5,50% turun bertahap ke 3,75%. Namun tekanan inflasi yang belum benar-benar reda di AS memaksa ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menginjak rem. Seluruh anggota FOMC sepakat dengan keputusan itu, menghasilkan suara bulat 12-0.
"Inflasi masih tinggi. Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih cepat menuju target Komite sebesar 2%," tulis The Fed dalam pernyataan resminya.
Kenaikan FFR ini memperketat selisih (differential) suku bunga antara AS dan Indonesia. Dengan BI Rate di 5,75% dan FFR di 4,00%, spread-nya menyempit ke 175 bps—lebih tipis dibanding awal tahun. Kondisi ini meningkatkan risiko arus modal keluar (capital outflow) dari pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Yield US Treasury Melesat, Kilasan Kemiripan Krisis 1997
Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah naik tajam ke sekitar 4,79%, naik sekitar 80 bps sepanjang tahun ini dari level 3,9% pada Februari. Angka tersebut memunculkan kekhawatiran dari HSBC.
Kepala Ekonom HSBC Frederick Neumann mengingatkan tiga kemiripan kondisi saat ini dengan periode menjelang krisis keuangan Asia 1997. Pertama, lonjakan yield US Treasury. Menjelang krisis 1997, yield naik dari 5% (Oktober 1993) ke 8% (November 1994). Kedua, pelemahan yen Jepang yang signifikan—yen telah melemah 57% sejak Januari 2021. Ketiga, euforia teknologi: dulu internet, kini kecerdasan buatan (AI).
Meski begitu, Neumann menegaskan Asia kini jauh lebih kuat secara fundamental: "Ekonomi Asia saat ini merupakan eksportir modal, bukan importir seperti era 1990-an." Kerentanan kini bukan dari finansial, melainkan dari sisi permintaan—terutama ketergantungan pada ekspor perangkat keras AI ke AS.
Houthi Serang Riyadh, Minyak dan Inflasi Global Kembali Bergejolak
Satu faktor geopolitik lagi menambah beban: kelompok Houthi Yaman mengklaim meluncurkan serangan rudal balistik dan drone ke Riyadh pada Sabtu (19/9/2026)—serangan pertama ke ibu kota Arab Saudi sejak eskalasi konflik meningkat pada Juli lalu. Meski koalisi Saudi mengklaim serangan berhasil dicegat, rekaman yang beredar menunjukkan kolom asap hitam membumbung dari area dekat Bandara Internasional King Khalid.
Houthi juga mengklaim menyerang fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, pusat ekspor minyak utama di pesisir Laut Merah. Ketegangan ini berpotensi menopang harga minyak mentah tetap tinggi—pada perdagangan Jumat (19/9/2026), emas (safe haven) justru menguat ke US$4.424,90/troy oz, naik 0,57% harian. Harga minyak yang sulit turun berarti inflasi global sulit mereda, memberikan tekanan lebih besar bagi BI untuk tak gegabah memangkas suku bunga.
Orang Kaya RI Beralih ke Dolar AS, Rekening Valas Melonjak 58%
Di dalam negeri, data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Mei 2026 mencatat lonjakan signifikan rekening simpanan dolar AS sebesar 58,2% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 8.918.054 rekening—jauh melampaui pertumbuhan rekening rupiah yang hanya 8,4%.
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyebutkan kenaikan berasal dari rekening dengan nominal simpanan di atas Rp5 miliar. "Yang di atas Rp5 miliar yang naik. Ya itu naik kelas," kata Anggito. Secara nominal, simpanan valuta asing naik 18,7% yoy mencapai Rp1.714,76 triliun—tumbuh lebih cepat dari simpanan rupiah yang naik 12,4% ke Rp8.615,16 triliun.
Fenomena ini sebagian dipicu kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan penempatan 100% di bank Himbara sejak PP No. 21/2026 berlaku efektif 1 Juni 2026. Dolar eksportir yang masuk ke sistem perbankan otomatis meningkatkan jumlah rekening valas.
Konsensus Pasar: BI Rate Tetap 5,75%, Fokus Komunikasi Destry
Berdasarkan konsensus analis dan ekonom, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dalam RDG September 2026—sama seperti keputusan RDG Agustus lalu. Deposit facility diperkirakan tetap di 4,75% dan lending facility di 6,5%.
Dalam RDG Agustus, Destry menyatakan keputusan menahan suku bunga "konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global, menjaga sasaran inflasi 2,5±1% pada 2026 dan 2027, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan."
Pekan depan, pasar akan lebih memperhatikan nada komunikasi Destry sebagai gubernur definitif: apakah ia memberi sinyal potensi pemangkasan ke depan seiring perlambatan ekonomi, atau mempertahankan stance hawkish demi mengamankan rupiah? BI juga diperkirakan memperluas kebijakan insentif untuk mendorong aliran masuk modal asing dan mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA).
Strategi Investor Pekan Depan: Tiga Katalis yang Harus Dipantau
Memasuki pekan 22–26 September 2026, ada tiga katalis utama yang perlu diperhatikan investor:
1. Keputusan RDG BI (Rabu–Kamis, 23–24 September): Bila BI Rate ditahan di 5,75% dengan nada komunikasi yang hati-hati, pasar berpotensi bereaksi netral hingga positif. Saham-saham perbankan (BBCA, BMRI, BBRI, BBNI) akan paling sensitif terhadap keputusan ini.
2. Perkembangan konflik Timur Tengah: Eskalasi serangan Houthi ke infrastruktur Saudi Aramco berpotensi mendorong harga minyak naik. Saham energi dan komoditas (ADRO, MEDC, PGAS) bisa menguat, namun sentimen risk-off secara umum bisa menekan indeks.
3. Rilis data PMI Manufaktur: Data flash PMI dari negara-negara maju (AS, Eropa, Jepang) yang dirilis akhir pekan memberikan sinyal permintaan global. PMI di bawah 50 (kontraksi) bisa memperburuk sentimen pasar modal emerging market, termasuk IHSG.
