Jakarta, Emiten.org - Di tengah gelombang tekanan pasar yang melanda saham dan IHSG sepanjang September 2026, tidak semua segmen pasar keuangan mengalami koreksi. Data Infovesta per 30 September 2026 mengungkapkan bahwa sementara reksadana saham melemah 16,43% year-to-date (YTD) dan IHSG anjlok 29,79% sejak Januari, instrumen pendapatan alternatif justru bertahan kuat. Reksadana pasar uang mencatatkan kinerja terbaik dengan pertumbuhan 3,16% YTD dan penambahkan 0,42% month-on-month (MoM) pada September, sementara reksadana pendapatan tetap mampu menjaga stabilitas di +0,07% YTD.
Pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, IHSG membuka peluang rebound dengan naik 1,36% ke level 6.118,86, membalikkan tekanan enam sesi sebelumnya yang sempat menekunkan hingga 6.036,88 di akhir September. Rupiah juga mulai memulihkan diri, berada di kisaran Rp17.882 per dolar AS pada hari Jumat lalu, menguat 0,47% dari penutupan sebelumnya. Kombinasi faktor ini menciptakan ruang bagi investor untuk kembali mempertimbangkan alokasi aset ke segmen yang lebih defensif.
Reksadana Pasar Uang dan Pendapatan Tetap Jadi Pelarian di Tengah Volatilitas Saham
📎 Baca Juga
"Kondisi pasar yang masih berubah-ubah membuat pengelolaan portofolio perlu tetap fleksibel," kata Reza Fahmi Riawan, Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), kepada Kontan pada Jumat, 2 Oktober 2026. Menurutnya, diversifikasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketahanan portofolio di tengah ketidakpastian pasar global dan tekanan yield AS yang tinggi.
Data Infovesta mengungkapkan bahwa September 2026 menjadi pekan ketekanan bagi reksadana saham dan campuran. Indeks Reksadana Saham turun 5,47% MoM, sementara Indeks Reksadana Campuran melemah 2,62% MoM. Kedua koreksi ini konsisten dengan koreksi IHSG yang turun 3,28% dalam sepekan sebelumnya, sekaligus dengan jual bersih asing yang mencapai Rp4,32 triliun dalam tujuh hari.
Di sisi lain, Indeks Reksadana Pasar Uang naik 0,42% MoM dengan total akumulasi YTD mencapai +3,16%. Ini menandakan aliran masuk konsumen ke instrumen likuid yang relatif aman. Sementara itu, Indeks Reksadana Pendapatan Tetap berhasil menjaga kinerja di 0% MoM dan +0,07% YTD, menguatkan posisi sebagai penyeimbang portofolio ketika saham mengalami tekanan berulang.
Wawan Hendrayana, Direktur Infovesta Utama, menambahkan bahwa pemilihan produk reksadana perlu disesuaikan dengan timeline kebutuhan dana. "Untuk kebutuhan dana kurang dari satu tahun, investor dapat menitikberatkan pada reksadana pasar uang. Adapun untuk satu hingga tiga tahun, pendapatan tetap dapat mulai dikumpulkan secara bertahap," ujar Wawan. Bagi investor dengan horizon lebih dari lima tahun, ia menyarankan memanfaatkan koreksi saham untuk melakukan akumulasi bertahap, sekaligus menekankan agar tidak terburu-buru melakukan panic selling.
IHSG dan Rupiah Rebound Tipis di Awali Oktober, Masih Dibawah Tekanan Yield AS
Pada Senin, 5 Oktober 2026, IHSG membuka peluang rebound dengan naik 1,36% ke level 6.118,86 — sebuah pemulihan yang patut diapresiasi meski masih jauh di bawah puncak tahun ini. Berdasarkan data Yahoo Finance, IHSG berada pada rentang 52 minggu antara 5.317,91 (terendah) dan 9.174,47 (tertinggi), menunjukkan ruang ke bawah yang masih cukup luas dari posisi saat ini.
Di pasar valuta, Rupiah spot ditutup pada level Rp17.882 per dolar AS pada Jumat, 2 Oktober 2026, menguat 0,47% dari penutupan sebelumnya di Rp17.966. Rupiah berdasarkan kurs JISDOR juga menguat 0,22% menjadi Rp17.898. Dalam sepekan terakhir, Rupiah JISDOR menguat 0,1%, menandakan tekanan penurun rupiah mulai mereda dari puncak Rp18.019 yang tercatat pada Selasa, 29 September lalu.
Berdasarkan data RTI, IHSG sempat anjlok hingga 2% di sesi pagi pada Selasa 29 September, sebelum pulih ke level 6.135 di sesi I (turun 0,21%). Pada sesi itu, sebanyak 451 saham melemah, 262 saham menguat, dan 120 saham stagnan, dengan volume perdagangan mencapai 24,26 miliar saham bernilai Rp8,1 triliun. Tekanan utama datang dari yield US Treasury 10 Tahun yang mencapai 5,27% — tertinggi dalam 19 tahun — dan arus modal keluar yang berkelanjutan.
Fed Pause dan NFP AS Melemah: Tekanan Yield AS Mereda
Tekanan yield AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed telah menjadi pemicu utama koreksi pasar saham Indonesia sejak pertengahan September. Yield US Treasury 10 Tahun mencapai 5,27% pada akhir September dan menjadi pendorong utama arus modal keluar (capital outflow) yang mencapai Rp4,32 triliun dalam seminggu.
Namun, dinamika global mulai memberi sinyal perubahan. Para ekonom memperkirakan pemberi kerja di AS hanya menambah sekitar 90.000 lapangan kerja pada September 2026, turun drastis dari 162.000 pada Agustus. Tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di level 4,1%. Data inflasi AS yang lebih rendah juga menurunkan ekspektasi pasar. Sehubungan dengan itu, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada bulan Oktober ini turun drastis hanya tersisa 26%, jauh di bawah 69% pada pekan sebelumnya.
"Jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat semakin mereda," ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas. Menilik proyeksi tersebut, Ibrahim memperkirakan Rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS dalam sepekan ke depan. Sementara itu, Bank Indonesia tetap mempertahankan BI Rate di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026, konsisten dengan proyeksi inflasi 2026 yang terkendali di sasaran 2,5% ±1%.
Di sisi lain, Bank Indonesia juga mengambil langkah proaktif untuk menguatkan transmisi kebijakan moneter. Gubernur Destry Damayanti menjelaskan bahwa BI telah memperluas surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying operasi moneter, dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi. Langkah ini, yang dikategorikan sebagai penguatan operasi moneter berorientasi pasar (pro-market), membuka ruang yang lebih besar bagi perbankan untuk mengelola likuiditas dan mendukung transmisi kebijakan ke sektor riil.
"Kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA)," ujar Ibrahim. Dengan perluasan underlying tersebut, perbankan memperoleh instrumen yang lebih beragam dalam mengelola likuiditas. Di sisi lain, korporasi penerbit surat berharga juga berpotensi memperoleh dukungan terhadap likuiditas dan aktivitas perdagangan instrumennya di pasar sekunder.
