Rupiah Lolos dari Zona Rp18.000-an: Ditutup Perkasa di Rp17.990/US$
📎 Baca Juga
- Outstanding Pinjol Tembus Rp1.012 Triliun, OJK Hentikan 951 Entitas Ilegal — Potret Industri Fintech Lending RI 2026
- Rupiah Tertekan di Level Rp18.000-an usai Transisi Kepemimpinan BI — Ini Jurus Stabilitas yang Disiapkan
- Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI — IHSG Melemah, Rupiah Tembus Rp 18.000/US$
Nilai tukar rupiah mengakhiri bulan Juli 2026 dengan catatan positif di perdagangan terakhirnya. Mata uang Garuda berhasil lolos dari zona psikologis Rp18.000-an dan kembali bergerak di bawah level tersebut pada penutupan Jumat (31/7/2026).
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat rupiah mampu terapresiasi 0,47% ke posisi Rp17.990/US$. Penguatan ini semakin besar dibandingkan posisi pembukaan perdagangan pagi hari, di mana rupiah dibuka menguat 0,19% ke level Rp18.040/US$.
Penguatan rupiah hari itu sekaligus membalikkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup melemah 0,17% ke posisi Rp18.075/US$. Keberhasilan rupiah menembus kembali ke bawah level psikologis Rp18.000/US$ menjadi sinyal penting bagi pasar, setelah beberapa pekan terakhir mata uang Garuda terkunci di zona lemah tersebut.
Pendorong Utama: Dolar AS Anjlok usai Data Inflasi dan PDB AS
Katalis terbesar penguatan rupiah kali ini datang dari sisi eksternal, yaitu pelemahan tajam dolar Amerika Serikat (AS). Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada perdagangan Jumat pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,31% ke posisi 100,173.
Namun, penguatan DXY tersebut hanya bersifat jangka pendek. Sebelumnya, DXY baru saja mengalami tekanan hebat pada perdagangan sebelumnya dengan anjlok 1,01% ke level 99,864. Pelemahan tersebut tercatat sebagai salah satu penurunan intraday terbesar DXY terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Tekanan terhadap greenback muncul setelah pasar merespons data inflasi Juni serta pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal terakhir yang lebih lemah dari perkiraan. Data tersebut kembali memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), setelah suku bunga dipertahankan pada rentang 3,50%-3,75% dalam pertemuan pekan ini.
Dengan meredanya ekspektasi pengetatan moneter AS yang lebih agresif, daya tarik aset berdenominasi dolar sedikit melonggar sehingga memberi ruang bagi mata uang emerging market seperti rupiah untuk menguat. Rupiah pun tetap mampu menguat meski DXY sempat berbalik naik pada perdagangan Jumat, karena masih mendapat dukungan dari pelemahan tajam dolar AS pada hari sebelumnya.
BI Pertahankan BI Rate 5,75%: Stabilitas Nilai Tukar dan Inflasi Jadi Fokus
Dari sisi domestik, penguatan rupiah juga ditopang sinyal konsistensi kebijakan Bank Indonesia (BI). Pejabat Gubernur (Plt Gubernur) BI, Destry Damayanti, dalam media briefing secara daring pada Jumat (31/7/2026) menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi menjadi fokus utama bank sentral saat ini.
"Tantangan yang dalam jangka pendek dan betul-betul harus menjadi perhatian kami adalah jaga stabilitas, baik itu dalam kaitannya nilai tukar rupiah dan inflasi," kata Destry.
Menurut Destry, tantangan tersebut telah direspons melalui keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode Juli yang mempertahankan BI Rate di level 5,75%. BI juga mencermati tekanan inflasi pangan yang telah berada di atas 5%, melampaui sasaran inflasi umum sebesar 2,5% plus minus 1%.
"Core inflation relatif aman dengan total sebesar 3,5% di posisi terakhir, memang jadi perhatian kita inflasi pangan di atas 5%," ucap Destry.
Selain nilai tukar dan inflasi, BI juga mengawasi dinamika asset pricing domestik seperti SBN rate, yield, dan instrumen seperti SRBI, di tengah ketidakpastian eksternal yang memengaruhi stabilitas di dalam negeri.
Dampak ke Pasar: IHSG Naik ke 6.236
Penguatan rupiah turut sejalan dengan momentum positif pasar saham pada perdagangan terakhir bulan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,80% ke level 6.236,13, nyaris di level tertinggi hariannya, dengan nilai transaksi mencapai Rp17,85 triliun dan kapitalisasi pasar BEI sebesar Rp10.923 triliun.
Secara teknikal, IHSG berhasil ditutup di dekat level tertinggi harian sekaligus bertahan di atas weighted moving average (WMA) 20 hari di kisaran 6.170. Selama IHSG mampu bertahan di atas area tersebut, peluang melanjutkan penguatan menuju area 6.260-6.320 masih terbuka.
Stabilitas nilai tukar yang membaik menjadi fondasi penting bagi pasar modal, karena mengurangi kekhawatiran investor terhadap risiko pelemahan rupiah yang kerap memicu arus keluar modal asing.
Prospek Rupiah: Bisa Lanjut Menguat di Bawah Rp18.000?
Keberhasilan rupiah kembali ke bawah level Rp18.000/US$ membuka peluang penguatan lebih lanjut. Beberapa faktor yang akan menentukan arah pergerakan rupiah ke depan:
- Arah kebijakan The Fed — Data inflasi dan PDB AS yang lebih lemah berpotensi memperkuat narasi pelonggaran moneter, yang akan melemahkan dolar dan mendukung penguatan rupiah.
- Komitmen BI menjaga stabilitas — Dengan BI Rate dipertahankan 5,75% dan fokus pada stabilitas nilai tukar, selisih imbal hasil (yield differential) yang menarik tetap menjadi daya tarik bagi aliran modal asing.
- Kondisi inflasi domestik — Tekanan inflasi pangan di atas 5% tetap menjadi perhatian, dan akan memengaruhi sikap BI dalam menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan.
- Arus modal asing — Kembalinya rupiah ke bawah Rp18.000 diharapkan memperkuat kepercayaan investor dan mendorong masuknya kembali dana asing ke pasar keuangan domestik.
Untuk investor, penguatan rupiah menjadi sinyal positif bagi sektor-sektor yang diuntungkan oleh nilai tukar yang stabil, sekaligus momentum untuk mencermati pergerakan DXY dan keputusan suku bunga The Fed pada pertemuan berikutnya. Stabilitas rupiah yang terjaga akan menjadi kunci bagi kinerja pasar modal dan perekonomian Indonesia memasuki Agustus 2026.
