Rupiah Catat Penguatan Dua Hari Beruntun: Ditutup di Rp17.980/US$
📎 Baca Juga
- Outstanding Pinjol Tembus Rp1.012 Triliun, OJK Hentikan 951 Entitas Ilegal — Potret Industri Fintech Lending RI 2026
- Rupiah Lolos dari Rp18.000-an, Ditutup Perkasa di Rp17.990/US$ — Ini Pendorong dan Peluangnya
- Rupiah Tertekan di Level Rp18.000-an usai Transisi Kepemimpinan BI — Ini Jurus Stabilitas yang Disiapkan
Nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini. Mata uang Garuda pun mencatatkan penguatan selama dua hari perdagangan beruntun, memperpanjang momentum positif setelah berhasil lolos dari level psikologis Rp18.000/US$.
Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Senin (3/8/2026) rupiah ditutup terapresiasi 0,06% ke posisi Rp17.980/US$. Penguatan tersebut menyusut dibandingkan posisi pembukaan pagi tadi, ketika rupiah mengawali perdagangan dengan menguat 0,22% ke level Rp17.950/US$, sebelum melemah 30 poin hingga penutupan.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada rentang Rp17.950-Rp17.995/US$. Meski sempat mendekati kembali level psikologis Rp18.000/US$, rupiah berhasil bertahan di zona hijau. Penguatan ini melanjutkan kinerja positif pada Jumat (31/7/2026), ketika rupiah ditutup menguat 0,47% ke posisi Rp17.990/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,12% ke posisi 99,793.
Deflasi Juli 2026: Inflasi Tahunan Melandai ke 2,88%, Lebih Rendah dari Konsensus
Dari dalam negeri, katalis utama pergerakan rupiah hari ini datang dari data inflasi resmi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026.
Kondisi tersebut berbalik dari inflasi 0,44% pada Juni. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi melandai menjadi 2,88% pada Juli dari 3,34% pada bulan sebelumnya. Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan konsensus pasar yang memperkirakan inflasi sebesar 0,11% secara bulanan dan 3,2% secara tahunan.
Meredanya tekanan inflasi terutama ditopang oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri sebelumnya memperkirakan kelompok volatile food mengalami deflasi 1,12% secara bulanan pada Juli, berbalik dari inflasi 0,14% pada Juni, didorong oleh penurunan harga cabai merah dan bawang merah setelah memasuki puncak musim panen.
Data inflasi yang lebih rendah dari konsensus ini menjadi kabar baik bagi Bank Indonesia. Inflasi yang terjaga di bawah sasaran 2,5% plus minus 1% memberi ruang lebih besar bagi bank sentral dalam menyeimbangkan kebijakan moneter, sekaligus menjadi salah satu faktor yang menopang kepercayaan terhadap nilai tukar rupiah.
Dolar AS Tertekan: Intervensi Yen AS-Jepang Menjadi Penopang Global
Pelemahan dolar AS menjadi salah satu penopang pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini. Greenback masih tertekan setelah Jepang dan AS melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing untuk menopang yen yang berada di sekitar posisi terlemahnya dalam 40 tahun terakhir.
Kementerian Keuangan Jepang mengonfirmasi intervensi pembelian yen bersama pada Jumat pekan lalu. Data Bank of Japan (BOJ) menunjukkan Jepang kemungkinan membeli yen senilai US$58,97 miliar pada Kamis. Langkah tersebut mendorong yen menguat 1% hingga menyentuh 156,01 per dolar AS pada perdagangan Asia. Dalam dua hari perdagangan terakhir pekan lalu, yen telah melonjak lebih dari 3%.
Penguatan yen ikut menekan indeks dolar AS. DXY tercatat merosot lebih dari 1,5% sepanjang pekan lalu dan kembali bergerak di bawah level 100. Kondisi tersebut membuat dolar kurang menarik bagi investor, sehingga mendukung penguatan mata uang emerging market seperti rupiah.
KSSK: Stabilitas Keuangan RI Tetap Terjaga
Penguatan rupiah juga berjalan seiring dengan penilaian positif otoritas terhadap ketahanan ekonomi domestik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang bertindak sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengumumkan kondisi stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga di tengah tingginya ketidakpastian global.
"Hasil rapat KSSK menunjukkan kondisi fiskal, moneter dan keuangan selama kuartal II-2026 terjaga di tengah konflik geopolitik meningkat didukung koordinasi yang erat antar otoritas," ungkapnya dalam konferensi pers, Senin (3/8/2026).
Purbaya menyampaikan, tekanan eksternal pada kuartal II-2026 meningkat seiring dengan naiknya harga energi, tekanan nilai tukar dan arus modal yang kembali ke Amerika Serikat (AS). Meski begitu, "ketahanan domestik cukup baik terlihat dari pertumbuhan ekonomi dan ketahanan sektor keuangan," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, KSSK juga menyinggung volatilitas pasar keuangan global yang masih cukup tinggi hingga kuartal II-2026, ditandai oleh flight to safe atau pergeseran modal ke aset safe haven yang kuat, tercermin dari menguatnya dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, dan tekanan modal asing di negara berkembang.
Arus Modal Asing Masuk ke Instrumen SBN & SRBI
Di tengah volatilitas global, arus modal asing justru tercatat masuk ke instrumen keuangan domestik. Sepanjang tujuh bulan pertama 2026, dana asing senilai US$195 miliar telah masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Masuknya dana asing tersebut menjadi bukti kepercayaan investor terhadap instrumen portofolio Indonesia, sekaligus menjadi katalis yang menopang stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. Selisih imbal hasil (yield differential) yang menarik antara SBN dan SRBI dibandingkan instrumen global menjadi daya tarik utama aliran modal masuk.
Faktor yang Membatasi Penguatan: Neraca Perdagangan Masih Defisit
Meski rupiah berhasil ditutup menguat, terdapat sejumlah faktor yang membatasi apresiasi lebih dalam. Salah satunya adalah neraca perdagangan Indonesia yang masih mengalami defisit. Padahal, nilai ekspor pada Juni tumbuh 8,8% secara tahunan, berbalik dari kontraksi 5,73% pada Mei.
Kenaikan ekspor tersebut belum cukup membawa neraca perdagangan kembali ke dalam surplus. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan rupiah pada perdagangan hari ini, sekaligus indikator yang akan terus dicermati pasar ke depan.
Prospek Rupiah: Bisa Lanjut Menguat di Bawah Rp18.000?
Keberhasilan rupiah bertahan di bawah level psikologis Rp18.000/US$ selama dua hari beruntun membuka peluang penguatan lebih lanjut. Sejumlah faktor akan menentukan arah pergerakan nilai tukar ke depan:
- Data inflasi yang melandai — Deflasi Juli dengan inflasi tahunan 2,88% memberi ruang bagi BI dalam pengelolaan kebijakan moneter, sekaligus menopang daya beli dan kepercayaan pasar terhadap stabilitas harga.
- Pelemahan dolar AS — Intervensi yen AS-Jepang dan DXY yang kembali di bawah level 100 berpotensi menahan penguatan greenback, yang mendukung mata uang emerging market.
- Keputusan suku bunga BI — Data inflasi dan neraca perdagangan akan menjadi bahan pertimbangan BI dalam menentukan arah kebijakan moneter, dengan fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
- Arus modal asing — Masuknya dana asing ke SBN dan SRBI sepanjang 2026 menjadi tanda kepercayaan investor yang menopang stabilitas rupiah.
- Posisi defisit neraca perdagangan — Defisit yang masih berlanjut menjadi risiko yang membatasi penguatan rupiah lebih dalam.
Untuk investor, stabilitas rupiah yang terjaga menjadi sinyal positif bagi kinerja pasar aset domestik. Pergerakan DXY, keputusan suku bunga BI, dan rilis data ekonomi berikutnya akan menjadi penentu arah rupiah memasuki pertengahan Agustus 2026.
