Rupiah Terkunci di Rp18.000-an: Mata Uang Garuda Masih Kesulitan Berbalik Menguat
📎 Baca Juga
Nilai tukar rupiah menutup pekan terakhir Juli 2026 dengan posisi yang masih terkunci di level Rp18.000-an per dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS pada Kamis (30/7/2026) diperdagangkan di level Rp18.070, turun tipis 3 poin (0,02%) dibandingkan penutupan sebelumnya. Meski ada sedikit ruang untuk menguat, posisi tersebut menandakan rupiah masih berada di zona lemah yang telah ditinggalinya sejak pekan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah sempat mencapai puncaknya pada Selasa (28/7/2026), ketika mata uang Garuda mengawali perdagangan dengan pelemahan 0,33% ke level Rp18.060/US$ lalu menyentuh titik terlemah sepanjang perdagangan di Rp18.095/US$. Meski mampu memangkas sebagian pelemahan menjelang penutupan, posisi tersebut menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa pekan terakhir seiring kombinasi faktor domestik dan global.
Transisi Kepemimpinan BI: Perry Mundur, Destry Damayanti Jadi Plt Gubernur
Salah satu faktor domestik yang membayangi pergerakan rupiah adalah transisi kepemimpinan di bank sentral. Perry Warjiyo secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia pada Sabtu (25/7/2026) karena alasan pribadi. Pengunduran diri tersebut menjadi kejutan bagi pasar dan memicu pertanyaan mengenai keberlanjutan arah kebijakan moneter.
Dewan Gubernur BI bergerak cepat dengan menetapkan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur (Plt Gubernur) BI dalam rapat yang digelar pada Minggu (26/7/2026). Destry menegaskan bahwa tugas dan pengambilan keputusan di bank sentral akan tetap dijalankan secara kolektif dan kolegial. BI juga memastikan keberlangsungan kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sistem pembayaran, dan sistem keuangan.
Keberlanjutan tersebut berusaha menjawab kekhawatiran pasar terkait arah suku bunga acuan BI-Rate di tengah ketidakpastian global. Pasar menilai penunjukan Plt Gubernur yang berasal dari internal dan berpengalaman di bidang moneter diharapkan dapat menjaga kesinambungan kebijakan, termasuk komitmen menjaga stabilitas nilai tukar.
Sikap Hawkish The Fed Menambah Tekanan
Dari eksternal, tekanan terhadap rupiah diperkuat oleh sikap Federal Reserve (The Fed) yang kembali membuka peluang pengetatan moneter. Menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berakhir pada Rabu (29/7/2026), pasar memperhitungkan probabilitas sebesar 36,3% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, naik signifikan dari 16% pada pekan sebelumnya. Pasar bahkan memperkirakan peluang sekitar 81% bahwa kenaikan suku bunga akan terjadi pada pertemuan September.
Ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS yang lebih ketat membuat daya tarik aset berdenominasi dolar tetap terjaga dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging market), termasuk rupiah. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat ke posisi 101,491, mencerminkan sentimen risk-off yang masih menyelimuti pasar keuangan global.
Jurus BI: Triple Intervention, SRBI, dan DNDF Hedging
Menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan pihaknya terus mengoptimalkan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah ditingkatkan. Tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam," kata Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7/2026).
Beberapa instrumen yang dioptimalkan antara lain triple intervention di pasar valas (Spot, NDF, dan DNDF), serta optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging. Strategi ini dirancang untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing.
Posisi SRBI disebut Erwin berada dalam tren yang lebih terkendali. Ke depan, penerbitan SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Di sisi lain, BI juga terus mengoptimalkan instrumen kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, termasuk implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.
Tekanan Jual Asing dan Dampaknya ke Pasar Modal
Tekanan terhadap rupiah turut sejalan dengan derasnya arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik. Berdasarkan data perdagangan RTI Business, tekanan jual bersih investor asing di pasar modal mencapai Rp80,97 triliun hingga 29 Juli 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menilai pergerakan dana asing merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan global yang dipengaruhi risiko geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta preferensi investor terhadap aset emerging market.
Namun demikian, OJK menilai aksi jual bersih asing perlahan mulai mereda. Hal ini tercermin pada periode perdagangan 13-17 Juli 2026 di mana investor asing mencatatkan aksi beli bersih (net foreign buy) mencapai Rp0,44 triliun atau sekitar Rp440 miliar. Momentum tersebut menunjukkan mulai adanya tanda-tanda stabilisasi meski masih dibayangi ketidakpastian global.
Di tengah tekanan tersebut, IHSG justru berhasil mengakhiri bulan dengan positif. IHSG menutup perdagangan terakhir Juli 2026 di zona 6.200-an dengan penguatan bulanan sebesar 5,78%, didorong aksi beli investor domestik yang memainkan peran penting dalam menjaga likuiditas dan stabilitas pasar.
Prospek Rupiah: Apa yang Perlu Dicermati Investor?
Ke depan, arah pergerakan rupiah akan sangat ditentukan oleh sejumlah faktor kunci. Pertama, keputusan dan arah kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan September, yang akan menjadi penentu utama arah aliran modal global. Kedua, pengumuman Gubernur BI definitif yang diharapkan dapat memberikan kepastian arah kebijakan moneter domestik. Ketiga, perkembangan neraca perdagangan dan kinerja ekspor Indonesia.
Analis memperkirakan rupiah akan tetap bergejolak di kisaran Rp18.000-an dalam jangka pendek sepanjang tekanan dolar AS masih kuat. Namun, kembalinya aliran modal asing, yang mulai terlihat dari meredanya aksi jual asing di pasar saham, dapat menjadi penopang utama bagi stabilisasi rupiah.
Investor dan pelaku pasar disarankan untuk mencermati sejumlah level penting pergerakan rupiah, serta memperhatikan perkembangan kebijakan BI dalam menjaga pasokan dolar di dalam negeri. Instrument SRBI yang menawarkan imbal hasil menarik bagi asing diharapkan dapat menjadi daya tarik untuk menarik masuknya aliran modal, meskipun imbal hasil tersebut juga perlu ditimbang terhadap dampaknya bagi likuiditas domestik.
Pada akhirnya, stabilitas rupiah akan menjadi kunci bagi kinerja pasar modal dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Keberlanjutan kebijakan BI yang kredibel, dukungan fiskal, serta membaiknya sentimen global akan menentukan apakah rupiah mampu bertahan atau justru semakin tertekan di tengah dinamika ekonomi yang masih penuh ketidakpastian.
