JAKARTA, â Pasar saham Indonesia kembali diguncang pada akhir September 2026, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,83% ke level 6.071,13 pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Di tengah tekanan yield AS yang tinggi dan arus dana asing keluar, aksi corporasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga jadi sorotan: RUPSLB kedua telah diselenggarakan, dengan Dian Siswarini digantikan Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama, sementara saham TLKM dan VISI retak kuat.
\n\nRUPSLB Telkom: Dian Siswarini Digantikan Nanang Hendarno
đ Baca Juga
RUPSLB Telkom yang ke-2 kali diselengarakan pada Rabu (30/9/2026) menampilkan beberapa agenda strategis penting. TLKM membahas persetujuan pemisahan tahap kedua bisnis Wholesale Fiber Connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia, sekaligus perubahan susunan pengurus perseroan.
\n\nSesuai keterbukaan informasi BEI, RUPSLB TLKM menyetujukan pengangkatan Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama menggantikan Dian Siswarini. Nanang didampingi oleh lima Direksi lainnya dalam menjalankan transformasi digital dan infrastruktur nasional.
\n\nNafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas menilai, aksi korporasi TLKM lebih merupakan bagian dari restrukturisasi strategis dibandingkan perubahan fundamental dalam jangka pendek. Prospek kinerja TLKM tetap ditopang oleh pemulihan bisnis seluler, efisiensi operasional, serta ekspansi infrastruktur digital dan pusat data.
\n\nSaham TLKM dan VISI Retak di Papan Uji RUPSLB
\n\nMeski RUPSLB membawa agenda transformasi, pasar meresponsnya dengan tekanan harga. Berdasarkan data perdagangan BEI, TLKM ditutup turun 3,38% ke level Rp2.290 per saham. Tekanan lebih dalam terjadi pada VISI yang anjlok 14,40% ke level Rp1.040 per saham.
\n\nPara analis menilai penurunan ini mungkin mencerminkan mekanisme profit-taking pasca-RUPSLB serta tekanan luar dari aliran dana asing. Menurut Nafan, pasca-RUPSLB, katalis utama saham TLKM adalah potensi unlock value dari penataan aset fiber, peningkatan efisiensi, dan monetisasi infrastruktur, meskipun investor perlu mencermati eksekusi spin-off dan persaingan industri telekomunikasi.
\n\nSecara keuangan, kinerja TLKM di semester I-2026 masih cukup robust. Pendapatan tumbuh 3,9% YoY menjadi Rp75,9 triliun. EBITDA naik 3,8% YoY ke Rp37,5 triliun, sementara laba bersih yang telah dinormalisasi tumbuh 6,2% YoY.
\n\nAsing Net Sell Rp1,61 Triliun: Tekanan dari Luar
\n\nMeanwhile, tekanan mayor di pasar saham Indonesia masih bersumber dari arus dana asing keluar. Pada perdagangan Rabu (30/9/2026), investor asing mencatat net sell jumbo Rp1,61 triliun di seluruh pasar â data yang cukup mencengkam mengingat ini terjadi hanya sehari sebelum dimulainya short selling di BEI.
\n\nTotal volume perdagangan saham di BEI mencapai 30,12 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp14,03 triliun. Ada 360 saham turun (pemberat IHSG), sementara hanya 308 saham naik dan 125 saham stagnan.
\n\nBerikut 10 saham terjual asing terbesar pada perdagangan Rabu:
\n\n- \n
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) â Rp231,1 miliar \n
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) â Rp225,11 miliar \n
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) â Rp205,94 miliar \n
- PT Astra International Tbk (ASII) â Rp98,48 miliar \n
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) â Rp78,89 miliar \n
- PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) â Rp75,84 miliar \n
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) â Rp47,17 miliar \n
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) â Rp46,0 miliar \n
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) â Rp39,14 miliar \n
- PT Indosat Tbk (INDI) â (sebagian besar) \n
TLKM sendiri masuk sebagai saham ke-2 dengan net sell terbesar, menunjukkan tekanan ganda antara faktor teknis dan fundamental pasca-RUPSLB.
\n\nIHSG Oktober 2026: Stock-Picking di Tengah Ketidakpastian
\n\nDari sisi makro, rupiah berada di kisaran Rp17.870-Rp18.000 per USD, sementara US 10-year Treasury yield berada di 5,26% pada akhir September 2026 (naik 53 bps selama September, tertinggi sejak 2022). Tekanan ini menjadi pemicu utama koreksi IHSG.
\n\nBudi Frensidy, Pengamat Pasar Modal UI memproyeksikan IHSG pada Oktober akan bergerak di kisaran 5.850â6.400 dengan kecenderungan sideways hingga rebound terbatas. Rully Arya Wisnubroto (Mirae Asset Sekuritas) memperkirakan rentang 5.900â6.500 pada Oktober.
\n\nRully menekankan bahwa faktor penting pada Oktober 2026 perlu dilihat dari perkembangan nilai tukar rupiah, global bond yields, dan foreign flows â bukan sekadar pola musiman. Ia merekomendasikan beli saham TLKM dengan target harga Rp3.400 per saham, sambil menekankan sektor telco, poultry, dan perbankan sebagai unggulan.
\n\nHenry Wibowo, Co-Founder Alphagate Capital menambahkan, investor perlu memfokuskan pada sektor dengan structural growth dan earnings visibility kuat â khususnya data center, supply chain, serta energi dan komoditas. Harga komoditas yang tinggi mendukung pendapatan perusahaan terkait.
\n\n