Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG positif ⏱ 5 menit

Kabar Baik! S&P Pertahankan Investment Grade RI, IHSG Terbang 1,68% ke 6.023

Kabar Baik! S&P Pertahankan Investment Grade RI, IHSG Terbang 1,68% ke 6.023
Unsplash

S&P Global Ratings resmi mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level investment grade BBB (jangka panjang) dan A-2 (jangka pendek) dengan outlook stabil. Kabar ini langsung mendorong IHSG melesat 1,68% ke level 6.023 pada penutupan perdagangan Senin, 13 Juli 2026, setelah sebelumnya bergerak volatil di kisaran 5.900-an. Namun, investor asing masih mencatat net sell Rp274,8 miliar, dengan saham-saham seperti MAPI, BBCA, dan ASII paling banyak dilepas.

Pasar modal Indonesia mendapat angin segar pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026. S&P Global Ratings, salah satu lembaga pemeringkat kredit paling berpengaruh di dunia, memutuskan untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level investment grade. IHSG pun merespons dengan lonjakan signifikan ke level 6.023.

Keputusan S&P ini menjadi katalis positif di tengah berbagai tekanan yang membayangi pasar keuangan Indonesia, mulai dari ketegangan geopolitik AS-Iran yang memicu kenaikan harga minyak hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang terus menembus level psikologis.

S&P Tegaskan Peringkat BBB, Outlook Stabil

📎 Baca Juga

S&P Global Ratings resmi mengumumkan telah mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk utang jangka panjang dan A-2 untuk utang jangka pendek, dengan prospek (outlook) stabil. Keputusan ini diumumkan pada Senin, 13 Juli 2026, bertepatan dengan perdagangan bursa di Indonesia.

Peringkat BBB merupakan level investment grade yang menunjukkan bahwa Indonesia dinilai memiliki kapasitas yang memadai untuk memenuhi kewajiban finansialnya. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi global, S&P menilai prospek ekonomi Indonesia tetap stabil.

Menurut keterangan resmi S&P, outlook stabil mencerminkan ekspektasi bahwa risiko terhadap peringkat kredit Indonesia relatif seimbang dalam 12 hingga 24 bulan ke depan. Faktor-faktor seperti konsumsi domestik yang kuat, cadangan devisa yang memadai, serta disiplin fiskal menjadi pertimbangan utama.

Kabar ini tentu menjadi angin segar di tengah tekanan yang dihadapi pasar keuangan Indonesia akhir-akhir ini, termasuk aksi jual besar-besaran investor asing yang telah mencapai Rp 76 triliun sepanjang tahun 2026.

IHSG Langsung Terbang, Tembus Level 6.023

Respons pasar terhadap pengumuman S&P sangat positif. IHSG yang sebelumnya bergerak volatil di kisaran 5.900-an pada sesi awal perdagangan, langsung melesat setelah kabar ini beredar.

Pada penutupan sesi pertama, IHSG tercatat melonjak 1,68% ke level 6.023,83. Ini merupakan lompatan signifikan yang membawa indeks kembali ke level psikologis 6.000 setelah sempat tertekan beberapa hari terakhir.

Namun demikian, volatilitas masih cukup tinggi. Pada pembukaan perdagangan pagi hari, IHSG sempat dibuka menguat 0,17% ke level 5.934 sebelum berbalik arah ke zona merah di tengah aksi ambil untung dan ketidakpastian geopolitik global.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp 274,8 miliar pada sesi pertama perdagangan hari ini. Saham-saham yang paling banyak dilepas asing antara lain MAPI (Mitra Adiperkasa), BBCA (Bank Central Asia), dan ASII (Astra International).

Saham-saham grup Bakrie dan Sinar Mas justru mencatat lonjakan harga yang cukup signifikan, menunjukkan rotasi sektoral di kalangan investor ritel. Sektor energi dan batu bara juga mengalami penguatan seiring kenaikan harga komoditas global.

Rupiah Masih Tertekan, Tembus Rp18.100 per USD

Meskipun kabar S&P memberikan sentimen positif ke pasar saham, nilai tukar rupiah justru masih tertekan. Pada perdagangan Senin (13/7/2026), rupiah ditutup loyo di level Rp18.100 per dolar AS.

Pelemahan rupiah ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran telah mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven. Selain itu, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang lebih lama dari perkiraan juga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Harga minyak mentah dunia pun ikut melonjak 4,29% dan nyaris menembus level US$80 per barel sebagai dampak langsung dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun fundamental domestik Indonesia masih solid dan diakui oleh lembaga pemeringkat global, tekanan eksternal tetap menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.

OJK Beri Respons Positif

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut buka suara terkait keputusan S&P mempertahankan peringkat investment grade Indonesia. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK menilai keputusan ini sebagai bentuk pengakuan terhadap ketahanan fundamental ekonomi Indonesia.

OJK juga menyoroti pentingnya langkah-langkah yang telah diambil pemerintah dan regulator untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah volatilitas global. Koordinasi antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor jasa keuangan dinilai menjadi kunci utama dalam mempertahankan kepercayaan investor.

S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) sebelumnya juga menjadi sorotan setelah memasukkan pasar saham Indonesia ke dalam watchlist, yang berpotensi mempengaruhi aliran dana asing ke pasar modal Indonesia. Namun, keputusan mempertahankan peringkat investment grade ini diharapkan dapat meredakan kekhawatiran investor.

Prospek ke Depan

Keputusan S&P mempertahankan peringkat investment grade Indonesia dengan outlook stabil memberikan kelegaan bagi pelaku pasar. Namun, tantangan masih membayangi. Aksi jual asing yang masih berlanjut menunjukkan bahwa investor global masih dalam mode risk-off.

Analis memperkirakan IHSG masih akan bergerak volatil dalam jangka pendek dengan support di level 5.850-5.900 dan resistance di level 6.100-6.200. Faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya adalah perkembangan konflik AS-Iran, data inflasi AS, serta kebijakan suku bunga global.

Untuk investor jangka panjang, kondisi saat ini justru bisa menjadi peluang akumulasi. Saham-saham blue chip dengan fundamental kuat seperti BBCA, BBRI, dan ASII yang sedang tertekan oleh aksi jual asing bisa menjadi pilihan menarik dengan valuasi yang lebih murah.

Pertanyaan besarnya sekarang adalah: akankah momentum positif dari S&P ini cukup untuk mengubah arah net sell asing yang sudah mencapai Rp 76 triliun? Atau justru tekanan eksternal akan kembali mendominasi? Pelaku pasar tentu akan terus mencermati pergerakan dalam beberapa pekan ke depan.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa keputusan S&P terhadap peringkat kredit Indonesia?

S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB (investment grade) untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan prospek (outlook) stabil.

Apa dampak keputusan S&P terhadap IHSG?

IHSG langsung merespons positif dengan melonjak 1,68% ke level 6.023 pada penutupan sesi pertama. Ini merupakan rebound signifikan dari level 5.900-an yang sempat diuji pada sesi awal.

Mengapa rupiah masih melemah meskipun IHSG menguat?

Rupiah masih tertekan oleh sentimen eksternal, terutama menguatnya dolar AS akibat eskalasi konflik AS-Iran dan ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang lebih lama.

Apa saja saham yang paling banyak diperdagangkan hari ini?

Investor asing tercatat melakukan net sell Rp274,8 miliar. Saham MAPI, BBCA, dan ASII menjadi yang paling banyak dilepas asing. Sementara itu, saham Bakrie Group dan Sinar Mas mencatat lonjakan harga.

Apakah outlook stabil S&P berarti Indonesia aman dari risiko downgrade?

Outlook stabil menunjukkan bahwa S&P melihat risiko keseimbangan antara faktor positif dan negatif. Selama fundamental ekonomi terjaga, probabilitas downgrade dalam 12-24 bulan ke depan relatif rendah.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: CNBC Indonesia — Kabar Baik! S&P Pertahankan Investment Grade Rating RI, Outlook Stabil (13 Juli 2026), CNBC Indonesia — Breaking News! IHSG Terbang 1,68%, S&P Pertahankan Outlook RI (13 Juli 2026), CNBC Indonesia — Volatilitas IHSG Masih Tinggi, Intip Pergerakan Asing di Sesi 1 (13 Juli 2026), CNBC Indonesia — Bos OJK Buka Suara Soal Pengumuman S&P DJI (13 Juli 2026), CNBC Indonesia — Rupiah Ditutup Loyo, Dolar AS Kini Parkir di Rp18.100 (13 Juli 2026), CNBC Indonesia — Iran-AS Panas Lagi! Harga Minyak Melonjak 4,29% (13 Juli 2026), Liputan6.com — IHSG Hari Ini Menguat ke 5.930 (13 Juli 2026), Liputan6.com — IHSG Dibuka Menguat ke 5.934, Mayoritas Sektor Saham Lesu (13 Juli 2026)