Pasar modal Indonesia mendapat angin segar pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026. S&P Global Ratings, salah satu lembaga pemeringkat kredit paling berpengaruh di dunia, memutuskan untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level investment grade. IHSG pun merespons dengan lonjakan signifikan ke level 6.023.
Keputusan S&P ini menjadi katalis positif di tengah berbagai tekanan yang membayangi pasar keuangan Indonesia, mulai dari ketegangan geopolitik AS-Iran yang memicu kenaikan harga minyak hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang terus menembus level psikologis.
S&P Tegaskan Peringkat BBB, Outlook Stabil
đ Baca Juga
- IHSG Dibuka Menguat ke 6.254 Lalu Sideways di 6.234, OJK Konfirmasi Rebound 10,51% Juli 2026 â Ini Potret Pasar Awal Agustus
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun â Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun â Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
S&P Global Ratings resmi mengumumkan telah mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk utang jangka panjang dan A-2 untuk utang jangka pendek, dengan prospek (outlook) stabil. Keputusan ini diumumkan pada Senin, 13 Juli 2026, bertepatan dengan perdagangan bursa di Indonesia.
Peringkat BBB merupakan level investment grade yang menunjukkan bahwa Indonesia dinilai memiliki kapasitas yang memadai untuk memenuhi kewajiban finansialnya. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi global, S&P menilai prospek ekonomi Indonesia tetap stabil.
Menurut keterangan resmi S&P, outlook stabil mencerminkan ekspektasi bahwa risiko terhadap peringkat kredit Indonesia relatif seimbang dalam 12 hingga 24 bulan ke depan. Faktor-faktor seperti konsumsi domestik yang kuat, cadangan devisa yang memadai, serta disiplin fiskal menjadi pertimbangan utama.
Kabar ini tentu menjadi angin segar di tengah tekanan yang dihadapi pasar keuangan Indonesia akhir-akhir ini, termasuk aksi jual besar-besaran investor asing yang telah mencapai Rp 76 triliun sepanjang tahun 2026.
IHSG Langsung Terbang, Tembus Level 6.023
Respons pasar terhadap pengumuman S&P sangat positif. IHSG yang sebelumnya bergerak volatil di kisaran 5.900-an pada sesi awal perdagangan, langsung melesat setelah kabar ini beredar.
Pada penutupan sesi pertama, IHSG tercatat melonjak 1,68% ke level 6.023,83. Ini merupakan lompatan signifikan yang membawa indeks kembali ke level psikologis 6.000 setelah sempat tertekan beberapa hari terakhir.
Namun demikian, volatilitas masih cukup tinggi. Pada pembukaan perdagangan pagi hari, IHSG sempat dibuka menguat 0,17% ke level 5.934 sebelum berbalik arah ke zona merah di tengah aksi ambil untung dan ketidakpastian geopolitik global.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp 274,8 miliar pada sesi pertama perdagangan hari ini. Saham-saham yang paling banyak dilepas asing antara lain MAPI (Mitra Adiperkasa), BBCA (Bank Central Asia), dan ASII (Astra International).
Saham-saham grup Bakrie dan Sinar Mas justru mencatat lonjakan harga yang cukup signifikan, menunjukkan rotasi sektoral di kalangan investor ritel. Sektor energi dan batu bara juga mengalami penguatan seiring kenaikan harga komoditas global.
Rupiah Masih Tertekan, Tembus Rp18.100 per USD
Meskipun kabar S&P memberikan sentimen positif ke pasar saham, nilai tukar rupiah justru masih tertekan. Pada perdagangan Senin (13/7/2026), rupiah ditutup loyo di level Rp18.100 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran telah mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven. Selain itu, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang lebih lama dari perkiraan juga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Harga minyak mentah dunia pun ikut melonjak 4,29% dan nyaris menembus level US$80 per barel sebagai dampak langsung dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun fundamental domestik Indonesia masih solid dan diakui oleh lembaga pemeringkat global, tekanan eksternal tetap menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.
OJK Beri Respons Positif
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut buka suara terkait keputusan S&P mempertahankan peringkat investment grade Indonesia. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK menilai keputusan ini sebagai bentuk pengakuan terhadap ketahanan fundamental ekonomi Indonesia.
OJK juga menyoroti pentingnya langkah-langkah yang telah diambil pemerintah dan regulator untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah volatilitas global. Koordinasi antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor jasa keuangan dinilai menjadi kunci utama dalam mempertahankan kepercayaan investor.
S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) sebelumnya juga menjadi sorotan setelah memasukkan pasar saham Indonesia ke dalam watchlist, yang berpotensi mempengaruhi aliran dana asing ke pasar modal Indonesia. Namun, keputusan mempertahankan peringkat investment grade ini diharapkan dapat meredakan kekhawatiran investor.
Prospek ke Depan
Keputusan S&P mempertahankan peringkat investment grade Indonesia dengan outlook stabil memberikan kelegaan bagi pelaku pasar. Namun, tantangan masih membayangi. Aksi jual asing yang masih berlanjut menunjukkan bahwa investor global masih dalam mode risk-off.
Analis memperkirakan IHSG masih akan bergerak volatil dalam jangka pendek dengan support di level 5.850-5.900 dan resistance di level 6.100-6.200. Faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya adalah perkembangan konflik AS-Iran, data inflasi AS, serta kebijakan suku bunga global.
Untuk investor jangka panjang, kondisi saat ini justru bisa menjadi peluang akumulasi. Saham-saham blue chip dengan fundamental kuat seperti BBCA, BBRI, dan ASII yang sedang tertekan oleh aksi jual asing bisa menjadi pilihan menarik dengan valuasi yang lebih murah.
Pertanyaan besarnya sekarang adalah: akankah momentum positif dari S&P ini cukup untuk mengubah arah net sell asing yang sudah mencapai Rp 76 triliun? Atau justru tekanan eksternal akan kembali mendominasi? Pelaku pasar tentu akan terus mencermati pergerakan dalam beberapa pekan ke depan.
