Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG positif ⏱ 4 menit

S&P Pertahankan Rating Indonesia di Level Investment Grade, IHSG Rebound dan Rupiah Menguat

S&P Pertahankan Rating Indonesia di Level Investment Grade, IHSG Rebound dan Rupiah Menguat
Wikimedia Commons

S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di BBB dengan outlook stabil, memberikan angin segar bagi pasar modal Indonesia. IHSG berhasil rebound ke level 6.000-an dengan nilai transaksi melonjak ke Rp15,36 triliun, sementara rupiah menguat ke Rp18.080 per dolar AS. Keputusan ini menjadi katalis positif di tengah tekanan global yang masih tinggi.

S&P Global Ratings resmi mengumumkan keputusan untuk mempertahankan peringkat kredit (sovereign credit rating) Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook yang tetap stabil. Keputusan yang dirilis pada 13 Juli 2026 ini menjadi kabar baik bagi pasar keuangan Indonesia yang dalam beberapa bulan terakhir menghadapi tekanan dari lembaga pemeringkat global lainnya. Keputusan S&P mempertahankan rating investment grade Indonesia menjadi angin segar setelah Moody's dan Fitch Ratings lebih dulu menurunkan prospek (outlook) Indonesia pada awal tahun ini. Dari tiga lembaga pemeringkat utama dunia, S&P menjadi satu-satunya yang masih mempertahankan outlook stabil untuk Indonesia, menandakan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi RI tetap terjaga. OJK menyambut baik keputusan tersebut. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan bahwa afirmasi ini menjadi sinyal positif atas terjaganya fundamental ekonomi Indonesia serta stabilitas sistem keuangan dalam menghadapi dinamika global. "Keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan Outlook Stabil menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global," ujar Friderica dalam keterangan resmi, Selasa (14/7/2026). Dalam laporannya, S&P Global Ratings menilai bahwa pelemahan sejumlah indikator fiskal dan eksternal Indonesia saat ini bersifat sementara dan berpotensi membaik seiring stabilnya arah kebijakan pemerintah serta implementasi yang lebih efektif. S&P juga memperkirakan penerimaan negara akan terus pulih sepanjang tahun ini, sementara pendapatan ekspor berpotensi meningkat sejalan dengan membaiknya harga komoditas global. Lembaga pemeringkat yang berbasis di Amerika Serikat itu juga menilai komitmen pemerintah menjaga defisit fiskal di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi salah satu faktor utama yang menopang prospek stabil Indonesia. Di samping itu, kebijakan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara dan pendapatan ekspor dari sektor sumber daya alam dinilai mampu memperkuat posisi fiskal Indonesia dalam jangka menengah. Dampak positif dari keputusan S&P langsung terasa di pasar keuangan Indonesia pada hari ini, Selasa (14/7/2026). IHSG berhasil rebound dan ditutup bertahan di level 6.000-an setelah sempat mengalami volatilitas tinggi. Pada perdagangan intraday, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.095 sebelum akhirnya memangkas penguatan. Nilai transaksi melonjak signifikan menjadi Rp15,36 triliun, melibatkan 26,48 miliar saham dalam 2,59 juta kali transaksi — jauh di atas rata-rata pekan lalu yang hanya Rp10,27 triliun. Meski IHSG bertahan di zona hijau, pergerakannya tertahan oleh koreksi pada emiten bank jumbo. Sektor finansial tercatat mengalami pelemahan terdalam, yakni 1,71%. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI) menjadi pemberat IHSG masing-masing dengan kontribusi negatif -10,22 poin, -8,82 poin, dan -7,35 poin. Sementara itu, emiten konglomerat seperti Bumi Resources Mineral (BRMS), Barito Renewables Energy (BREN), dan Energi Mega Persada (ENRG) berusaha mengatrol IHSG namun belum cukup kuat. Di pasar valuta asing, rupiah juga mencatatkan penguatan. Berdasarkan data Refinitif, rupiah ditutup menguat 0,11% ke level Rp18.080 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda bergerak cukup dinamis, dari posisi stagnan di Rp18.100/US$ pada pembukaan hingga berbalik positif hingga penutupan. Indeks dolar AS (DXY) juga melemah tipis 0,04% ke level 101,197, turut mendukung penguatan rupiah. Menariknya, S&P Global Ratings dalam laporannya memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berada di level Rp17.700/US$ pada akhir tahun 2026. Proyeksi ini menunjukkan keyakinan bahwa fundamental ekonomi Indonesia akan terus membaik dan tekanan terhadap rupiah akan berkurang seiring waktu. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyambut positif keputusan S&P. Menurutnya, afirmasi ini mencerminkan tetap kuatnya kepercayaan investor dan pemangku kepentingan internasional terhadap perekonomian Indonesia. "Afirmasi S&P atas sovereign credit rating Indonesia pada peringkat BBB dengan outlook stabil mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan pemangku kepentingan internasional terhadap stabilitas makroekonomi dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid," kata Perry dalam keterangan resmi. Perry menambahkan bahwa penilaian positif tersebut tidak terlepas dari eratnya sinergi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan di tengah meningkatnya risiko global. Bank Indonesia, lanjutnya, akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Bagi investor, keputusan S&P ini menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid di tengah ketidakpastian global. Dengan rating investment grade yang dipertahankan, investor asing diperkirakan akan kembali melirik instrumen keuangan Indonesia, baik pasar saham maupun obligasi. Stabilitas nilai tukar dan defisit fiskal yang terjaga menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk terus menarik investasi asing dan mendorong pertumbuhan ekonomi ke depannya. OJK berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan), Pemerintah, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk menjaga stabilitas sistem keuangan serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berbagai upaya penguatan sektor jasa keuangan terus dilakukan melalui pengawasan terintegrasi berbasis risiko, pendalaman pasar keuangan, peningkatan integritas dan tata kelola pasar, serta percepatan transformasi digital sesuai amanat Undang-Undang P2SK.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa keputusan S&P Global Ratings terhadap peringkat kredit Indonesia?

S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook stabil. Ini berarti Indonesia tetap berada dalam kategori layak investasi (investment grade).

Bagaimana dampak keputusan S&P terhadap IHSG?

IHSG merespons positif dengan bertahan di level 6.000-an pada perdagangan 14 Juli 2026. Nilai transaksi melonjak menjadi Rp15,36 triliun dari rata-rata pekan lalu Rp10,27 triliun, menunjukkan peningkatan aktivitas pasar yang signifikan.

Bagaimana pergerakan rupiah setelah pengumuman S&P?

Rupiah ditutup menguat 0,11% ke level Rp18.080 per dolar AS. S&P bahkan memproyeksikan rupiah bisa mencapai Rp17.700 per dolar AS pada akhir 2026.

Apa yang membuat S&P mempertahankan outlook stabil Indonesia?

S&P menilai komitmen pemerintah menjaga defisit fiskal di bawah 3% PDB, penerimaan negara yang terus pulih, serta potensi peningkatan pendapatan ekspor dari sektor komoditas menjadi faktor utama yang menopang prospek stabil Indonesia.

Apa perbedaan keputusan S&P dengan Moody's dan Fitch untuk Indonesia?

Berbeda dengan Moody's dan Fitch yang sebelumnya menurunkan prospek Indonesia, S&P justru mempertahankan outlook stabil. Hal ini menjadikan S&P sebagai satu-satunya dari tiga lembaga pemeringkat utama yang masih memberikan outlook stabil untuk Indonesia.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter