Pasar modal Indonesia mendapat momentum positif di pertengahan Juli 2026 setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Keputusan ini menjadi pelega bagi investor di tengah tekanan global yang masih membayangi pasar emerging market, sekaligus mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami reli selama empat hari beruntun.
Keputusan S&P ini kontras dengan dua lembaga pemeringkat global lainnya — Fitch dan Moody's — yang sama-sama masih mempertahankan peringkat dengan pandangan yang lebih hati-hati. Fitch menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan, sementara Moody's mencermati penurunan prediktabilitas kebijakan dan kualitas tata kelola. Namun S&P justru optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dan fundamental neraca yang kuat.
IHSG Reli 4 Hari: Dari 5.928 ke 6.057
📎 Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun — Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun — Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an — Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Keputusan S&P menjadi katalis utama yang mendorong IHSG bangkit dari level tertekannya. Pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026, IHSG ditutup melesat 1,92% kembali ke level 6.000. Penguatan berlanjut pada Selasa, 14 Juli 2026, dengan IHSG ditutup naik tipis 0,03% ke posisi 6.039. Secara kumulatif, IHSG mencatat reli dalam empat hari perdagangan berturut-turut sejak pengumuman rating S&P.
Kepala Eksekutif OJK merespons positif keputusan ini. Menteri Koordinator Perekonomian melalui berbagai kesempatan mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum ini dengan berinvestasi di pasar modal. Bahkan Purbaya selaku Kepala OJK mengeluarkan pernyataan tegas: "Beli saham, jangan takut lagi."
Valuasi Murah: Peluang di Tengah Ketidakpastian
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai keputusan S&P merupakan sentimen positif karena menghilangkan satu risiko besar yang sebelumnya membayangi pasar. Menurutnya, valuasi saham Indonesia kini sudah berada pada level yang sangat murah setelah koreksi tajam pada semester I-2026.
Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, mengungkapkan saat ini IHSG diperdagangkan pada valuasi 9,1 kali forward P/E — jauh di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 14,8 kali. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan target IHSG akhir 2026 di level 7.200, didasarkan pada asumsi forward P/E 10 kali yang masih tergolong murah secara historis.
Jika IHSG tetap diperdagangkan pada valuasi 9,1 kali forward P/E dan pertumbuhan laba sebesar 8% benar-benar terealisasi, indeks masih berpotensi mencapai sekitar 6.520. Kiwoom Sekuritas memasang target IHSG di kisaran 7.000–7.200 pada akhir 2026 dengan saham pilihan: BBRI, BBNI, ANTM, INCO, JPFA, KLBF, JSMR, MTEL, dan PANI.
BEI Perketat Aturan HSC: 37 Emiten Baru Masuk Radar
Di sisi regulasi, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah berani untuk meningkatkan transparansi pasar dengan menambahkan metodologi Price Impact Ratio dalam penentuan saham High Shareholding Concentration (HSC). Langkah ini merupakan respons terhadap kebutuhan pengawasan yang lebih ketat atas saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun — sebanyak 171 saham — kini akan diperiksa menggunakan indikator baru ini. Hasil penyaringan awal menunjukkan 37 saham baru memenuhi indikasi HSC, sehingga total saham yang masuk kategori HSC bertambah menjadi 51 emiten.
Jeffrey menegaskan bahwa penyusunan metodologi baru ini bukan merupakan respons terhadap hasil tinjauan lembaga pemeringkat internasional, melainkan proses evaluasi yang telah berlangsung selama beberapa pekan. BEI juga menegaskan bahwa saham-saham yang masuk kategori HSC tidak dapat menjadi konstituen indeks utama seperti LQ45 dan IDX30.
Rekomendasi Saham untuk Semester II 2026
Dengan valuasi yang murah dan sentimen positif dari S&P, para analis merekomendasikan investor untuk mulai akumulasi beli secara bertahap. Kiwoom Sekuritas merekomendasikan saham-saham berikut untuk semester II 2026:
- BBRI dan BBNI (sektor perbankan dengan fundamental kuat)
- ANTM dan INCO (sektor tambang dan nikel)
- JPFA dan KLBF (sektor konsumen dan farmasi)
- JSMR dan MTEL (sektor infrastruktur dan telekomunikasi)
- PANI (sektor properti)
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa investor asing masih membutuhkan konfirmasi tambahan dari stabilitas Rupiah, perbaikan arus dana, dan konsistensi kebijakan sebelum meningkatkan eksposur secara signifikan. Pemilihan saham tetap harus selektif karena saham murah belum tentu langsung menguat.
Kesimpulan
Kombinasi antara afirmasi rating S&P, valuasi IHSG yang murah secara historis, serta langkah BEI dalam memperketat pengawasan saham melalui aturan HSC menciptakan dinamika pasar yang menarik di semester II 2026. Investor jangka panjang dapat memanfaatkan momentum ini untuk akumulasi bertahap, sementara investor jangka pendek perlu mencermati volatilitas yang masih mungkin terjadi, terutama dari faktor eksternal seperti kebijakan The Fed dan pergerakan nilai tukar Rupiah.
