Jakarta, 2 Oktober 2026 — Pasar saham Indonesia berada di tengah tekanan yang tidak pernah reda sejak awal kuartal III 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) koreksi hingga 8,5% pada September 2026 (dari 6.636 ke 6.071), dipicu tekanan yield AS yang mencapai 5,27% dan reshuffle Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp78 triliun sepanjang September, sementara arus keluar modal asing berlanjut hingga awal Oktober. Namun, di tengah koreksi pasar yang tajam, data ekonomi riil Indonesia memberi citra kontras yang menggoda untuk diacuhkan. Inflasi tetap terjaga di 3,28% YoY, neraca perdagangan mencatat surplus yang melonjak, dan kredit perbankan tetap tumbuh tajam. Bahkan, Bank Indonesia secara resmi membuka kebijakan short selling pada 1 Oktober 2026 — inovasi pasar yang dapat menjadi alat baru bagi investor untuk mengelola risiko di tengah volatilitas tinggi.
Inflasi 3,28% YoY September: Tetrakhir dalam Koridor Sasaran BI
📎 Baca Juga
Berdasarkan rilis BPS pada Kamis, 1 Oktober 2026, inflasi konsumen Indonesia pada September 2026 naik 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan (year-on-year/yoy), tingkat inflasinya mencapai 3,28% — naik dari 108,74 pada September 2025 ke 112,31 pada September 2026.
Angka 3,28% ini tetap berada di dalam kisaran sasaran Bank Indonesia: 2,5% +/- 1% (batas 1,5%-3,5%). Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) tercatat 2,17%, menunjukkan laju kenaikan harga konsumen yang masih terkendali sepanjang tahun.
Komponen inflasi bulanan September didorong terutama oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Tekanan ini sekaligus menguatkan argumen Bank Indonesia untuk mempertahankan BI Rate di 5,75% — konsensus pasar saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026 — sekaligus memberi ruang kebijakan moneter yang tetap akomodatif namun responsif.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa intervensi rupiah kini didominasi pasar DNDF dan NDF (hanya 30% melalui spot), sehingga biaya intervensi turun dibanding periode sebelumnya. Kombinasi BI Rate agresif naik 100 bps (Mei-Juni 2026) dan intervensi yang efisien berhasil menahan inflasi tetap dalam korslet, meski tekanan yield AS dan geopolitik tetap menekan.
Fakta kunci: Inflasi September 2026 mencatat 3,28% YoY, IHK naik dari 108,74 ke 112,31; MTM 0,30%; YTD 2,17%; tetap di dalam kisaran sasaran 2,5% +/- 1%.
Surplus Neraca Dagang Agustus US$3,55 Miliar: Ekspor Tumbuh, Impor Didomin Bahan Baku
BPS juga melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencatat surplus sebesar US$3,55 miliar. Angka ini melonjak drastis dan konsisten dengan tren positif sejak Juli.
Aggregate data (Januari–Agustus 2026):
- Ekspor kumulatif: US$193,64 miliar (naik 4,74% YoY dari US$184,89 miliar)
- Impor kumulatif: US$186,39 miliar (naik 19,84% YoY)
- Surplus kumulatif: US$7,25 miliar
Di Agustus 2026 sendiri, ekspor mencapai US$26,61 miliar (naik 6,72% YoY) dan impor US$23,06 miliar (naik 19,09% YoY). Surplus bulanan tersebut sebesar US$3,55 miliar.
Romawi ekspor: Sektor industri pengolahan mendominasi dengan andil US$159,55 miliar (82,3% dari total), diikuti pertambangan & lainnya US$22,39 miliar, dan pertanian/kehutanan/perikanan US$3,09 miliar.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Saleh Husin menilai bahwa ekspor Indonesia masih memiliki prospek positif hingga akhir tahun, terutama didukung industri pengolahan yang menjadi tulang punggung ekspor. “Untuk saat ini, kenaikan impor lebih banyak menunjukkan penguatan aktivitas produksi dan investasi, karena 91,33 persen impor Januari–Agustus terdiri dari bahan baku/penyubur dan barang modal,” ujarnya.
Sementara itu, deficit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) masih menjadi sorotan. Data menunjukkan CAD mencapai 3,3% PDB pada kuartal II 2026 — rekor tertinggi sepanjang sejarah. Namun, surplus neraca perdagangan barang yang kuat memberi dukungan signifikan bagi stabilisasi likuiditas eksternal.
IHSG Koreksi 8,5%, Rebound di Oktober: Volatilitas vs Fundamental
IHSG membuka Oktober 2026 di kawasan 6.081,09 (+0,16%), setelah sempat anjlok 0,83% ke level 6.071,14 pada akhir September 2026. Pada Selasa, 29 September, IHSG sempat menyentuh level terendah 5.973,16 — terendah sejak 10 Juli 2026 — sebelum pulih ke 6.009,50 pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026 (turun 1,02%).
Koreksi ini dipengaruhi oleh gabungan faktor eksternal dan domestik:
- Yield US Treasury 10 tahun: berada di 5,20% (turun dari 5,29% akhir September), tetap tinggi sejak 2007
- Reshuffle Kabinet: pelantikan ulang Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan dan perubahan susunan kabinet menciptakan ketidakpastian jangka pendek
- Net sell asing: Rp78 triliun sepanjang September 2026, konsisten hingga awal Oktober
- Harga minyak: Brent turun 2,6% ke US$102,59/barel, WTI turun 3,5% ke US$89,38/barel pada 29 September 2026
Meski demikian, pasar global sedang menunggu data penting dari AS — inflasi PCE dan pertumbuhan ekonomi — sementara Federal Reserve Bank of New York Gubernur John Williams menyatakan bahwa The Fed masih punya waktu sebelum memutuskan untuk menaikkan suku bunga lagi.
Short Selling Resmi Diluncurkan 1 Oktober 2026: Alat Baru Manajemen Risiko
Pada Kamis, 1 Oktober 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi meluncurkan fasilitas short selling — mekanisme yang memungkinkan investor menjual saham yang belum dimiliki dengan harapan membeli kembali di harga yang lebih rendah. Peluncuran ini membuka peluang baru bagi investor untuk mengelola risiko portofolio selama koreksi pasar.
Key details:
- Tanggal peluncuran: 1 Oktober 2026
- Modal minimum: Rp50 juta
- Jumlah saham yang termasuk daftar: 500 saham termasuk ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF
- Penyelenggara: Semesta Indovest Sekuritas dan Ajaib Sekuritas Asia
Sesuai dengan Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas pasar dan memperbaiki mekanisme price discovery, meskipun sekaligus menambah volatilitas di pasar yang sudah tertekan.
Analis Cipta Cara Padu memperkirikan dampak netto positif bagi likuiditas pasar sekitar 2-4% volume perdagangan, sekaligus membuka ruang bagi arbitrase pasar yang menyeimbangkan dislokasi harga saham blue chip. Namun, para pelaku pasar diingatkan untuk memiliki disiplin manajemen risiko yang kuat sebelum menggunakan fasilitas ini.
Rupiah dan kebijakan BI: Stabilitas Terjaga di Tengah Tekanan Eksternal
Masuk Oktober 2026, rupiah berada di kisaran Rp17.750–Rp17.900 per USD. Pada perdagangan 30 September, dolar AS naik ke Rp17.885 sebelum menguat kembali di sesi berikutnya.
Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar spot (30%), DNDF, dan NDF. Gubernur Destry Damayanti mengonfirmasi bahwa intervensi spot yang "mahal" kini diminimalisir, sehingga cadangan devisa tidak tergerus secara signifikan.
Berdasarkan laporan BPS, NTP (Nilai Tukar Petani) nasional pada September 2026 tercatat 131,11 — naik 1,49% dari Agustus. Kenaikan ini dipengaruhi oleh indeks harga yang diterima petani (It) yang naik 1,93%, lebih tinggi dibanding kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,80%.
Di sisi lain, data BPS juga menunjukkan bahwa harga beras di tingkat penggilingan naik 0,81% secara bulanan pada September 2026, sementara tingkat grosir naik 0,61% dan tingkat eceran naik 0,80%. Potensi produksi beras September–November 2026 diperkirakan mencapai 7,06 juta ton — turun 11,95% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Outlook Oktober 2026: Data Domestik vs Tekanan Eksternal
Memasuki Oktober 2026, IHSG berada di zona teknis 6.400–6.800 untuk rebound jangka menengah, sekaligus menghadapi tekanan dari yield AS yang tinggi, reshuffle kabinet, dan geopolitik Timur Tengah.
Analis merekomendasikan investor fokus pada pemilihan saham (stock picking) dengan fundamental kuat, khususnya sektor keuangan (BBRI, BMRI, BCA yang dapat menahan laba tumbuh meski pasar tertekan), manufaktur/konsumen (UNVR, AA dan INDU yang relatif stabil), dan infrastruktur energi terbarukan. Sementara itu, pasar tetap waspada pada likuiditas dan volatilitas yang tinggi, terutama dengan kebijakan short selling yang baru diluncurkan.
Tiga faktor kunci yang perlu dipantau di sisa Oktober 2026 adalah: (1) hasil RDG Bank Indonesia Oktober — pasar konsensus menilik pada "hold" bila inflasi dan rupiah tidak mengalami tekanan eksternal baru; (2) data neraca perdagangan September yang akan memperkuat atau meredakan sentimen ekspor; (3) aliran modal asing yang masuk dan keluar, terutama setelah peluncuran short selling pertama.
Kesimpulan: Meski IHSG September 2026 mencatat koreksi terdalam sejak pandemi (8,5%), tulang punggung ekonomi Indonesia — inflasi, neraca perdagangan, kredit, dan PMI — tetap tampil solid. Ini adalah peluang bagi investor yang mengerti membedakan volatilitas pasar modal dari kekuatan fundamental riil.
