Jakarta, 14 Oktober 2026 — PT Astra International Tbk (ASII) mengumikan rencana tender sukarela untuk memperdalam kontrolnya di PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), di tengah kondisi pasar saham Indonesia yang masih dalam tekanan. Pengumuman ini dilakukan pada Senin, 12 Oktober 2026, dan telah mendapatkan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk dilaksanakan secara efektif.
Dilansir dari laporan Kontan yang mengutip keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), ASII berencana membeli 238.442.293 saham AUTO seharga Rp3.600 per saham, yang merepresentasikan sekitar 4,947% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan. Dengan asumsi seluruh saham yang ditawarkan terserap, total pengeluaran ASII dapat mencapai Rp858,39 miliar. Saat ini, ASII sudah menguasai 80% dari AUTO, dan dengan aksi tender ini kepemilikan dapat naik hingga maksimal 84,947%.
Senior Corporate Secretary Astra Otoparts, Sophie Handili, dalam keterbukaan informasi di BEI, menyampaikan bahwa pernyataan penawaran tender sukarela tersebut telah dinyatakan efektif oleh OJK. "Pada tanggal 12 Oktober 2026, perusahaan telah menerima pemberitahuan dari ASII yang menginformasikan bahwa ASII telah mengumumkan pernyataan penawaran tender sukarela atas saham AUTO," kata Sophie.
IHSG Bertahan di Bawah 6.000, Asing Justru Serbu Rp570 Miliar
📎 Baca Juga
Di tengah peluncuran aksi korporasi strategis ini, pasar saham Indonesia masih berada di bawah tekanan. IHSG ditutup melemah 0,17 persen ke level 5.925,97 pada selasa, 13 Oktober 2026, bertahan di bawah level psikologis 6.000 untuk sesi ketiga berturut-turut. Ini menyusul koreksi kuat 2,59 persen ke 5.936 pada Senin yang lalu.
Meskipun tekanan jual masih mendominasi, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp570,4 miliar pada Selasa (13/10/2026), menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business yang dilaporkan oleh Investor.ID. Ini merepresentasikan lonjakan lebih dari 4,4 kali lipat dari Senin yang hanya Rp128,29 miliar.
Di antara saham yang dibeli asing, ASII menjadi saham dengan net buy terbesar sebesar Rp44,7 miliar, diikuhi oleh TINS (Rp35,2 miliar). Pola ini mengungkapkan strategi investor asing yang beralih ke sektor infrastruktur dan komoditas, sementara mengurangi posisi di sektor keuangan. Net sell terbesar terjadi pada BMRI (Rp120 miliar), TLKM (Rp74,76 miliar), dan BBRI (Rp65,31 miliar).
"Tekanan datang dari berbagai arah, mulai dari aksi jual saham teknologi global akibat kekhawatiran terhadap prospek AI, lonjakan harga minyak, hingga penantian data inflasi AS," ujar analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas, sebagaimana dikutip Investor.ID.
Tender Sukarela ASII: Strategi Konsolidasi di Tengah Volatilitas
Tender sukarela untuk AUTO ini dapat dilihat sebagai indikator keyakinan ASII pada prospek jangka panjang anak usahanya. Dengan harga penawaran Rp3.600 per saham, strategi ini menawarkan harga yang lebih baik dibandingkan harga pasar terbaru AUTO.
Pada perdagangan Senin (12/10), saham AUTO ditutup naik tipis 0,3 persen ke level Rp3.380, meskipun turun 2,87% dalam lima hari terakhir. Sementara saham ASII ditutup di Rp4.810 per saham, melemah tipis 0,21% pada hari itu namun naik 0,84% dalam lima hari.
Dari perspektif kepemilikan, konsolidasi ini memberi ASII kontrol yang lebih kuat atas rantai pasok otomotif dan komponennya. AUTO menyediakan komponen otomotif untuk kendaraan ringan dan berat, serta sistem transmisi — keyakin di pasar otomotif Indonesia yang sedang bertransformasi menuju EV.
Valuasi Menarik: PER IHSG 10 Kali, Diskon 27% dari Historis
Di tengah ketidakpastian pasar global, beberapa analis mulai melihat peluang di pasar saham Indonesia yang relatif murah. RHB Sekuritas, dalam risetnya yang dilaporkan Investor.ID pada Selasa (13/10), memotong target indeks saham 2026 dari 7.300 menjadi 7.000, namun menekankan bahwa PER IHSG hanya 10 kali, diskon 27 persen dari rata-rata historis.
"Rebound indeks saham pada kuartal III-2026 akhirnya berujung pada tekanan jual hebat pada September 2026. Namun, valuasi yang relatif murah ini mencerminkan peluang bagi investor yang memiliki risk appetite untuk memanfaatkan koreksi," tulis RHB Sekuritas.
Phintraco Sekuratas memperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 5.800–6.000 selama indeks bertahan di bawah level 6.000. Sementara MNC Sekuritas menunjukkan resistance terdekat IHSG berada di 5.943–5.978, dengan support penting di 5.744–5.794.
Rupiah Stabilisasi, Menunggu CPI AS dan Keputusan The Fed
Rupiah sedikit menguat 0,04 persen ke level Rp17.896 per dolar AS pada Selasa, di tengankan indeks dolar AS yang masih bertahan di sekitar 102. Menurut analis, sentimen negatif berasal dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, harga minyak Brent yang bertahan di atas US$105 per barel, dan ekspektasi akan data inflasi AS (CPI September) serta kebijakan The Fed.
Di sisi lain, sektor keuangan masih tertekan dengan net sell total Rp84,99 triliun oleh investor asing sepanjang 2026, melebihi level yang terjadi pada krisis 2008 dan 2020. Otoritas Jasa Keuangan dan regulator pasar sedang memperkuat reformasi pasar modal, termasuk kebijakan exit bagi emiten dengan free float di bawah 15%.
Outlook: Apakah Tender ASII Jadi Sorotan Pasar?
Penyelenggaraan tender sukarela ini menambah ketekanan pada emiten- emiten yang sedang melaju di pasar, terutama di tengah koreksi IHSG. Para analis memantau erat respons pasar terhadap keputusan ini, terutama mengingat momentum konsolidasi yang sedang berlangsung di sejumlah sektor.
Untuk perdagangan Rabu (14/10/2026), MNC Sekuritas memberikan rekomendasi saham: ARCI, BMRI, INDY, dan MIDI. Sementara itu, Phintraco Sekuritas menekankan bahwa breakout di atas level 6.000 dengan kuat bisa menjadi sinyal balik kuat bagi pasar saham Indonesia.
Di tengah ketegangan geopolitik yang memanas dan harga minyak yang tetap tinggi, keputusan strategis seperti tender ASII untuk AUTO justru menjadi contoh nyata bahwa emiten blue chip Indonesia tidak kehilangan inisiatif untuk mengoptimalkan struktur kepemilikan dan nilai pasar, meskipun pasar global masih volatile.
