Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
๐Ÿ† Best Score
IHSG negatif โฑ 7 menit

Asing Net Sell Rp1,7 Triliun di September, Tapi TINS Naik 20%: Paradoks IHSG di Tengah Tekanan Yield AS dan Rupiah Menuju Rp18.000

Asing Net Sell Rp1,7 Triliun di September, Tapi TINS Naik 20%: Paradoks IHSG di Tengah Tekanan Yield AS dan Rupiah Menuju Rp18.000
Wikimedia Commons (File:IDX-building.jpg)

IHSG ditutup melemah 0,90% ke 6.241,89 pada Jumat (25/9/2026), dengan koreksi 3,09% sepanjang minggu. Tekanan berasal dari yield US Treasury 10 Tahun yang mencapai 5,2% (tertinggi sejak 2007), rupiah yang melemah ke Rp17.916 per dolar AS, dan dolar asing yang keluar dari pasar emergen. Meski demikian, saham PT Timah (TINS) justru menguat 20,35% dalam sebulan hingga Rp4.850 per saham, ditopang pemulihan produksi tambang (bijih naik 75%, logam naik 58% YoY). Rupiah yang melemah menambah tekanan pada emiten dengan utang berdenominasi dolar AS, sementara BEI menyuspend 72 saham yang gagal menyampaikan laporan keuangan kuartal I 2026.

Pasar modal Indonesia berada di tengah paradoks yang menarik. Di satu sisi, investor asing terus mencatatkan aksi jual bersih โ€” dalam satu bulan September 2026 saja, net sell asing mencapai Rp1,70 triliun, dengan Rp420,55 miliar dalam sepekan dan Rp57,71 miliar pada perdagangan Kamis (24/9). Tekanan ini mendorong IHSG anjlok 3,09% sepanjang minggu ke level 6.241,89 pada penutupan Jumat (25/9/2026), sementara rupiah melemah 0,55% ke Rp17.916 per dolar AS, semakin dekat ke ambang kritis Rp18.000.

Namun di sisi lain, saham PT Timah Tbk (TINS) justru menunjukkan kekuatan luar biasa. Pada perdagangan Kamis (24/9), TINS ditutup naik 1,04% ke level Rp4.850 per saham, menguat 3,19% dalam sepekan dan 20,35% dalam sebulan. Fenomena ini mencerminkan decoupling antara sentimen asing yang bearish dan sentimen domestik yang didorong oleh pemulihan sektor tambang dan komoditas.

Asing Net Sell Rp1,7 Triliun, IHSG dan Rupiah Ditekan

๐Ÿ“Ž Baca Juga

Investor asing terus mengalirkan dana keluar dari pasar modal Indonesia sejak awal September 2026. Data hingga 24 September 2026 menunjukkan net sell asing mencapai Rp1,70 triliun dalam satu bulan, Rp420,55 miliar dalam sepekan, dan Rp57,71 miliar pada perdagangan Kamis saja. Tiga faktor utama mendorong aliran keluar ini: (1) yield US Treasury 10 Tahun yang mencapai 5,2% โ€” tertinggi sejak 2007 โ€” yang membuat aset pasar berkembang kurang menarik dibanding surat berharga pemerintah AS; (2) pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS; dan (3) ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih hawkish.

Secara spesifik, IHSG ditutup melemah 0,90% ke 6.241,89 pada Jumat (25/9/2026), dengan previous close di 6.374,91. Dalam seminggu, indeks mencatat koreksi 3,09% dengan 118 saham naik, 558 turun, dan 117 stagnan โ€” menunjukkan tekanan jual yang masih mendominasi. Sementara itu, rupiah berada di kisaran Rp17.916 per dolar AS pada Kamis (24/9), hampir menyentuh level Rp18.000 yang terakhir terlihat pada Juni 2026. Pada awal September, rupiah sempat bertengger di kisaran Rp17.500 per dolar AS.

Paradoks TINS: Naik 20% Meski Asing Jual

Di tengah tekanan jual asing yang agresif, saham PT Timah Tbk (TINS) menunjukkan performa yang cukup kontradiksi. Pada perdagangan Kamis (24/9), TINS ditutup naik 1,04% ke level Rp4.850 per saham. Akumulasi kenaikan mencapai 3,19% dalam sepekan dan 20,35% dalam sebulan โ€” menunjukkan bahwa momentum domestik mampu menaklukkan tekanan jual asing.

Penguatan TINS didorong oleh dua faktor struktural. Pertama, pemulihan produksi tambang yang signifikan โ€” produksi bijih timah tumbuh 75% dan produksi logam naik 58% secara tahunan, didorong harga timah yang tetap tinggi dan penertiban terhadap tambang ilegal yang meningkatkan supply chain resmi. Kedua, sentimen domestik yang mendukung sektor tambang sebagai salah satu pilar ekspor andalan Indonesia. Investor lokal dan diler lokal tetap membeli TINS meski asing menjual, mencerminkan kepercayaan pada fundamental sektor ini.

Pada sisi lain, komoditas lain juga menunjukkan sinyal campuran. Harga emas global turun 1,76% dalam seminggu ke US$4.306 per ons, tekanan DXY ( indeks dolar) kembali di atas 101, dan harga minyak mentah tetap berada di atas US$100 per barel. Kombinasi ini menciptakan lingkungan risk-off yang menekan mayoritas saham emergen, tetapi sektor tambang Indonesia tampaknya cukup terskyrock dari tekanan asimilatif ini.

BEI Tindak Keras: 72 Saham Disuspend Tak Lapor Keuangan

Di tengah ketidakpastahan pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) turun tangan keras dalam menegakkan disiplin pasar modal. BEI mengungkapkan bahwa sebanyak 904 dari 1.068 perusahaan tercatat di Bursa wajib menyampaikan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026. Dari jumlah tersebut, 838 emiten sudah menyampaikan laporan โ€” namun sisanya, 73 perusahaan, belum memenuhi kewajiban tersebut hingga tenggat waktu 29 Agustus 2026.

Akibatnya, BEI telah melakukan suspensi saham terhadap 72 perusahaan yang gagal menyampaikan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026 yang diaudit oleh Akuntan Publik hingga tanggal 29 Juli 2026. Suspen ini dilaksanakan pada 30 Juli 2026. Satu emiten lainnya yang gagal menyampaikan laporan keuangan audit hingga 29 Agustus 2026 dikenakan Peringatan Tertulis III dan denda sebesar Rp150 juta.

Langkah BEI ini sekaligus mencerminkan upaya memperketat pengawasan pasar modal di tengah ketidakstabilan eksternal. Dengan likuiditas pasar yang tertekan dan aliran kapital keluar, pasar modal Indonesia semakin membutuhkan transparansi dan disiplin dari emiten-imeiten agar dapat mempertahankan likuiditas yang cukup.

Rupiah Menuju Rp18.000, Tekan Emiten Beban Dolar

Tekanan yang menghantam rupiah kembali datang dan menjadi sinyal bahaya bagi emiten-emiten yang mempunyai kewajiban dalam dolar Amerika Serikat. Pada Kamis (24/9), kurs rupiah di pasar spot melemah 0,55% ke level Rp17.916 per dolar AS, hampir kembali menyentuh level Rp18.000 โ€” seperti yang terjadi pada Juni 2026 lalu. Padahal, awal September ini, rupiah sempat bertengger di kisaran Rp17.500 per dolar AS.

Pelemahan ini menimbulkan tekanan langsung pada emiten dengan utang berdenominasi dolar AS. Emiten yang menanggung kewajiban berdolar AS terancam oleh tren pelemawan nilai tukar rupiah โ€” setiap penurunan rupiah meningkatkan beban servis utang dan menggerogoti laba bersih perusahaan yang memiliki ekspor aset dalam dolar.

Di samping itu, beberapa faktor domestik juga turut memicu tekanan ini. Fenomena El Nino yang sedang aktif berpotensi menekan produksi tandan buah segar (TBS) dengan jeda dampak sekitar enam hingga 18 bulan ke depan. Pengesahan Undang-Undang Pengaturan Reforma Agraria juga menyebabkan para investor mencermati pengembang dengan land bank besar dan terkonsentrasi. Di lain sisi, penurunan bea impor akan membuat CPO lebih kompetitif dan mendukung permintaan India, dampaknya kemungkinan bertahap.

Sementara itu, jumlah penumpang KRL (Kereta Rel Kencana) saat ini telah mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari, atau tumbuh 11,3% dibandingkan dengan 2025. Ini menjadi sinyal bahwa sektor infrastruktur dan transportasi masih mendukung pertumbuhan domestik meski tekanan eksternal kuat.

Proyeksi dan Rekomendasi: IHSG Dipengaruhi Yield AS, Ini Emits yang Dipantau

Untuk perdagangan Senin (28/9/2026) depan, IHSG diproyeksikan masih rawan mengalami koreksi lanjutan dengan support di level 6.186 dan resistance di 6.297. Tiga sentimen akan menjadi penggerak: (1) pasar mencermati pergerakan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp18.000 dan apakah Bank Indonesia akan mengintervensi; (2) yield US Treasury 10 Tahun yang sudah di atas 5% akan terus menjadi penekan pasar; dan (3) implementasi kebijakan BEI terkait batas minimum Rp1 per saham yang dapat meningkatkan volatilitas pada emiten dengan harga di bawah Rp50.

Di tengah ketidakpastahan ini, saham-saham dengan fokus domestik dan sektor komoditas โ€” seperti TINS, ANTM, dan BUMI โ€” tampak lebih tahan banding saham keuangan yang banyak membuka eksposur ke pasar luar negeri. Investor disarankan untuk selektif dan mengutamakan likuiditas tinggi serta fundamental yang kuat dalam menghadapi kondisi pasar yang volatil.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org โ€” menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Share: WhatsApp ๐• Twitter
Sumber: https://insight.kontan.co.id/news/asing-net-sell-rp-17-triliun-tapi-saham-tins-malah-naik-20-ini-pemicunya, https://insight.kontan.co.id/news/rupiah-ambruk-emiten-dengan-beban-dolar-terpuruk, https://investasi.kontan.co.id/news/73-emiten-mangkir-laporan-keuangan-kuartal-i-2026-bei-sudah-suspensi-72-saham, Yahoo Finance - ^JKSE (IDX Composite) chart data