Perombakan pucuk pimpinan bank sentral Indonesia memasuki babak paling krusial. Lebih dari dua pekan setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 25 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto terus mematangkan proses suksesi jabatan yang sangat penting bagi stabilitas moneter dan pasar keuangan nasional itu. Kabar terbaru, Prabowo dilaporkan telah memanggil sejumlah sosok sebagai bagian dari proses seleksi calon Gubernur BI definitif.
Proses Seleksi Berlanjut: Surpres Belum Dikirim, Keputusan Ditunggu Pekan Ini
📎 Baca Juga
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa pihak istana masih memproses penggantian Perry Warjiyo. Hingga awal Agustus 2026, Presiden belum mengirimkan Surat Presiden (Surpres) kepada DPR RI terkait calon definitif Gubernur BI. Ia sempat menyatakan bahwa keputusan calon Gubernur BI akan diputuskan pekan ini, dan Presiden masih banyak berdiskusi serta mempertimbangkan sejumlah nama yang masuk dalam bursa.
Perwakilan DPR merespons proses ini dengan menyatakan kesiapan untuk menggelar fit and proper test begitu nama resmi diterima. Anggota DPR menegaskan bahwa sosok calon Gubernur BI harus memiliki rekam jejak kebijakan moneter yang mumpuni, mampu berkoordinasi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), serta menjaga independensi bank sentral dari tekanan politik maupun fiskal.
Deretan Kandidat di Bursa: Destry Damayanti hingga Chatib Basri
Nama Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI yang kini menjabat sebagai Pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI, menjadi kandidat terdepan dan paling banyak disebut. Destry diangkat sebagai Pjs Gubernur melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 26 Juli 2026 untuk menjaga roda kebijakan bank sentral pasca-pengunduran diri Perry. Pengalamannya yang lengkap di sektor ekonomi, perbankan, dan pasar keuangan membuatnya dianggap figur yang tepat, termasuk oleh Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, yang menyebut Destry mampu menghadapi tantangan ekonomi global dan komunikasi pasar yang semakin kompleks.
Selain Destry, sejumlah nama lain turut meramaikan bursa. Muhammad Chatib Basri, ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, dan Muliaman D. Hadad, mantan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang kini menjabat Ketua Dewan Komisioner LPS, disebut-sebut dalam daftar. Nama lain yang beredar di publik termasuk Thomas A.M. Djiwandono, anggota parlemen sekaligus keponakan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang pernah menjadi Wamenkeu, serta Aida S. Budiman dan Burhanuddin Abdullah, mantan Gubernur BI. Sementara itu, ekonom Purbaya Yudhi Sadewa telah menepis kabar dirinya mencalonkan diri dan menyatakan tidak mengajukan diri untuk jabatan tersebut.
Tantangan Baru Penjaga Bank Sentral: Tak Cuma Soal Suku Bunga
Sosok Gubernur BI yang baru akan langsung menghadapi lanskap kebijakan yang penuh tantangan. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian menilai pekerjaan rumah pemimpin BI baru bukan sekadar soal arah suku bunga, melainkan juga mencakup strategi komunikasi pasar yang efektif, pengelolaan nilai tukar rupiah di tengah volatilitas global, dan menjaga kredibilitas kebijakan moneter.
Pasar datang dari momentum positif. Sepanjang pekan 3-7 Agustus 2026, IHSG melejit 2,78% ke level 6.409,65 dan menembus level psikologis 6.400 sekaligus menjadi penguat tertinggi di kawasan ASEAN, ditopang pembalikan aksi beli asing (net buy) serta geliat saham perbankan dan tambang. Di pasar valas, rupiah menguat 0,69% dalam sepekan dan ditutup di level Rp17.897 per dolar AS pada Jumat (7/8/2026), bahkan sempat menyentuh area Rp17.800-an. Kombinasi momentum pasar yang positif dan ketidakpastian suksesi bank sentral menjadikan kejelasan nama Gubernur BI baru sebagai katalis penting yang ditunggu pelaku pasar.
Rajutan: Apa yang Dicari Pasar dari Gubernur BI Baru?
Bagi investor, kejelasan kepemimpinan BI adalah bumbu stabilitas. Sikap pasar yang relatif tenang meski ada transisi di pucuk bank sentral menunjukkan ekspektasi bahwa arah kebijakan moneter, termasuk komitmen menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, akan tetap berlanjut. Kunci yang paling dinantikan adalah figur yang independen, memiliki rekam jejak kuat, dan mampu menavigasi ketegangan global — mulai dari konflik geopolitik Timur Tengah, kebijakan suku bunga The Fed, hingga dinamika arus modal asing.
Proses yang transparan dan tepat waktu akan memperkuat kepercayaan pasar. Dengan keputusan yang ditargetkan pekan ini, para investor kini mencermati satu per satu nama yang dipanggil ke Istana sebagai sinyal arah kebijakan moneter Indonesia untuk sisa masa jabatan hingga 2028.
