Nilai tukar rupiah kembali perkasa. Pada perdagangan Kamis (6/8/2026), dolar AS terpantau melemah ke posisi Rp17.912 per dolar AS, memperpanjang tren penguatan rupiah yang mulai tampak sejak sepekan terakhir. Posisi ini semakin menjauh dari level psikologis Rp18.000 yang sempat menjadi momok bagi pasar keuangan Tanah Air pada semester pertama 2026.
Penguatan ini datang setelah sejumlah katalis domestik dan global bermuara dalam waktu hampir bersamaan. Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (yoy) pada kuartal II-2026, di atas ekspektasi pasar. Dari eksternal, meredanya ketegangan di Timur Tengah setelah ada harapan rencana kesepakatan damai Iran-AS ikut meredam permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Tren Penguatan Rupiah Sepekan Terakhir
đ Baca Juga
- Bursa Calon Gubernur BI: Prabowo Panggil Sejumlah Sosok, Destry Damayanti Masuk Radar â Begini Dampaknya ke IHSG dan Rupiah
- Rupiah Balik Melemah Mendekati Rp18.000, BI Umumkan Cadangan Devisa Stabil US$145,3 Miliar
- Rupiah Melemah Balik Tembus Rp18.000, DXY Berhenti di Level Psikologis 100 â Ini Pemicu dan Prospeknya
Gerak menguat rupiah sebenarnya sudah terlihat bertahap. Pada awal Agustus 2026, kurs masih berada di area Rp17.986 per dolar AS (3 Agustus) dan turun ke Rp17.974 per dolar AS (5 Agustus), sebelum akhirnya menyentuh Rp17.912 per dolar AS pada Kamis (6/8). Arah ini kontras dengan kondisi Juli lalu, ketika rupiah sempat tertekan dan berulang kali menguji posisi di atas Rp17.900, bahkan sempat menembus area Rp18.000 seiring gejolak pasar global dan domestik.
Analis menilai pelemahan dolar AS kali ini tidak lepas dari koreksi permintaan pelaku pasar global terhadap aset dolar, ditopang ekspektasi longgarnya kebijakan moneter negara maju serta meredanya ketegangan geopolitik. Di sisi lain, fundamental domestik yang terjaga memberi ruang bagi rupiah untuk menahan laju depresiasi.
Katalis Domestik: PDB di Atas Ekspektasi dan Sinergi Kebijakan
Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29% yoy menjadi sinyal bahwa konsumsi dan aktivitas investasi masih kuat di tengah ketidakpastian global. Data ini pun disebut menjadi salah satu faktor yang menahan arus keluar modal asing dan mendorong penguatan nilai tukar.
Sinyal koordinasi kebijakan juga kian nyata. Pemerintah dan Bank Indonesia sepakat menjaga stabilitas rupiah, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia, di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas Gubernur Destry Damayanti pasca mundurnya Perry Warjiyo, diketahui telah menaikkan BI Rate hingga total 100 basis poin (bps) pada periode kebijakan ketat. Pengetatan ini terbukti turut menarik minat asing: aliran modal asing tercatat masuk hingga US$9 miliar pada kuartal II-2026.
Redanya Geopolitik Global Ikut Menopang
Dari sisi eksternal, meredanya ketegangan Iran-AS menjadi angin segar bagi rupiah. IHSG dan rupiah sama-sama dibuka menguat pada Kamis (6/8/2026) seiring harapan rencana kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat. Turunnya premi risiko geopolitik membuat dolar AS kehilangan sebagian daya tariknya sebagai aset lindung nilai.
Kendati menguat, sejumlah analis mengingatkan penguatan rupiah bisa berfluktuasi. Pasar masih menantikan data ketenagakerjaan AS (Nonfarm Payrolls/NFP) serta arah kebijakan The Fed. Investor juga disarankan mencermati kebutuhan pasokan modal asing yang diproyeksikan mencapai US$11 miliar pada semester II-2026 untuk menjaga stabilitas.
Proyeksi ke Depan
Dengan fundamental domestik yang solid dan meredanya tekanan global, rupiah dinilai berpeluang bertahan di area Rp17.800-Rp17.950 dalam jangka pendek jika data global tidak mengejutkan. Namun, volatilitas tetap menjadi kata kunci. Pergerakan kurs akan sangat ditentukan oleh data tenaga kerja AS, kebijakan The Fed, dan komitmen pemerintah serta Bank Indonesia menjaga pasokan valas.
