Pergerakan nilai tukar rupiah pada Jumat, 7 Agustus 2026, kembali berbalik melemah setelah sehari sebelumnya sempat menunjukkan penguatan. Berdasarkan data yang dihimpun dari pasar spot, rupiah dibuka melemah ke kisaran Rp17.935 hingga Rp17.941 per dolar AS pada pagi hari, mendekati kembali level psikologis Rp18.000 yang sempat ditembus pada perdagangan pekan sebelumnya.
Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen yang beragam. Di satu sisi, dolar AS menunjukkan penguatan terhadap mayoritas mata uang kawasan Asia seiring ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya kembali memanasnya isu Selat Hormuz. Namun di sisi lain, fundamental ekonomi domestik yang solid masih menjadi penopang agar rupiah tidak jatuh terlalu dalam.
Cadangan Devisa Stabil US$145,3 Miliar, Setara 5,5 Bulan Impor
đ Baca Juga
- Bursa Calon Gubernur BI: Prabowo Panggil Sejumlah Sosok, Destry Damayanti Masuk Radar â Begini Dampaknya ke IHSG dan Rupiah
- Rupiah Rebound ke Rp17.912, Tinggalkan Zona Rp18.000: PDB 5,29% dan Damai Iran-AS Jadi Katalis
- Rupiah Melemah Balik Tembus Rp18.000, DXY Berhenti di Level Psikologis 100 â Ini Pemicu dan Prospeknya
Bank Indonesia (BI) pada Jumat pagi merilis data posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 yang tercatat sebesar US$145,3 miliar, relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya. Dalam nilai rupiah, cadangan devisa tersebut setara dengan sekitar Rp2.606 triliun, didukung penerimaan pajak dan penerbitan global bond, meski sedikit menurun dari bulan sebelumnya.
Menurut keterangan BI, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini masih berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya sekitar tiga bulan impor. BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Rupiah di Antara Dua Tekanan: Selat Hormuz dan Kekosongan Kursi Gubernur BI
Pelemahan rupiah pada perdagangan kali ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, harga minyak dunia kembali naik setelah Iran mengancam akan membatasi pelayaran di Selat Hormuz â pembalikan dari sentimen damai yang sempat meredakan pasar pada awal pekan. Kenaikan harga minyak dan tekanan geopolitik umumnya mendorong penguatan dolar AS dan melemahkan mata uang negara-negara importir minyak seperti Indonesia.
Sementara dari sisi domestik, pelaku pasar masih mencermati proses seleksi dan pengumuman calon Gubernur Bank Indonesia yang kursinya tengah kosong. Ketidakpastian arah kebijakan moneter membuat investor lebih berhati-hati, terlihat dari investor asing yang kembali mencatatkan penjualan bersih (net sell) di pasar saham. Meski begitu, analis dari ICDX dan sejumlah pengamat memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat didukung fundamental ekonomi Indonesia yang tetap terjaga.
Proyeksi Pergerakan: Rentang Rp17.850-Rp17.970
Untuk perdagangan hari ini, proyeksi pergerakan rupiah berada di kisaran Rp17.850-Rp17.970 per dolar AS. Pelaku pasar masih menantikan data penting termasuk hasil peninjauan indeks MSCI dan pengumuman FTSE Russell pada periode 10-14 Agustus 2026. Keputusan lembaga pemeringkat internasional tersebut berpotensi memengaruhi aliran dana asing masuk atau keluar dari pasar Indonesia, yang pada akhirnya ikut menentukan pergerakan rupiah.
Kesimpulan
Rupiah yang kembali melemah mendekati Rp18.000 menunjukkan tekanan masih nyata di tengah ketidakpastian global. Namun, cadangan devisa yang stabil di US$145,3 miliar memberikan bantalan yang cukup bagi BI untuk menjaga stabilitas kurs. Kunci pergerakan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh keputusan mengenai kursi Gubernur BI, hasil tinjauan indeks global, serta dinamika geopolitik Selat Hormuz.
