Ekonomi RI Tumbuh 5,29%: Data PDB Kuartal II-2026 Lampaui Ekspektasi
đ Baca Juga
- IHSG Hari Ini 10 Agustus 2026: Menguat ke 6.423, Pekan Ini Wait and See Jelang Data Inflasi AS & Rebalancing MSCI
- IHSG Tembus 6.400 di Pekan 3-7 Agustus: Investor Ritel 30 Juta SID Jadi Pilar Baru, Asing Balik Borong Rp1,24 Triliun
- IHSG Sepekan Melonjak 2,78% ke 6.409: Asing Balik Net Buy Rp1,24 Triliun, Pasar Modal Ukir Rekor 30 Juta Investor
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II-2026. Realisasi ini tercatat lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 15 lembaga dan institusi, yang hanya memperkirakan pertumbuhan 5,12% secara tahunan.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi Indonesia juga tumbuh kuat sebesar 3,73% dibandingkan kuartal I-2026. Capaian ini menandakan perekonomian berhasil bangkit setelah pada kuartal sebelumnya terkontraksi 0,77% secara kuartalan. Adapun berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB), ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 atas dasar harga berlaku tercatat mencapai Rp6.552,1 triliun, sementara PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp3.576,2 triliun.
Perlu dicatat, secara tahunan pertumbuhan kuartal II-2026 masih melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%. Namun, realisasi 5,29% tetap lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal II-2025 yang sebesar 5,12%, sekaligus melampaui proyeksi para ekonom. Pertumbuhan yang solid ini datang di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi, menjadikannya sinyal ketahanan fundamental ekonomi domestik.
IHSG Langsung Menguat 0,62% ke Level 6.359
Pengumuman data pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari ekspektasi langsung mendapatkan respons positif dari pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,62% ke level 6.359,48 pada pukul 11.20 WIB, Rabu (5/8/2026), selepas BPS mengumumkan data PDB.
Sebelumnya, IHSG sebenarnya sudah bertahan di zona hijau sepanjang perdagangan pagi. Pada pembukaan perdagangan, IHSG berada di level 6.343,68, naik 24,07 poin atau 0,38% dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.319,61. Sektor yang menjadi penopang utama pergerakan indeks adalah properti yang naik sekitar 1,97%, disusul sektor bahan baku 1,90%, kesehatan 1,72%, serta teknologi 1,65%.
Sektor barang konsumsi primer ikut menguat 1,09%, energi naik 1,08%, sementara transportasi dan logistik bertambah 0,47%. Sektor perindustrian tercatat relatif stagnan. Di sisi lain, sektor infrastruktur menjadi pemberat terbesar setelah melemah 0,25%. Sektor keuangan terkoreksi tipis 0,13%, sedangkan barang konsumsi non-primer turun 0,05%.
Pergerakan naik IHSG ini memperpanjang momentum penguatan yang sudah terlihat pada perdagangan sebelumnya. Pada Selasa (4/8/2026), IHSG ditutup naik 1,37% ke level 6.319,61, sekaligus menembus level psikologis 6.300 dan menjadi level penutupan tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Asing Kembali Borong Saham Perbankan
Masuknya dana asing menjadi salah satu pendorong utama reli IHSG. Pada perdagangan Selasa (4/8/2026), investor asing membukukan beli bersih (net buy) sebesar Rp623,5 miliar di seluruh pasar. Aksi beli tersebut terkonsentrasi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi saham yang paling banyak dikoleksi investor asing dengan nilai beli bersih mencapai Rp404,4 miliar. Disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar Rp129,9 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Rp116,1 miliar, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) Rp101,2 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Rp94,1 miliar.
Selain perbankan, investor asing juga mengoleksi saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Timah Tbk. (TINS), PT Gudang Garam Tbk. (GGRM), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI). Masuknya arus modal asing ini menandakan kepercayaan investor global terhadap fundamental pasar saham Indonesia yang membaik.
Rupiah Perkasa, Dolar AS Turun ke Rp17.905
Penguatan ekonomi domestik juga tercermin pada nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Refinitiv, pada Rabu (5/8/2026) pukul 11.15 WIB, rupiah menguat 0,61% ke posisi Rp17.905 per dolar AS. Penguatan tersebut semakin tajam dibandingkan pembukaan perdagangan pagi tadi, ketika rupiah terapresiasi 0,32% ke posisi Rp17.957 per dolar AS.
Capaian pertumbuhan 5,29% menjadi sentimen positif bagi rupiah karena menunjukkan ekonomi domestik masih mampu tumbuh solid di tengah tekanan eksternal. Pelemahan indeks dolar AS ke level 99,85 turut mendukung penguatan rupiah, seiring membaiknya sentimen risiko global.
Sentimen Global: Wall Street Cetak Rekor, Harga Minyak Terkoreksi
Pergerakan IHSG juga ditopang sentimen global yang positif. Wall Street kembali ditutup menguat dan mencetak rekor baru, didukung ekspektasi penurunan tekanan inflasi dari turunnya harga energi serta data ekonomi AS yang menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja. Indeks S&P 500 melonjak 1,8% dan ditutup di atas level 7.700 untuk pertama kalinya dalam sejarah, sementara Dow Jones Industrial Average melesat lebih dari 900 poin dan kembali mencatat rekor penutupan tertinggi.
Optimisme pasar juga didorong oleh dilaporkannya kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, yang memicu harapan meredanya ketegangan geopolitik. Hal ini membuat harga minyak dunia terkoreksi lebih dari 5%, dengan kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 5,7% dan ditutup di level US$75,77 per barel.
Lebih dari itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,627%. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan minat investor terhadap aset-aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Bursa Asia-Pasifik pun dibuka menguat, dengan indeks Kospi Korea Selatan melonjak lebih dari 4%, Nikkei 225 Jepang menguat sekitar 1,83%, serta S&P/ASX 200 Australia bergerak di zona hijau.
Prospek IHSG dan Pasar Modal ke Depan
Dengan rilis pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi, pelaku pasar selanjutnya akan mencermati apakah realisasi tersebut mampu menjaga optimisme terhadap prospek konsumsi domestik, investasi, dan kinerja emiten pada semester II-2026. Data makro yang solid menjadi modal penting bagi momentum penguatan IHSG yang sudah menembus level 6.300.
Musim laporan keuangan emiten turut menjadi perhatian. Momentum penguatan diperkirakan akan terus didukung oleh kinerja emiten perbankan dan sektor-sektor unggulan yang mencatat laba solid. Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati risiko dari arah kebijakan suku bunga global, pergerakan arus modal asing, serta dinamika geopolitik yang masih fluktuatif.
Level psikologis 6.300 yang kini berhasil ditembus menjadi pijakan baru bagi IHSG untuk menuju level berikutnya. Dengan didukung fundamental ekonomi yang tumbuh di atas 5%, pasar saham Indonesia memiliki landasan yang cukup kuat untuk melanjutkan tren positif dalam beberapa pekan ke depan.
