S&P Pertahankan Rating BBB, Fundamental Makro RI Solid
📎 Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun — Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun — Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an — Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings kembali menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB (jangka panjang) dan A-2 (jangka pendek) dengan outlook stabil pada pertengahan Juli 2026. Keputusan ini menjadi angin segah di tengah gejolak pasar keuangan global. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa keputusan S&P ini sekaligus membuktikan independensi Bank Indonesia tidak terganggu oleh regulasi baru.
"Selama ini selalu dikaitkan independensi BI. Tapi S&P melihat independensi BI tidak ada masalah di sini," tegas Destry dalam acara Investment Forum 2026 CNBC Indonesia di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Fundamental makroekonomi Indonesia memang menunjukkan kinerja solid. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61%, naik dari 5,39% pada kuartal IV-2025, menjadikannya salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20. Cadangan devisa tercatat US$ 145,6 miliar pada Juni 2026, naik dari US$ 144,9 miliar di bulan sebelumnya. Inflasi di sisi konsumen Amerika Serikat juga melandai ke 3,5% year-on-year pada Juni 2026, lebih rendah dari 4,2% di bulan sebelumnya, meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap suku bunga global.
Ironi Pasar: IHSG Stagnan, Rupiah Masih Tertekan
Namun data makro yang solid belum mampu mendorong optimisme pasar secara langsung. Pada perdagangan Rabu (15/7/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup stagnan dengan pergerakan hanya 2,45 poin atau 0,04% ke level 6.041,97. Sebanyak 348 saham naik, 286 saham turun, dan 331 tidak bergerak. Nilai transaksi masih di bawah rata-rata harian, yakni Rp 11,12 triliun dengan melibatkan 21,54 miliar saham dalam 2 juta kali transaksi.
IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.081,23 (+0,69%) dan titik terendah 6.007,17 (-0,54%) sebelum akhirnya ditutup flat. Sektor kesehatan, konsumer primer, teknologi, dan konsumer nonprimer menjadi sektor yang mengganjal pergerakan IHSG lebih lanjut. Sementara sektor utilitas, bahan baku, dan properti menjadi penopang. Emiten bank jumbo seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI) kembali menjadi garda terdepan yang menjaga IHSG dari tekanan jual lebih dalam.
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat tipis 0,11% ke posisi Rp 18.060 per dolar AS pada hari yang sama, melanjutkan tren pemulihan meskipun masih jauh dari level sebelum tekanan besar beberapa pekan lalu. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp 18.050 - Rp 18.080.
Jurus BI: SBN dan SRBI Kebanjiran Dana Asing Rp 105 Triliun
Untuk mengatasi tekanan pasar, Bank Indonesia mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin (bps) dalam periode Mei hingga Juni 2026. Langkah ini bertujuan untuk melakukan repricing portofolio pasar uang Indonesia, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Hasilnya mulai terlihat. Berdasarkan data BI, terjadi arus masuk (inflow) dana asing di SBN pada Juni hingga awal Juli 2026 sebesar Rp 33 triliun dan SRBI sebesar Rp 72 triliun. Total mencapai Rp 105 triliun dalam periode tersebut.
"Secara keseluruhan SBN inflow Rp 17,7 triliun karena kuartal I negatif dan SRBI Rp 174 triliun, di saham ada repricing sehingga inflow Rp 132 triliun," papar Destry dalam kesempatan yang sama.
Ia juga memastikan kecukupan likuiditas perbankan akan terus terjaga melalui instrumen Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Hingga akhir Juni 2026, BI telah mengucurkan likuiditas setara Rp 497 triliun bagi perbankan yang menyalurkan kredit sesuai program-program prioritas pemerintah.
"Bank kasih kredit ke program pemerintah dapat kembalian dari BI. Per Juni Rp 497 triliun itu dana di BI kita kembalikan ke bank," kata Destry.
Investor Domestik: Pilar Baru Pasar Modal RI
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan kabar positif: jumlah investor domestik di pasar modal Indonesia telah tembus 30 juta. Ini adalah lonjakan luar biasa dari hanya 250.000 investor beberapa tahun lalu yang mayoritas asing.
"Dulu kita itu jumlah investor masih 250.000 dan kebanyakan asing. Kalau ada guncangan sedikit, kita semua panik," kata Friderica, yang akrab disapa Kiki, di Investment Forum 2026.
Komposisi nilai transaksi pun kini didominasi investor domestik dengan porsi mencapai 62%, sementara asing hanya 38%. Data BEI menunjukkan IHSG sepanjang pekan lalu naik 0,83% ke level 5.924,36, menandakan mulai ada stabilitas meskipun asing masih melakukan aksi jual.
Bos OJK juga menyampaikan tiga pesan penting kepada para investor dan stakeholders pasar modal: pertama, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat; kedua, OJK akan terus menjaga stabilitas dan integritas pasar; ketiga, UU P2SK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan) yang baru akan menjadi game changer bagi pendalaman pasar keuangan nasional.
Ada Kekuatan Besar: BPJS dan BPKH Kawal Pasar Modal
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengungkapkan adanya pengelola dana triliunan yang mampu menjaga fundamental pasar modal tanah air. BPJS Ketenagakerjaan mengelola dana sekitar Rp 890 triliun hingga Rp 1.000 triliun, sementara Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mengelola hampir Rp 200 triliun. Belum lagi dana pensiun ASABRI, TASPEN, dan institusi pengelola dana lainnya.
"Kita lihat asset under management-nya BPJS Tenaga Kerja hampir Rp 1.000 triliun, sekitar Rp 890 triliun, tahun ini Rp 1.000 triliun. Kita masih punya BPKH yang di sana hampir Rp 200 triliun. Kemudian kita masih punya dana pensiun lain, ASABRI, TASPEN," papar Misbakhun.
Menurut Misbakhun, kekuatan dana institusi domestik inilah yang menjadi bantalan (buffer) utama ketika terjadi goncangan pasar akibat outflow dana asing. Ia menilai fundamental perusahaan-perusahaan tercatat di Indonesia sebenarnya tidak bermasalah — yang menjadi persoalan adalah persepsi investor yang terpengaruh oleh dinamika global.
"Walaupun saham mereka turun karena persepsi. Masalahnya adalah Amerika dan suku bunganya dalam dolar, kemudian kita persepsi macam-macam," ujar Misbakhun.
Ia menambahkan bahwa indikator makroekonomi seperti pertumbuhan ekonomi 5,61%, cadangan devisa yang memadai, inflasi yang terkendali, hingga kondisi sektor perbankan yang sehat seharusnya tidak memicu arus modal keluar.
Persepsi vs Fundamental: Kapan Pasar Akan Recovery?
Pertanyaan besar yang mengemuka adalah kapan pasar akan kembali merefleksikan fundamental yang solid. Para pengamat menilai ada beberapa katalis yang perlu diperhatikan:
- Klarifikasi kebijakan P2SK — UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan perlu disosialisasikan secara efektif agar tidak menimbulkan misinterpretasi pasar
- Stabilitas suku bunga global — Inflasi AS yang melandai ke 3,5% memberi ruang bagi Federal Reserve untuk tidak menaikkan suku bunga lebih lanjut
- Kinerja emiten Q2 2026 — Laporan keuangan semester I akan menjadi ujian apakah fundamental korporasi benar-benar sesuai ekspektasi
- Efektivitas instrumen BI — SRBI dan SBN yang kini kebanjiran inflow asing bisa menjadi leading indicator kembalinya kepercayaan investor global
Rekomendasi bagi Investor
Di tengah kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian, beberapa strategi yang dapat dipertimbangkan:
- Fokus pada saham defensif — Emiten perbankan besar seperti BBRI, BBCA, dan BMRI yang memiliki fundamental kuat dan dividen menarik tetap menjadi pilihan utama
- Manfaatkan volatilitas — Koreksi pasar dapat menjadi peluang akumulasi bagi investor dengan horizon jangka panjang
- Diversifikasi aset — Kombinasikan portofolio saham dengan obligasi pemerintah dan instrumen berbasis dolar AS untuk lindung nilai
- Pantau kebijakan BI — Keputusan suku bunga ke depan akan sangat mempengaruhi pergerakan pasar obligasi dan nilai tukar
- Perhatikan saham eksportir — Emiten berbasis komoditas seperti batu bara, nikel, dan CPO bisa diuntungkan oleh pelemahan rupiah
