IHSG Menutup Juli di Zona Hijau, Menguat 5,78% Sepanjang Bulan
📎 Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun — Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun — Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Rebound 1,56% ke 6.186 Usai Enam Hari Koreksi, Investor Asing Kembali Net Buy Rp262 Miliar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri bulan Juli 2026 dengan catatan yang lebih baik dibandingkan tekanan berat yang dialami di pertengahan bulan. Setelah sempat anjlok hingga level psikologis 6.000 di akhir Juli, indeks saham acuan Indonesia tersebut berhasil bangkit kembali dan kembali berada di zona 6.200-an menjelang penutupan bulan.
Berdasarkan data RTI Business, pada perdagangan Jumat (31/7/2026) pukul 09.05 WIB, IHSG berada di level 6.213 atau menguat 26,8 poin (0,43%) di awal sesi. Pada pembukaan perdagangan, IHSG bahkan sempat bertengger di zona hijau di level 6.219, sebelum bergerak pada rentang terendah 6.211 hingga tertinggi 6.230.
Pergerakan ini melanjutkan momentum pemulihan yang terjadi sehari sebelumnya. Pada perdagangan Kamis (30/7/2026), IHSG ditutup menguat 1,56% ke level 6.186 usai selamat dari enam hari koreksi beruntun. Kembalinya indeks ke level 6.200-an menandakan level psikologis penting tersebut mulai mampu dipertahankan.
Secara statistik, kinerja IHSG sepanjang bulan Juli cukup impresif. IHSG tercatat menguat 5,78% secara bulanan, meskipun masih melemah 0,30% secara mingguan pada pekan terakhir. Dalam rentang waktu yang lebih panjang, IHSG masih mencatatkan koreksi 17,59% secara tiga bulanan dan melemah 30,37% secara enam bulanan. Secara tahun berjalan (year to date), IHSG masih minus 9,68%.
Faktor Pendorong Pemulihan: The Fed dan Meredanya Tekanan Global
Katalis utama pemulihan IHSG pada akhir Juli datang dari sisi eksternal, terutama keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS). Federal Reserve atau The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berakhir pada 29 Juli 2026. Keputusan ini meredakan kekhawatiran pasar akan kebijakan moneter AS yang lebih ketat, yang selama ini menjadi biang kerok keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Keputusan The Fed yang dovish di luar dugaan tersebut memberikan dorongan bagi bursa Asia dan emerging market. Investor asing yang sebelumnya cenderung melakukan aksi jual mulai kembali melirik aset-aset berdenominasi rupiah, sehingga mendorong penguatan IHSG.
Selain itu, data volume perdagangan pada sesi pembukaan Jumat (31/7) juga menunjukkan partisipasi yang cukup aktif. Nilai transaksi indeks pada perdagangan pagi mencapai Rp1,2 triliun dengan melibatkan 3,39 miliar lembar saham yang diperdagangkan sebanyak 169.937 kali. Sebanyak 328 saham menguat, 166 saham melemah, dan 190 saham stagnan pada awal sesi — menunjukkan daya sebar penguatan yang cukup luas.
Net Sell Asing Rp80,97 Triliun: OJK Sebut Tekanan Mulai Mereda
Di balik pemulihan IHSG, arus dana asing sepanjang 2026 masih mencatatkan tekanan jual yang cukup dalam. Berdasarkan data perdagangan RTI Business, tekanan jual bersih investor asing (net foreign sell) di pasar modal mencapai Rp80,97 triliun hingga 29 Juli 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menilai pergerakan dana asing tersebut merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan global. Menurutnya, hal ini didorong oleh berbagai faktor seperti risiko geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta preferensi investor terhadap aset di emerging market.
Meski demikian, OJK mengklaim aksi jual bersih asing perlahan mulai mereda. Hal tersebut tercermin pada periode perdagangan 13-17 Juli 2026, di mana investor asing justru melakukan aksi beli bersih (net foreign buy) mencapai Rp0,44 triliun atau sekitar Rp440 miliar. "Pada saat yang sama, investor domestik tetap memiliki peran penting dalam menjaga likuiditas dan stabilitas pasar," jelas Hasan.
Reformasi Pasar Modal dan Target Dana IPO Rp250 Triliun
OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) tengah menjalankan reformasi pasar modal untuk membangun fondasi yang kuat melalui peningkatan kualitas emiten, transparansi, kualitas disclosure, penguatan tata kelola, serta integritas pasar. Sejumlah langkah juga dilakukan, termasuk penyempurnaan metodologi asesmen high shareholding concentration (HSC), penguatan engagement dengan investor institusi global maupun global index provider, serta peningkatan kualitas emiten.
Reformasi ini diharapkan meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun asing sehingga pasar modal Indonesia menjadi semakin kredibel dan kompetitif sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
Di sisi penghimpunan dana, OJK menargetkan pengumpulan dana melalui penawaran umum (IPO) sebesar Rp250 triliun sepanjang tahun 2026. Hingga 30 Juni 2026, total penghimpunan dana di pasar modal telah mencapai Rp125,7 triliun. Hasan mengungkapkan terdapat tiga proses IPO di pasar modal hingga 20 Juli 2026. Selain itu, saat ini juga ada dua proses penawaran umum terbatas (PUT) atau rights issue dengan nilai emisi Rp6,73 triliun serta empat proses penerbitan obligasi.
"Kami melihat prospek penghimpunan dana hingga akhir tahun 2026 tetap positif. Meskipun kondisi pasar global masih diwarnai berbagai tantangan, minat perusahaan untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan tetap terjaga," ujar Hasan.
BEI Perketat Tata Kelola: Delisting CNTX Efektif
Pada akhir Juli, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengambil langkah tegas dalam penegakan tata kelola pasar modal dengan resmi membatalkan pencatatan saham atau melakukan delisting PT Century Textile Industry Tbk (CNTX) dari perdagangan pasar modal. Delisting tersebut berlaku efektif sejak 30 Juli 2026.
Delisting perseroan dilakukan berdasarkan surat permohonan yang diajukan CNTX pada 5 Agustus 2024 silam, setelah sebelumnya BEI melakukan penghentian sementara perdagangan efek atau suspensi CNTX dari seluruh pasar pada 7 Agustus 2024. Proses ini menjadi bagian dari upaya BEI membersihkan pasar modal dari emiten yang tidak sehat.
Langkah tersebut sejalan dengan reformasi yang digencarkan OJK, termasuk kebijakan pengetatan free float dan suspensi terhadap puluhan saham yang terlambat menyampaikan laporan keuangan. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas emiten dan investability pasar modal Indonesia.
Prospek IHSG Memasuki Agustus 2026
Memasuki bulan Agustus 2026, sejumlah faktor akan menentukan arah pergerakan IHSG:
- Momentum pemulihan IHSG — kembalinya indeks ke level 6.200-an menjadi sinyal positif, dengan support terdekat di area 6.186-6.211 dan resistance di 6.230-6.300. Jika mampu bertahan di atas 6.200, IHSG berpeluang menguji level lebih tinggi.
- Keputusan The Fed yang dovish — penahanan suku bunga AS menjadi angin segar bagi emerging market dan berpotensi menahan laju net sell asing.
- Inflasi dan data ekonomi domestik — data inflasi awal Agustus serta indikator ekonomi lainnya akan menjadi penentu sikap investor.
- Arus dana asing — jika tren net foreign buy yang sempat muncul pada pertengahan Juli berlanjut, IHSG berpotensi memperpanjang penguatannya.
- Berlanjutnya pipeline IPO — target dana IPO Rp250 triliun dan sejumlah IPO serta rights issue yang mengantre dapat menjadi katalis likuiditas pasar.
