Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG negatif ⏱ 8 menit

Net Sell Asing Tembus Rp 80,97 Triliun, IHSG Tertekan ke Level 6.130

Net Sell Asing Tembus Rp 80,97 Triliun, IHSG Tertekan ke Level 6.130
yohanes budiyanto / CC BY 2.0 / Wikimedia Commons

Aksi jual investor asing (net sell) di pasar modal Indonesia mencapai Rp 80,97 triliun secara year-to-date hingga 29 Juli 2026. IHSG terpuruk ke level 6.130,58 setelah enam hari koreksi. OJK buka suara soal faktor eksternal dan isyarat stabilisasi.

Pasar modal Indonesia tengah menghadapi ujian berat. Investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net sell) hingga Rp 80,97 triliun secara year-to-date per 29 Juli 2026, menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke posisi terendah dalam enam bulan terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian serius Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang buka suara soal faktor-faktor penyebab dan prospek pemulihan ke depan.

Aksi jual besar-besaran investor asing masih membayangi pasar modal Indonesia. Hingga 29 Juli 2026, nilai net foreign sell di seluruh pasar tembus Rp 80,97 triliun — level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Tekanan jual ini mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke level 6.130,58 pada penutupan Selasa (28/7/2026), atau melemah 0,89% dalam sehari.

Faktor Eksternal Jadi Biang Kerok

📎 Baca Juga

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa pergerakan aliran dana asing dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Mulai dari ketidakpastian geopolitik global, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), hingga perubahan preferensi investor terhadap aset emerging markets.

"OJK mencermati bahwa meskipun secara kumulatif sejak awal tahun investor asing masih membukukan net sell di pasar saham domestik, perkembangan pada periode terakhir menunjukkan kondisi pasar yang semakin stabil dengan tekanan jual asing yang mulai mereda," ujar Hasan dalam keterangan resminya.

Data menunjukkan bahwa di pasar reguler, aksi jual bersih mencapai Rp 94,88 triliun. Namun, investor asing tercatat masih melakukan pembelian bersih sebesar Rp 13,91 triliun di pasar negosiasi dan tunai.

The Fed Pangkas Optimisme Pasar Global

Keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan 29 Juli 2026 menjadi pukulan bagi pasar saham global. Tiga dari 12 anggota FOMC bahkan menginginkan kenaikan 25 basis poin — sinyal bahwa inflasi masih menjadi kekhawatiran utama.

Wall Street bereaksi negatif. Indeks S&P 500 jatuh ke level terendah dalam sebulan, sementara Nasdaq Composite merosot sekitar 9% dari rekor tertinggi Juni 2026. Saham-saham teknologi dan AI menjadi korban utama aksi jual, dipimpin oleh Meta Platforms yang ambles 4% setelah mengumumkan proyeksi belanja modal US$130-145 miliar untuk tahun 2026.

Kondisi ini cascading ke pasar emerging markets termasuk Indonesia. Investor global cenderung melakukan flight to quality — menarik dana dari negara berkembang dan kembali ke aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS.

IHSG Terkoreksi Enam Hari Beruntun

IHSG mencatat koreksi selama enam hari berturut-turut, level terendah sejak awal tahun. Analis mencatat bahwa pelemahan ini diperparah oleh tiga faktor utama:

  1. Hasil FOMC Meeting — The Fed diperkirakan masih hawkish setidaknya hingga akhir 2026.
  2. Eskalasi geopolitik Timur Tengah — Harga minyak mentah Brent dan WTI kembali ke level US$80 per barel pasca serangan Iran terhadap militer AS yang mengakhiri gencatan senjata sementara.
  3. Pelemahan rupiah — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh level Rp 18.107 per dolar AS, menekan sektor-sektor yang memiliki utang dolar.
Analis dari Mega Capital Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi dengan level support di 6.005 dan resistance di 6.134.

Investor Domestik Jadi Penopang Utama

Di tengah hengkangnya investor asing, OJK menekankan peran krusial investor domestik yang menjadi penopang utama likuiditas perdagangan saham. "Investor domestik selama ini menjadi penopang utama likuiditas perdagangan saham ketika arus modal asing mengalami fluktuasi. Peran investor domestik dinilai semakin penting dalam menjaga stabilitas pasar modal Indonesia," jelas Hasan.

Ini sejalan dengan transformasi struktur kepemilikan di Bursa Efek Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Data OJK menunjukkan bahwa jumlah investor pasar modal Indonesia terus meningkat, dengan investor ritel domestik kini mendominasi frekuensi transaksi harian.

Sinyal Pemulihan Mulai Terlihat

Meskipun angkanya masih besar, OJK mencatat bahwa tekanan jual investor asing mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada periode 13-17 Juli 2026, investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp 0,44 triliun.

Hasan menyebut perkembangan ini sebagai sinyal positif bahwa kondisi pasar saham domestik semakin stabil di tengah ketidakpastian global.

OJK Siapkan Reformasi Struktural

Untuk meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia, OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) tengah menyiapkan sejumlah reformasi struktural:

  • Penguatan transparansi dan kualitas data kepemilikan saham untuk mendukung penentuan free float.
  • Penyempurnaan metodologi asesmen Holding Securities Concentration (HSC).
  • Penguatan pengawasan terhadap aktivitas perdagangan dan risiko konsentrasi kepemilikan melalui analisis berbasis data.
  • Penyempurnaan ketentuan di pasar modal untuk meningkatkan likuiditas dan efisiensi transaksi.
  • Penguatan komunikasi dengan investor institusi global dan penyedia indeks internasional.
"Inisiatif-inisiatif reformasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan investability pasar modal Indonesia dan semakin memperkuat kepercayaan investor, sehingga dapat menarik investasi yang semakin berkualitas dan berkelanjutan," pungkas Hasan.

Rekomendasi Saham di Tengah Pelemahan

Analis Mega Capital Sekuritas merekomendasikan beberapa saham yang dapat dicermati investor untuk perdagangan jangka pendek:

  • ESSA (Surya Esa Perkasa) — rentang Rp 670 - Rp 695
  • INDF (Indofood Sukses Makmur) — rentang Rp 7.100 - Rp 7.300
  • MDKA (Merdeka Copper Gold) — rentang Rp 2.820 - Rp 3.130
Untuk investor jangka panjang, aksi jual asing justru dapat menjadi momen akumulasi pada saham-saham blue chip dengan fundamental kuat yang sedang terdiskon.

Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa itu net sell asing?

Net sell asing adalah selisih antara nilai penjualan dan pembelian saham oleh investor asing di bursa efek. Jika net sell, artinya investor asing lebih banyak menjual daripada membeli saham.

Mengapa IHSG turun 6 hari berturut-turut?

IHSG terkoreksi akibat tekanan jual asing, keputusan The Fed menahan suku bunga, eskalasi geopolitik Timur Tengah, dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh Rp 18.107.

Apa dampak net sell asing terhadap investor ritel?

Net sell asing menekan harga saham sehingga portofolio investor ritel terkoreksi. Namun, investor domestik justru dapat memanfaatkan momen ini untuk akumulasi saham blue chip yang terdiskon.

Apakah pasar modal Indonesia masih menarik bagi asing?

OJK optimistis dengan reformasi struktural yang tengah disiapkan. Meski net sell masih terjadi, tekanan jual mulai mereda dan investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih pada pertengahan Juli 2026.

Berapa target IHSG ke depan?

Analis memproyeksikan IHSG masih rawan koreksi dengan support di level 6.005 dan resistance di 6.134. Pergerakan selanjutnya akan sangat tergantung pada hasil kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik global.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter
Sumber: Kontan, CNBC Indonesia