Pasar modal Indonesia tengah menghadapi ujian berat. Investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net sell) hingga Rp 80,97 triliun secara year-to-date per 29 Juli 2026, menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke posisi terendah dalam enam bulan terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian serius Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang buka suara soal faktor-faktor penyebab dan prospek pemulihan ke depan.
Aksi jual besar-besaran investor asing masih membayangi pasar modal Indonesia. Hingga 29 Juli 2026, nilai net foreign sell di seluruh pasar tembus Rp 80,97 triliun â level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Tekanan jual ini mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke level 6.130,58 pada penutupan Selasa (28/7/2026), atau melemah 0,89% dalam sehari.
Faktor Eksternal Jadi Biang Kerok
đ Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun â Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun â Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an â Sinyal Stabil Jelang Agustus?
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa pergerakan aliran dana asing dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Mulai dari ketidakpastian geopolitik global, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), hingga perubahan preferensi investor terhadap aset emerging markets.
"OJK mencermati bahwa meskipun secara kumulatif sejak awal tahun investor asing masih membukukan net sell di pasar saham domestik, perkembangan pada periode terakhir menunjukkan kondisi pasar yang semakin stabil dengan tekanan jual asing yang mulai mereda," ujar Hasan dalam keterangan resminya.
Data menunjukkan bahwa di pasar reguler, aksi jual bersih mencapai Rp 94,88 triliun. Namun, investor asing tercatat masih melakukan pembelian bersih sebesar Rp 13,91 triliun di pasar negosiasi dan tunai.
The Fed Pangkas Optimisme Pasar Global
Keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan 29 Juli 2026 menjadi pukulan bagi pasar saham global. Tiga dari 12 anggota FOMC bahkan menginginkan kenaikan 25 basis poin â sinyal bahwa inflasi masih menjadi kekhawatiran utama.
Wall Street bereaksi negatif. Indeks S&P 500 jatuh ke level terendah dalam sebulan, sementara Nasdaq Composite merosot sekitar 9% dari rekor tertinggi Juni 2026. Saham-saham teknologi dan AI menjadi korban utama aksi jual, dipimpin oleh Meta Platforms yang ambles 4% setelah mengumumkan proyeksi belanja modal US$130-145 miliar untuk tahun 2026.
Kondisi ini cascading ke pasar emerging markets termasuk Indonesia. Investor global cenderung melakukan flight to quality â menarik dana dari negara berkembang dan kembali ke aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS.
IHSG Terkoreksi Enam Hari Beruntun
IHSG mencatat koreksi selama enam hari berturut-turut, level terendah sejak awal tahun. Analis mencatat bahwa pelemahan ini diperparah oleh tiga faktor utama:
- Hasil FOMC Meeting â The Fed diperkirakan masih hawkish setidaknya hingga akhir 2026.
- Eskalasi geopolitik Timur Tengah â Harga minyak mentah Brent dan WTI kembali ke level US$80 per barel pasca serangan Iran terhadap militer AS yang mengakhiri gencatan senjata sementara.
- Pelemahan rupiah â Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh level Rp 18.107 per dolar AS, menekan sektor-sektor yang memiliki utang dolar.
Investor Domestik Jadi Penopang Utama
Di tengah hengkangnya investor asing, OJK menekankan peran krusial investor domestik yang menjadi penopang utama likuiditas perdagangan saham. "Investor domestik selama ini menjadi penopang utama likuiditas perdagangan saham ketika arus modal asing mengalami fluktuasi. Peran investor domestik dinilai semakin penting dalam menjaga stabilitas pasar modal Indonesia," jelas Hasan.
Ini sejalan dengan transformasi struktur kepemilikan di Bursa Efek Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Data OJK menunjukkan bahwa jumlah investor pasar modal Indonesia terus meningkat, dengan investor ritel domestik kini mendominasi frekuensi transaksi harian.
Sinyal Pemulihan Mulai Terlihat
Meskipun angkanya masih besar, OJK mencatat bahwa tekanan jual investor asing mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada periode 13-17 Juli 2026, investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp 0,44 triliun.
Hasan menyebut perkembangan ini sebagai sinyal positif bahwa kondisi pasar saham domestik semakin stabil di tengah ketidakpastian global.
OJK Siapkan Reformasi Struktural
Untuk meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia, OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) tengah menyiapkan sejumlah reformasi struktural:
- Penguatan transparansi dan kualitas data kepemilikan saham untuk mendukung penentuan free float.
- Penyempurnaan metodologi asesmen Holding Securities Concentration (HSC).
- Penguatan pengawasan terhadap aktivitas perdagangan dan risiko konsentrasi kepemilikan melalui analisis berbasis data.
- Penyempurnaan ketentuan di pasar modal untuk meningkatkan likuiditas dan efisiensi transaksi.
- Penguatan komunikasi dengan investor institusi global dan penyedia indeks internasional.
Rekomendasi Saham di Tengah Pelemahan
Analis Mega Capital Sekuritas merekomendasikan beberapa saham yang dapat dicermati investor untuk perdagangan jangka pendek:
- ESSA (Surya Esa Perkasa) â rentang Rp 670 - Rp 695
- INDF (Indofood Sukses Makmur) â rentang Rp 7.100 - Rp 7.300
- MDKA (Merdeka Copper Gold) â rentang Rp 2.820 - Rp 3.130
