Jakarta, Emiten.org - Pasar keuangan Indonesia berada di tekanan yang semakin terasa pada Kamis, 24 September 2026. Rupiah ditutup melemah 0,54% ke level Rp17.916 per dolar AS β pelemahan terdalam di kawasan Asia β sementara emiten BUMN andalan, PT Waskita Karya (WSKT), mengakui ketidakmampuannya untuk membayar pokok obligasi senilai Rp722 miliar yang jatuh tempo pada hari yang sama. Kombinasi tekanan dari luar negeri β DXY (indeks dolar AS) yang kembali bertahan di atas level 101 dan yield obligasi AS yang melonjak ke level tertinggi hampir dua dekade β menciptakan badai ganda bagi pasar modal Indonesia. Sementara itu, harga minyak mentah juga melonjak hampir 4% akibat ketegangan konflik Iran-Amerika Serikat, menambah lapisan tekanan inflasi bagi negara importir energi seperti Indonesia.
Rupiah Tertekan Paling Dalam di Asia, DXY Bertahan di 101, Tekanan AS Masih Menggema
π Baca Juga
Mengutip data Bloomberg yang dilaporkan Kontan, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.916 per dolar AS pada Kamis, melemah 0,54% dibandingkan posisi Rabu (23/9) sebesar Rp17.818 per dolar AS. Pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah ditetapkan di Rp17.898 per dolar AS, melemah 0,53% dari Rp17.803 sehari sebelumnya.
Rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia. Dukaan ini sejalan dengan melemahnya mata uang negara berkembang secara keseluruhan: Indeks mata uang negara berkembang Asia MSCI turun 0,4% pada Kamis β penurunan harian terbesar sejak pertengahan Mei 2026 β sekaligus pasca keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga di 5,75% pada pertemuan RDG 22β23 September 2026.
Indeks dolar AS (DXY) turun tipis 0,05% menjadi 101,05 pada Kamis, setelah sehari sebelumnya melonjak 0,56% ke level 101,23 β level tertinggi sejak 29 Juli. Meski tercatat koreksi kecil, penguatan dolar AS yang bertahan di atas level 101 tetap mengekang apresiasi rupiah. Seiringnya, baht Thailand, peso Filipina, dan rupee India juga melemah 0,1β0,3% pada sesi yang sama.
Senior FX Strategist Maybank Fiona Lim menjelaskan kombinasi tiga faktor tunggal tekanan pada mata uang Asia: kenaikan harga minyak yang lebih tinggi, tanda-tanda kebangkitan kembali "US exceptionalism", dan tekanan kenaikan imbal hasil obligasi AS (UST). "Harga minyak yang lebih tinggi justru berpotensi menjadi perhatian yang lebih besar bagi pembuat kebijakan Asia dibandingkan kebijakan The Fed maupun kenaikan yield US Treasury," kata Lim dikutip dari Reuters.
Sepanjang tahun 2026, rupiah telah melemah sekitar 6,8% terhadap dolar AS. Chief Economist Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, menegaskan setelah keputusan moneter BI, perhatian pasar selanjutnya harus tertuju pada arah kebijakan fiskal pemerintah. "Signal penting berikutnya sekarang harus datang dari kebijakan fiskal," ujarnya.
Yield AS Meroket ke Level Tertinggi Hampai Dua Dekade: Tekanan Global yang Menyulam
Tekanan yang melanda rupiah dan pasar modal Indonesia dipengaruhi langsung oleh lonjakan yield obligasi AS. Yield Treasury AS bertenor 10 tahun melonjak 15 basis poin (bps) ke 5,11% pada Rabu 23 September 2026 β level tertinggi dalam hampir dua dekade β sekaligus dilanjutkan pada Kamis. Yield 30 tahun naik 11 bps ke 5,4%, mencatatkan rekor intraday tertinggi sejak 2007 dan penutupan tertinggi sejak 2004.
Di sisi lain, yield 2 tahun mencapai level tertinggi sejak Mei 2024 setelah melompat 16 bps ke 4,9%, dan yield 5 tahun berhasil menembus level 5% untuk pertama kalinya sejak 2007. Lonjakan ini menyokong ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Kenaikan ini semakin memicu ulangan aksi keluar modal asing dari pasar keuangan emerging market. Sejauhnya, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp468,26 miliar di pasar reguler dan Rp461,35 miliar di seluruh pasar pada Rabu (23/9), sekaligus menekan IHSG yang ditutup turun 1,69% ke 6.277,04 β dan kini melanjutkan pelemahan di zona merah pada Kamis.
WSKT Gagal Bayar Pokok Obligasi Rp722 Miliar: BUMN Incar Likuiditas di Tengah Tekanan Yield
Di tengah tengah tekanan yield AS ini, berita buruk konkret datang dari PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Pada Kamis, 24 September 2026, WSKT memberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait kesiapan dana bunga dan pokok obligasinya. Obligasi III Tahun 2021 Seri A yang jatuh tempo pada hari ini β Kamis, 24 September 2026 β menuntut pembayaran pokok sebesar Rp722 miliar.
Muhammad Hanugroho, Direktur Keuangan Waskita Karya, mengungkapkan bahwa perusahaan telah mencadangkan dana sebesar Rp28.877.500.000 (Rp28,87 miliar) untuk pembayaran bunga Obligasi III Tahun 2021 Seri A dan Seri B ke-20 sejak 20 Agustus 2026. Namun, kata dia, Waskita kemudian menyampaikan kepada Penjamin dan Wali Amanat bahwa tidak mampu melakukan pelunasan pokok Obligasi III Tahun 2021 Seri A sebesar Rp722 miliar.
"Waskita telah menginformasikan kepada Penjamin dan Wali Amanat atas ketidakmampuan Waskita untuk melakukan pelunasan pokok," ujarnya. Sebagai respons, Wali Amanat telah mengajukan klaim penjaminan kepada Penjamin, yang sedang diproses sesuai Perjanjian Penjaminan dan ketentuan peraturan yang berlaku. Denda dan/atau biaya lain akibat keterlambatan pembayaran akan menjadi kewajiban Waskita untuk diselesaikan sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku.
Waskita juga telah menyiapkan standing instruction pada 15 September 2026 kepada Bank Mega sebagai Wali Amanat untuk melakukan pembayaran bunga Obligasi III Tahun 2021 Seri A dan Seri B ke-20 ke rekening KSEI pada 23 September 2026.
Berita ini memicu kembali perhatian pasar akan kualitas kredit dan likuiditas BUMN, terutama di tengah skenario dimana BI menahan suku bunga di 5,75% dan yield AS mencapai level tertinggi hampai dua dekade. Likuiditas perusahaan infrastruktur BUMN seperti WSKT justru menjadi sorotan, mengingat proyek infrastruktur yang memakan biaya tinggi di tengah kenaikan suku bunga dan harga minyak.
BI Rate Tetap 5,75%, Tapi Stabilitas Rupiah Terancam oleh Dolar dan Yield AS
Keputusan Bank Indonesia pada pertemuan RDG 22β23 September 2026 untuk mempertahankan BI Rate di 5,75% memang sejalan dengan ekspektasi 85,7% pasar. Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan keputusan ini didorong oleh inflasi yang tetap terkendali dan cadangan devisa yang kuat. Inflasi Agustus 2026 mencatatkan kenaikan ke 3,19% YoY β masih di dalam target sasaran 2,5% Β±1%.
Cadangan devisa Bank Indonesia mencapai US$146,5 miliar β setara dengan 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah β berada di atas rekomendasi minimum 3 bulan pembayaran. Adapun, suku bunga Deposit Facility tetap pada 4,75% dan Lending Facility pada 6,50%.
BI telah menahan suku bunga dalam tiga pertemuan berturut-turut sejak Juli 2026, setelah kenaikan kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang MeiβJuni 2026 (4,75% pada 20 Mei β 5,25% pada 9 Juni β 5,50%, lalu 5,75% pada 18 Juni). Kepala Ekonom PT Bank Central Asia, David Sumual, memperkirakan BI Rate masih berpeluang naik 25β50 bps hingga akhir 2026 jika tekanan dolar AS dan geopolitik mendorong inflasi lebih tinggi.
Di sisi lain, Kepala Ekonom PT Bank Permata, Josua Pardede, melihat ruang bagi BI untuk "menunggu". Ia menilai cadangan devisa kuat, pabalik-pabaliknya neraca perdagangan surplus, dan normalisasi transmisi suku bunga pasar uang harian yang mendekati BI Rate menjadi sinyal stabilitas yang cukup baik. "Menahan BI Rate bulan ini bukan berarti BI menjadi kurang waspaya terhadap kenaikan suku bunga AS," tegasnya.
Opini Pasar dan Dampaknya pada Emiten serta Pasar Modal
Pada hari Kamis ini, IHSG membuka melemah tipis di level 6.364,98 lalu sempat menyentuh 6.368,57 di awal perdagangan sebelum turun bertahap. Hingga siang, indeks berada di 6.307,11 β turun 67,8 poin atau 1,06% β dengan 184 saham menguat, 472 saham melemah, dan 307 saham stagnan. Volume perdagangan tercatat 16,32 miliar saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp5,32 triliun.
Perdagangan dibuka oleh sektor material dasar yang turun 1,6%, real estat (-1,2%), dan utilities (-1,1%), menurut data Refinitiv. Di antara saham-saham pemberat, melimpagusikan BBCA, BMRI, AMMN, BYAN, dan BBRI, pasar juga menyaksikan saham penopang koreksi seperti FORU, DSSA, YULE, MDKA, dan DSNG.
Di pasar valuta, tekanan rupiah yang terus berlanjut ini memicu pasar reksa dana pendapatan tetap (RDPT) untuk tetap berada di zona tekanan. Sejak BI menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 bps sejak MeiβJuni 2026, NAB RDPT turun 17,6% dari puncak Februari 2026 (Rp254,88 triliun) ke Agustus (Rp209,91 triliun). Direktur Infovesta, Wawan Hendrayana, menjelaskan harga obligasi dan suku bunga bergerak berlawanan arah: "Obligasi lama di RDPT tertekan saat suku bunga naik, karena harga dan bunga berbanding terbalik."
Di tengah ketegangan ini, sejumlah emiten BUMN seperti WSKT justru menolok di tempat β mengakui ketidakmampuan membayar pokok obligasi sementreja. Ini memperkuat narasi bahwa likuiditas dan kualitas kredit emiten, khususnya BUMN infrastruktur, menjadi titik lemah pasar modal saat yield AS mencapai level tertinggi hampai dua dekade.
Outlook: DXY, Yield AS, dan Perkembangan Geopolitik akan Menjadi Penggerak Utama
Menjelang perdagangan Jumat, 25 September 2026, tiga faktor akan menjadi penggerak utama pasar modal Indonesia: pertama, kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat yang dapat memicu fluktuasi likuiditas pasar global secara tiba-tiba; kedua, rilis aturan baru perdagangan saham dan data uang beredar (M2) di dalam negeri; ketiga, reaksi pasar terhadap lonjakan yield US Treasury dan keputusan The Fed pada akhir tahun.
Kepala Ekonom BCA David Sumual memperkirakan BI Rate masih berpeluang naik 25β50 bps hingga akhir 2026. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Josua Pardede (Bank Permata), ruang untuk BI tetap terbatas karena cadangan devisa yang kuat dan inflasi yang masih terkendali. Yang pasti, tekanan dolar AS dan yield AS yang tinggi akan tetap menjadi bahan baku utama bagi arah rupiah, IHSG, dan RDPT dalam sisa kuartal ketiga 2026.
## Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ) **Rupiah ditutup di level berapa pada Kamis 24 September 2026?** Rupiah di pasar spot ditutup di Rp17.916 per dolar AS, melemah 0,54% dari posisi Rabu (Rp17.818/US$). Pada JISDOR Bank Indonesia, rupiah ditetapkan di Rp17.898 per dolar AS, melemah 0,53% dari Rp17.803 sehari sebelumnya. **Mengapa rupiah jadi paling lemah di Asia?** Tekanan berasal dari tiga faktor: penguatan indeks dolar AS (DXY bertahan di atas 101), lonjakan yield AS (10 tahun ke 5,11%, tertinggi hampai dua dekade), dan kenaikan harga minyak hampir 4% akibat ketegangan konflik Iran-Amerika Serikat. Kombinasi ini menekan seluruh mata uang emerging market, termasuk rupiah. **Berapa besar kerugian WSKT atas gagal bayar obligasinya?** PT Waskita Karya (WSKT) tidak mampu membayar pokok Obligasi III Tahun 2021 Seri A sebesar Rp722 miliar yang jatuh tempo pada 24 September 2026. Perusahaan telah mencadangkan Rp28,87 miliar untuk pembayaran bunga, namun Wali Amanat telah mengajukan klaim penjaminan kepada Penjamin. **Apakah BI berencana menaikkan suku bunga lagi?** Gubernur BI Destry Damayanti menahan BI Rate di 5,75% pada RDG September 2026. Kepala Ekonom BCA David Sumual memperkirakan kemungkinan kenaikan 25β50 bps hingga akhir 2026, sementara Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, melihat ruang BI untuk "menunggu" mengingat inflasi (3,19% YoY) masih dalam target dan cadangan devisa kuat (US$146,5 miliar). **Yield AS naik ke level berapa dan apa implikasinya bagi Indonesia?** Yield Treasury 10 tahun mencapai 5,11% (+15 bps), 30 tahun ke 5,4% (+11 bps, rekor sejak 2007), 2 tahun ke 4,9% (+16 bps, tertinggi sejak 2024), dan 5 tahun melewati 5% untuk pertama kalinya sejak 2007. Lonjakan ini memicu aksi keluar modal asing dan tekanan pada rupiah dan pasar modal Indonesia. **Apa dampaknya bagi reksa dana pendapatan tetap (RDPT)?** NAB RDPT turun 17,6% dari puncak Februari 2026 (Rp254,88 triliun) ke Agustus 2026 (Rp209,91 triliun), sejalan dengan kenaikan suku bunga 100 bps sejak MeiβJuni. Wawan Hendrayana (Infovesta) menilai kinerja RDPT hingga akhir tahun akan relatif datar hingga sedikit positif karena kupon obligasi dapat mengompensasi tekanan harga.