Pasar saham Indonesia membuka bulan Agustus 2026 dengan cerita yang tampak bertolak belakang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan dan ditutup melemah tipis pada sesi Senin (3/8/2026) di tengah aksi jual bersih (net sell) investor asing yang jumbo. Namun, di balik layar, dana asing justru terlihat gencar memborong segelintir saham unggulan dan defensif. Telkom Indonesia (TLKM) dan Bank Central Asia (BBCA) menempati posisi teratas daftar net buy asing. Keesokan harinya, Selasa (4/8/2026), IHSG bahkan membalik menguat hampir 1% ke level tertinggi dalam dua minggu dan mengungguli seluruh bursa Asia Tenggara, meski rupiah kembali terdorong ke atas Rp18.000 per dolar AS.
Potret Perdagangan Senin: IHSG Melemah Tipis di Tengah Net Sell Asing Rp708 Miliar
📎 Baca Juga
- IHSG Hari Ini 10 Agustus 2026: Menguat ke 6.423, Pekan Ini Wait and See Jelang Data Inflasi AS & Rebalancing MSCI
- IHSG Tembus 6.400 di Pekan 3-7 Agustus: Investor Ritel 30 Juta SID Jadi Pilar Baru, Asing Balik Borong Rp1,24 Triliun
- IHSG Sepekan Melonjak 2,78% ke 6.409: Asing Balik Net Buy Rp1,24 Triliun, Pasar Modal Ukir Rekor 30 Juta Investor
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business, IHSG melemah tipis 0,02% ke level 6.234,49 pada penutupan perdagangan Senin (3/8/2026). Sepanjang sesi, indeks bergerak di rentang terendah 6.212 hingga tertinggi 6.273. Total volume perdagangan saham di BEI pada hari itu mencapai 38,77 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp14,37 triliun. Sebanyak 348 saham tercatat melemah, 292 saham menguat, dan 150 saham stagnan. Investor asing pada hari yang sama mencatat net sell jumbo sekitar Rp708 miliar di seluruh pasar.
Daftar 10 Saham yang Justru Diborong Asing pada Awal Agustus 2026
Namun di tengah koreksi IHSG dan derasnya arus keluar asing, sejumlah saham justru diburu investor global pada awal Agustus 2026. Berikut 10 saham dengan net buy asing terbesar pada Senin (3/8/2026):
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) — Rp118,7 miliar
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) — Rp78,33 miliar
- PT Gudang Garam Tbk (GGRM) — Rp38,22 miliar
- PT Timah Tbk (TINS) — Rp30,45 miliar
- PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) — Rp28,69 miliar
- PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) — Rp27,09 miliar
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) — Rp25,7 miliar
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) — Rp14,99 miliar
- PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) — Rp14,09 miliar
- PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) — nilai net buy asing
Pola Beli Asing: Blue Chip dan Saham Defensif Jadi Buruan Utama
Pola beli asing ini menarik untuk dicermati. Kombinasi TLKM dan BBCA di urutan teratas mencerminkan preferensi asing terhadap emiten berkapitalisasi besar (blue chip) dengan likuiditas tinggi, fundamental solid, dan arus kas yang stabil. Kehadiran saham defensif seperti GGRM, ICBP, dan INDF memperkuat sinyal bahwa investor asing tengah mengambil posisi defensif, membeli saham dengan permintaan konsumen yang relatif tahan banting di tengah ketidakpastian global.
Sementara kehadiran saham siklikal seperti TINS, BRMS, dan NSSS (komoditas) mengisyaratkan sebagian pelaku masih memainkan ekspektasi pergerakan harga timah, nikel, dan sawit. Kombinasi ini menunjukkan strategi asing yang tidak seragam: sebagian cari aman lewat blue chip defensif, sebagian lagi cari peluang lewat eksposur komoditas yang bergejolak.
IHSG Membalik Menguat: Katalis Penurunan GWM Bank Indonesia 200 bps
Momentum pun berbalik pada Selasa (4/8/2026). Pukul 15.48 WIB, IHSG menguat hampir 1% dan mencapai level tertinggi dalam dua minggu, dibantu kenaikan saham BBCA yang melesat 1,59%. Aksi ini menjadikan bursa Indonesia sebagai pasar dengan kenaikan tertinggi di kawasan Asia Tenggara, unggul atas saham Kuala Lumpur yang naik 0,3% (hari kelima beruntun), sementara ekuitas Filipina dan Taiwan masing-masing turun 0,4% dan 0,5%.
Katalis utamanya adalah langkah Bank Indonesia yang menurunkan cadangan wajib (GWM) sebesar 200 basis poin untuk bank-bank tertentu, efektif 1 September. Penjabat Gubernur BI mengungkapkan kebijakan ini dimaksudkan untuk mencegah bank komersial menumpuk kelebihan likuiditas pada surat berharga bank, sekaligus mendorong penyaluran pinjaman oleh pemain lokal. Langkah ini menjadi angin segar bagi sektor perbankan dan pasar secara luas.
Rupiah Masih Tertekan di Atas Rp18.000: Faktor Eksternal Jadi Biang Kerok
Di sisi valas, rupiah justru tetap menjadi salah satu mata uang negara berkembang dengan kinerja terburuk di Asia. Rupiah tergelincir dan kembali menembus level Rp18.000 per dolar AS setelah dolar AS pulih di pasar global. Menurut Christopher Wong, ahli strategi mata uang OCBC, kondisi eksternal tetap penuh tantangan mengingat kenaikan harga minyak, tingginya suku bunga AS, serta sensitivitas rupiah terhadap aliran portofolio.
Wong menambahkan bahwa importir minyak bersih cenderung lebih rentan karena kenaikan harga energi membebani keseimbangan eksternal dan inflasi, sementara suku bunga AS yang masih tinggi membatasi ruang pemulihan mata uang regional secara luas. Di kawasan lain, peso Filipina ikut terdepresiasi setelah sempat menguat hampir 1% dua sesi beruntun, dan won Korea Selatan serta dolar Taiwan masing-masing turun 0,2%.
Ketidakpastian Geopolitik Timur Tengah Ikut Mewarnai
Ketidakpastian geopolitik ikut mewarnai pergerakan pasar. Pasar global masih gelisah menyusul konflik AS-Iran yang telah berlangsung sekitar lima bulan, dengan kekhawatiran terhadap risiko pasokan minyak dari Timur Tengah dan Selat Hormuz yang masih membayangi. Harga minyak sempat anjlok 7% pada Senin sebelum sedikit pulih pada Selasa karena kurangnya arah yang jelas di pasar.
Fabien Yip, analis pasar IG International, menilai pasar Asia tengah menghadapi resistensi teknis seraya mencerna gambaran beragam situasi Timur Tengah. Nada optimistis dari pembicaraan antara Washington dan Teheran serta potensi pembukaan kembali Selat Hormuz memberikan sedikit ruang pemulihan, namun para pedagang tampak enggan sepenuhnya memperhitungkan premi risiko karena situasi yang bisa berubah sangat cepat.
Prospek Pasar Modal Indonesia Menjelang Pertengahan Agustus 2026
Untuk investor, kombinasi tiga tema ini — IHSG yang bergairah, arus asing yang selektif, dan rupiah yang masih tertekan — menuntut strategi yang hati-hati namun tetap terbuka pada peluang. Saham-saham yang diborong asing seperti TLKM, BBCA, GGRM, dan ICBP menawarkan karakter defensif dan likuiditas tinggi yang relatif aman di tengah volatilitas. Sementara rotasi asing ke saham komoditas (TINS, BRMS, NSSS) menawarkan eksposur ke pergerakan harga bahan baku.
Kuncinya adalah membedakan antara arus dana harian yang bisa berbalik cepat dengan tren fundamental jangka menengah, serta tetap mencermati pergerakan rupiah dan kebijakan Bank Indonesia sebagai dua variabel penentu arah pasar modal Indonesia pada sisa kuartal ketiga 2026.
Dengan penurunan GWM yang efektif mulai 1 September dan sinyal pemulihan pasar modal yang diakui OJK, prospek jangka menengah IHSG tetap terbuka. Namun, volatilitas jangka pendek tetap perlu diwaspadai mengingat rupiah yang belum stabil di atas Rp18.000 dan ketidakpastian geopolitik Timur Tengah yang masih menjadi sumber risiko utama.
