Memuat data pasar...
Emiten.org
Emiten.org
Live
🏆 Best Score
IHSG positif ⏱ 8 menit

DBS Prediksi IHSG Bangkit ke Level 8.000 di Akhir 2026, Valuasi Paling Murah dalam 10 Tahun — OJK: Net Sell Asing Rp81 T Mulai Mereda

DBS Prediksi IHSG Bangkit ke Level 8.000 di Akhir 2026, Valuasi Paling Murah dalam 10 Tahun — OJK: Net Sell Asing Rp81 T Mulai Mereda
Wikimedia Commons / IDX Building

Head of Research DBS Indonesia William Simadiputra memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal bangkit dan kembali ke level 8.000 pada akhir 2026. IHSG dinilai oversold dengan valuasi menyentuh titik terendah dalam satu dekade terakhir — P/E ratio diproyeksikan 13x, di bawah rata-rata historis. Di sisi lain, OJK mengungkap net foreign sell telah mencapai Rp80,97 triliun sepanjang 2026, namun klaim tekanan jual asing perlahan mulai mereda. IHSG sendiri ditutup di level 6.091 pada perdagangan Rabu (29/7/2026).

DBS: IHSG Oversold, Valuasi Capai Level Termurah dalam 10 Tahun

📎 Baca Juga

PT Bank DBS Indonesia menyatakan keyakinannya bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bangkit dan kembali ke level 8.000 pada akhir tahun ini. Target tersebut berada jauh di atas ekspektasi rata-rata analis dan memberikan angin segar di tengah pelemahan pasar yang berkepanjangan.

Head of Research DBS Indonesia, William Simadiputra, menilai IHSG yang berada di kisaran level 6.100 saat ini bersifat oversold — mengalami tekanan jual yang sangat tajam. Kondisi ini tercermin dari volume perdagangan dan nilai transaksi di bursa saham Indonesia yang sangat tipis.

"Dan pada titik ini, valuasi mencapai titik yang belum pernah kita lihat dalam 10 tahun terakhir, atau sejak Indonesia mendapatkan peringkat investasi untuk pertama kalinya pada tahun 2017," ujar William saat Media Briefing DBS Institutional Forum 2026 di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

DBS Indonesia memproyeksikan Price to Earnings Ratio (P/E) IHSG bakal mencapai 13x, atau berada di bawah rata-rata valuasi 10 tahun terakhir. Dengan laba perusahaan yang masih positif — tumbuh 7,5% pada kuartal I-2026 dan proyeksi pertumbuhan laba kuartal II sekitar 4,4% — valuasi yang murah dinilai akan menarik kembali investor.

"Terlepas dari kekhawatiran makroekonomi, selama kinerja pendapatan tetap terjaga, valuasi akan tercapai," tegas William.

IHSG Ditutup di Level 6.091, Anjlok 29% Year-to-Date

Pada perdagangan Rabu (29/7/2026), IHSG ditutup melemah 0,64% ke level 6.091,3. Indeks sempat dibuka di level 6.141,1 dan menyentuh level tertinggi 6.174,4 sebelum berbalik melemah. Level terendah harian tercatat di 6.029,3 — nyaris menembus level psikologis 6.000.

Volume transaksi tercatat sebanyak 39,86 miliar saham dengan nilai sebesar Rp22,87 triliun dan frekuensi 1.967.591 kali. Sebanyak 468 saham melemah, 177 saham menguat, dan 148 saham stagnan.

Secara mingguan, IHSG melemah 3,84%. Namun secara bulanan masih menguat 6,96% meskipun secara tiga bulanan anjlok 19,79% dan secara enam bulanan (year-to-date) ambles 31,81%.

Dengan posisi IHSG sudah anjlok sekitar 29% sepanjang tahun, ada selisih sekitar 50% dengan pasar-pasar Asia lain yang bergerak naik lebih dari 20%. William menilai Indonesia berada di posisi yang menguntungkan dibanding negara-negara yang sudah lebih dahulu melesat.

OJK Buka Data: Net Foreign Sell Capai Rp80,97 Triliun

Di tengah optimisme DBS, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja mengungkap data terbaru terkait arus modal asing di pasar modal Indonesia. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa net foreign sell mencapai Rp80,97 triliun hingga 29 Juli 2026.

Meski angkanya fantastis, Hasan menegaskan bahwa pergerakan dana asing merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan global yang dipengaruhi berbagai faktor seperti risiko geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta preferensi investor terhadap aset emerging market.

"Pergerakan aliran dana asing perlu dilihat dalam konteks global dan tidak semata-mata mencerminkan fundamental pasar modal Indonesia," ungkap Hasan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/7/2026).

OJK mencatat bahwa aksi jual bersih asing perlahan mulai mereda. Pada periode perdagangan 13-17 Juli 2026, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp0,44 triliun atau sekitar Rp440 miliar — menjadi sinyal awal kembalinya minat asing.

"Pada saat yang sama, investor domestik tetap memiliki peran penting dalam menjaga likuiditas dan stabilitas pasar," jelas Hasan.

Faktor-Faktor yang Bisa Dorong IHSG ke 8.000

DBS Indonesia menyoroti beberapa faktor yang dapat mendorong IHSG kembali ke level 8.000:

1. Valuasi Murah dan Kinerja Laba yang Positif P/E ratio IHSG diproyeksikan mencapai 13x, di bawah rata-rata historis 10 tahun. Laba perusahaan masih tumbuh positif dan diperkirakan mencapai 4,4% pada kuartal II-2026.

2. Indonesia Tetap di MSCI Emerging Market Ketetapan Indonesia dalam klasifikasi MSCI Emerging Market mencegah aksi penjualan lebih lanjut oleh dana indeks global. Jika Indonesia diturunkan statusnya, dana indeks akan dipaksa menjual, namun hal itu tidak terjadi.

3. Stabilitas Rupiah dan Suku Bunga Proyeksi nilai tukar rupiah yang diperkirakan stabil di kisaran Rp18.000 per dolar AS serta arah kebijakan suku bunga acuan yang jelas menjadi katalis positif.

4. Rotasi Modal Global dari Pasar yang Overheating William menyoroti fenomena overheating di pasar Korea Selatan yang baru-baru ini mengalami koreksi tajam. Kospi Korea Selatan bahkan memicu circuit breaker untuk kedua kalinya secara beruntun. Saham SK Hynix ambruk lebih dari 15% meski mencatat laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi ini berpotensi mendorong rotasi modal asing ke pasar Indonesia yang valuasinya lebih murah.

"Jadi kita mulai melihat overheating di pasar Korea Selatan. Jadi, mungkin itu menempatkan Indonesia di posisi yang menguntungkan," ungkap William.

IPO dan Reformasi Pasar Modal

OJK menargetkan penghimpunan dana melalui IPO sebesar Rp250 triliun sepanjang 2026. Hingga 30 Juni 2026, total dana yang telah dihimpun di pasar modal mencapai Rp125,73 triliun. Tiga proses IPO telah berjalan hingga 20 Juli 2026, ditambah dua rights issue dengan nilai emisi Rp6,73 triliun serta empat penerbitan obligasi dan sukuk senilai Rp5,25 triliun.

"Kami melihat prospek penghimpunan dana hingga akhir tahun 2026 tetap positif. Meskipun kondisi pasar global masih diwarnai berbagai tantangan, minat perusahaan untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan tetap terjaga," ungkap Hasan.

OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) tengah menjalankan reformasi pasar modal yang mencakup peningkatan kualitas emiten, penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola dan penegakan hukum, serta perluasan basis investor. Langkah-langkah reformasi ini diharapkan dapat meningkatkan investability pasar modal Indonesia.

"Reformasi ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun asing sehingga pasar modal Indonesia menjadi semakin kredibel dan kompetitif sebagai sumber pembiayaan jangka panjang," pungkas Hasan.

Sektor dan Saham yang Perlu Dicermati

Dengan valuasi yang sudah sangat murah, beberapa sektor dan saham menarik untuk dicermati:

  • Sektor Perbankan: Saham blue chip seperti BBCA, BMRI, BBRI yang menjadi pilar IHSG dan memiliki fundamental kuat.
  • Sektor Teknologi: GOTO baru saja mengumumkan laba bersih Rp607,5 miliar di semester I-2026, membalikkan rugi Rp580 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan bersih tumbuh 28% yoy.
  • Sektor Energi: Saham-saham energi seperti BREN (Barito Renewables) yang tertekan namun memiliki prospek jangka panjang.
  • Reformasi IPO: Perusahaan-perusahaan yang akan melantai di bursa melalui IPO dapat menjadi katalis baru bagi likuiditas pasar.

Prospek dan Risiko

Meskipun prospek jangka panjang positif, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko:

  1. Arah Kebijakan The Fed: Suku bunga AS yang masih tinggi berpotensi menekan rupiah dan memicu capital outflow lebih lanjut.
  2. Transisi Kepemimpinan BI: Ketidakpastian gubernur definitif Bank Indonesia pasca pengunduran diri Perry Warjiyo masih menjadi sentimen negatif.
  3. Gejolak Global: Krisis saham teknologi di Korea Selatan dan aksi jual di Wall Street dapat menjalar ke pasar Indonesia.
  4. Likuiditas Ketat: Biaya pendanaan yang tinggi masih menjadi tantangan bagi korporasi dan perbankan.
Dengan valuasi yang sudah memasuki zona termurah dalam satu dekade dan reformasi pasar modal yang terus berjalan, IHSG memiliki potensi rebound yang signifikan. Namun investor disarankan untuk tetap menerapkan manajemen risiko yang baik dan melakukan akumulasi secara bertahap.
Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
R
Redaksi Emiten.org

Tim redaksi Emiten.org — menyajikan analisis pasar modal Indonesia berbasis data dan AI. Mengutamakan akurasi, independensi, dan perspektif investor ritel sejak 2024.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Benarkah DBS memprediksi IHSG bisa kembali ke 8.000?

Ya, Head of Research DBS Indonesia William Simadiputra memproyeksikan IHSG bangkit ke level 8.000 pada akhir 2026. Alasannya: valuasi IHSG sudah sangat murah (P/E 13x, terendah dalam 10 tahun), laba perusahaan masih positif, Indonesia tetap di MSCI Emerging Market, dan potensi rotasi modal global dari pasar Asia yang overheating seperti Korea Selatan.

Berapa level IHSG pada perdagangan 29 Juli 2026?

IHSG ditutup di level 6.091,3 atau melemah 0,64%. Level tertinggi harian 6.174,4 dan level terendah 6.029,3. Sebanyak 468 saham melemah, 177 menguat, dan 148 stagnan. Volume transaksi 39,86 miliar saham senilai Rp22,87 triliun.

Berapa total net foreign sell di pasar modal Indonesia sepanjang 2026?

OJK mencatat net foreign sell mencapai Rp80,97 triliun hingga 29 Juli 2026. Namun OJK mengklaim tekanan jual asing mulai mereda, terbukti pada periode 13-17 Juli 2026 terjadi net foreign buy sebesar Rp440 miliar.

Apa yang membuat DBS optimis IHSG bisa rebound?

DBS menyoroti beberapa faktor: (1) Valuasi IHSG paling murah dalam 10 tahun dengan P/E 13x, (2) Laba perusahaan masih tumbuh positif 7,5% di Q1-2026, (3) Indonesia tetap di MSCI Emerging Market, (4) Stabilitas rupiah di Rp18.000/US$, (5) Potensi rotasi modal global dari pasar yang overheating seperti Korea Selatan ke Indonesia yang undervalued.

Apa target IPO OJK untuk 2026?

OJK menargetkan penghimpunan dana IPO sebesar Rp250 triliun sepanjang 2026. Hingga 30 Juni 2026, sudah terkumpul Rp125,73 triliun. Tiga IPO baru telah berjalan hingga 20 Juli 2026, plus rights issue Rp6,73 triliun dan obligasi/sukuk Rp5,25 triliun.

Apa saja reformasi pasar modal yang dilakukan OJK?

Reformasi meliputi: peningkatan kualitas emiten, penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, pengungkapan data kepemilikan saham, penyempurnaan metodologi asesmen high shareholding concentration (HSC), penguatan tata kelola dan penegakan hukum, serta perluasan basis investor.

Bagaimana dampak krisis Korea Selatan terhadap IHSG?

Kospi Korea Selatan ambruk lebih dari 18% dalam dua hari dan memicu circuit breaker. Saham SK Hynix anjlok 15% meski laba rekor. DBS menilai overheating di Korea bisa mendorong rotasi modal asing ke Indonesia yang valuasinya lebih murah — dengan selisih kinerja sekitar 50%.

Apa risiko yang masih membayangi IHSG?

Risiko utama: (1) Kebijakan suku bunga The Fed yang masih hawkish, (2) Transisi kepemimpinan BI pasca mundurnya Perry Warjiyo, (3) Gejolak pasar global dari krisis saham teknologi, (4) Likuiditas perbankan yang ketat dan biaya dana tinggi.

Saham apa saja yang menarik di tengah koreksi IHSG?

Saham perbankan blue chip (BBCA, BMRI, BBRI) dengan fundamental kuat, GOTO yang baru mencetak laba bersih Rp607,5 miliar di H1-2026, dan saham energi terbarukan seperti BREN yang tertekan namun prospektif jangka panjang. Investor disarankan akumulasi bertahap.

Share: WhatsApp 𝕏 Twitter