DBS: IHSG Oversold, Valuasi Capai Level Termurah dalam 10 Tahun
📎 Baca Juga
- Investor Domestik Membesar Saat Asing Cabut: 28,96 Juta SID Serap Aksi Jual Rp71 Triliun — Potret Perpindahan Kepemilikan di Pasar Modal RI
- IHSG Menguat 0,64% Sepekan ke 6.236, Kapitalisasi Pasar Naik ke Rp10.923 Triliun — Tapi Volume Transaksi Justru Merosot 31%
- IHSG Tutup Juli 2026 dengan Penguatan Bulanan 5,78%, Balik ke Zona 6.200-an — Sinyal Stabil Jelang Agustus?
PT Bank DBS Indonesia menyatakan keyakinannya bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bangkit dan kembali ke level 8.000 pada akhir tahun ini. Target tersebut berada jauh di atas ekspektasi rata-rata analis dan memberikan angin segar di tengah pelemahan pasar yang berkepanjangan.
Head of Research DBS Indonesia, William Simadiputra, menilai IHSG yang berada di kisaran level 6.100 saat ini bersifat oversold — mengalami tekanan jual yang sangat tajam. Kondisi ini tercermin dari volume perdagangan dan nilai transaksi di bursa saham Indonesia yang sangat tipis.
"Dan pada titik ini, valuasi mencapai titik yang belum pernah kita lihat dalam 10 tahun terakhir, atau sejak Indonesia mendapatkan peringkat investasi untuk pertama kalinya pada tahun 2017," ujar William saat Media Briefing DBS Institutional Forum 2026 di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
DBS Indonesia memproyeksikan Price to Earnings Ratio (P/E) IHSG bakal mencapai 13x, atau berada di bawah rata-rata valuasi 10 tahun terakhir. Dengan laba perusahaan yang masih positif — tumbuh 7,5% pada kuartal I-2026 dan proyeksi pertumbuhan laba kuartal II sekitar 4,4% — valuasi yang murah dinilai akan menarik kembali investor.
"Terlepas dari kekhawatiran makroekonomi, selama kinerja pendapatan tetap terjaga, valuasi akan tercapai," tegas William.
IHSG Ditutup di Level 6.091, Anjlok 29% Year-to-Date
Pada perdagangan Rabu (29/7/2026), IHSG ditutup melemah 0,64% ke level 6.091,3. Indeks sempat dibuka di level 6.141,1 dan menyentuh level tertinggi 6.174,4 sebelum berbalik melemah. Level terendah harian tercatat di 6.029,3 — nyaris menembus level psikologis 6.000.
Volume transaksi tercatat sebanyak 39,86 miliar saham dengan nilai sebesar Rp22,87 triliun dan frekuensi 1.967.591 kali. Sebanyak 468 saham melemah, 177 saham menguat, dan 148 saham stagnan.
Secara mingguan, IHSG melemah 3,84%. Namun secara bulanan masih menguat 6,96% meskipun secara tiga bulanan anjlok 19,79% dan secara enam bulanan (year-to-date) ambles 31,81%.
Dengan posisi IHSG sudah anjlok sekitar 29% sepanjang tahun, ada selisih sekitar 50% dengan pasar-pasar Asia lain yang bergerak naik lebih dari 20%. William menilai Indonesia berada di posisi yang menguntungkan dibanding negara-negara yang sudah lebih dahulu melesat.
OJK Buka Data: Net Foreign Sell Capai Rp80,97 Triliun
Di tengah optimisme DBS, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja mengungkap data terbaru terkait arus modal asing di pasar modal Indonesia. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa net foreign sell mencapai Rp80,97 triliun hingga 29 Juli 2026.
Meski angkanya fantastis, Hasan menegaskan bahwa pergerakan dana asing merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan global yang dipengaruhi berbagai faktor seperti risiko geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta preferensi investor terhadap aset emerging market.
"Pergerakan aliran dana asing perlu dilihat dalam konteks global dan tidak semata-mata mencerminkan fundamental pasar modal Indonesia," ungkap Hasan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/7/2026).
OJK mencatat bahwa aksi jual bersih asing perlahan mulai mereda. Pada periode perdagangan 13-17 Juli 2026, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp0,44 triliun atau sekitar Rp440 miliar — menjadi sinyal awal kembalinya minat asing.
"Pada saat yang sama, investor domestik tetap memiliki peran penting dalam menjaga likuiditas dan stabilitas pasar," jelas Hasan.
Faktor-Faktor yang Bisa Dorong IHSG ke 8.000
DBS Indonesia menyoroti beberapa faktor yang dapat mendorong IHSG kembali ke level 8.000:
1. Valuasi Murah dan Kinerja Laba yang Positif P/E ratio IHSG diproyeksikan mencapai 13x, di bawah rata-rata historis 10 tahun. Laba perusahaan masih tumbuh positif dan diperkirakan mencapai 4,4% pada kuartal II-2026.
2. Indonesia Tetap di MSCI Emerging Market Ketetapan Indonesia dalam klasifikasi MSCI Emerging Market mencegah aksi penjualan lebih lanjut oleh dana indeks global. Jika Indonesia diturunkan statusnya, dana indeks akan dipaksa menjual, namun hal itu tidak terjadi.
3. Stabilitas Rupiah dan Suku Bunga Proyeksi nilai tukar rupiah yang diperkirakan stabil di kisaran Rp18.000 per dolar AS serta arah kebijakan suku bunga acuan yang jelas menjadi katalis positif.
4. Rotasi Modal Global dari Pasar yang Overheating William menyoroti fenomena overheating di pasar Korea Selatan yang baru-baru ini mengalami koreksi tajam. Kospi Korea Selatan bahkan memicu circuit breaker untuk kedua kalinya secara beruntun. Saham SK Hynix ambruk lebih dari 15% meski mencatat laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi ini berpotensi mendorong rotasi modal asing ke pasar Indonesia yang valuasinya lebih murah.
"Jadi kita mulai melihat overheating di pasar Korea Selatan. Jadi, mungkin itu menempatkan Indonesia di posisi yang menguntungkan," ungkap William.
IPO dan Reformasi Pasar Modal
OJK menargetkan penghimpunan dana melalui IPO sebesar Rp250 triliun sepanjang 2026. Hingga 30 Juni 2026, total dana yang telah dihimpun di pasar modal mencapai Rp125,73 triliun. Tiga proses IPO telah berjalan hingga 20 Juli 2026, ditambah dua rights issue dengan nilai emisi Rp6,73 triliun serta empat penerbitan obligasi dan sukuk senilai Rp5,25 triliun.
"Kami melihat prospek penghimpunan dana hingga akhir tahun 2026 tetap positif. Meskipun kondisi pasar global masih diwarnai berbagai tantangan, minat perusahaan untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan tetap terjaga," ungkap Hasan.
OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) tengah menjalankan reformasi pasar modal yang mencakup peningkatan kualitas emiten, penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola dan penegakan hukum, serta perluasan basis investor. Langkah-langkah reformasi ini diharapkan dapat meningkatkan investability pasar modal Indonesia.
"Reformasi ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun asing sehingga pasar modal Indonesia menjadi semakin kredibel dan kompetitif sebagai sumber pembiayaan jangka panjang," pungkas Hasan.
Sektor dan Saham yang Perlu Dicermati
Dengan valuasi yang sudah sangat murah, beberapa sektor dan saham menarik untuk dicermati:
- Sektor Perbankan: Saham blue chip seperti BBCA, BMRI, BBRI yang menjadi pilar IHSG dan memiliki fundamental kuat.
- Sektor Teknologi: GOTO baru saja mengumumkan laba bersih Rp607,5 miliar di semester I-2026, membalikkan rugi Rp580 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan bersih tumbuh 28% yoy.
- Sektor Energi: Saham-saham energi seperti BREN (Barito Renewables) yang tertekan namun memiliki prospek jangka panjang.
- Reformasi IPO: Perusahaan-perusahaan yang akan melantai di bursa melalui IPO dapat menjadi katalis baru bagi likuiditas pasar.
Prospek dan Risiko
Meskipun prospek jangka panjang positif, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko:
- Arah Kebijakan The Fed: Suku bunga AS yang masih tinggi berpotensi menekan rupiah dan memicu capital outflow lebih lanjut.
- Transisi Kepemimpinan BI: Ketidakpastian gubernur definitif Bank Indonesia pasca pengunduran diri Perry Warjiyo masih menjadi sentimen negatif.
- Gejolak Global: Krisis saham teknologi di Korea Selatan dan aksi jual di Wall Street dapat menjalar ke pasar Indonesia.
- Likuiditas Ketat: Biaya pendanaan yang tinggi masih menjadi tantangan bagi korporasi dan perbankan.
