IHSG Rebound ke 6.041, DBS Targetkan 8.000 di Akhir 2026
IHSG ditutup menguat 5 hari beruntun ke 6.041,97. S&P pertahankan rating BBB, DBS proyeksikan target 8.000. Rupiah menguat ke Rp18.060, dana asing masuk Rp105 triliun.
| # | Perusahaan | Sektor | Harga / Mkt Cap | Perubahan | P/E | Volume | Move | Trend | Score |
|---|
IHSG ditutup menguat 5 hari beruntun ke 6.041,97. S&P pertahankan rating BBB, DBS proyeksikan target 8.000. Rupiah menguat ke Rp18.060, dana asing masuk Rp105 triliun.
Di tengah S&P yang pertahankan rating BBB, pertumbuhan ekonomi 5,61%, dan inflasi yang melandai, IHSG justru stagnan di level 6.041 dan rupiah masih di Rp 18.060. Simak analisis komprehensif dari Investment Forum 2026: strategi BI dengan SRBI yang kebanjiran dana asing Rp 105 triliun, investor domestik yang tembus 30 juta, hingga kekuatan dana BPJS Ketenagakerjaan dan BPKH yang mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun.
Bank Indonesia (BI) berhasil membalikkan arus modal asing setelah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin pada Mei-Juni 2026. Hasilnya, Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) kebanjiran dana asing hingga Rp105 triliun pada periode Juni hingga awal Juli 2026. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan strategi ini dalam Investment Forum 2026 di Bursa Efek Indonesia.
Harga saham EMAS stagnan di Rp5.725 pada 15 Juli 2026, tanpa perubahan dari hari sebelumnya. RSI(14) berada di 21,5 (oversold), namun fundamental masih negatif dengan EPS -Rp35,5 dan rugi operasi.
Rupiah ditutup menguat ke Rp 18.068 per dolar AS pada perdagangan Rabu (15/7/2026), mencatatkan diri sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di Asia. Data inflasi AS yang melandai dan pernyataan S&P Global yang memproyeksikan rupiah ke Rp 17.700 menjadi katalis utama. IHSG ikut terdongkrak, meski capital outflow masih membayangi.
S&P Global pertahankan rating Indonesia di BBB dengan outlook stabil. Namun rupiah justru tertekan hingga tembus Rp 18.000 per dolar AS. Daya saing Indonesia merosot, capital outflow makin deras, dan bank asing terus jual saham. Simak proyeksi kurs rupiah hingga akhir 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus kembali level psikologis 6.000 pada pertengahan Juli 2026, ditutup di level 6.037,84 pada Senin (13/7) dan sempat menyentuh 6.095 pada sesi perdagangan Selasa (14/7). Rebound ini terjadi setelah IHSG tertekan ke level 5.873 pada pekan sebelumnya, didorong oleh aksi beli investor asing, penguatan nilai tukar rupiah, serta sentimen positif dari kebijakan suku bunga global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 19,92 poin ke level 6.057 pada perdagangan Selasa (14/7/2026). BEI menambah 37 saham ke daftar HSC, total 51 emiten. Analis perkirakan IHSG konsolidasi di 5.950-6.125.
S&P Global Ratings mengafirmasi peringkat Indonesia di BBB dengan outlook stabil, menjadi angin segar bagi IHSG yang langsung reli 1,92% dalam sepekan. Di sisi lain, BEI memperketat pengawasan saham melalui aturan High Shareholding Concentration (HSC) yang menjaring 37 emiten baru. Simak analisis lengkap dan rekomendasi saham dari para analis.
S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di BBB dengan outlook stabil, memberikan angin segar bagi pasar modal Indonesia. IHSG berhasil rebound ke level 6.000-an dengan nilai transaksi melonjak ke Rp15,36 triliun, sementara rupiah menguat ke Rp18.080 per dolar AS. Keputusan ini menjadi katalis positif di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Harga emas Antam kembali turun Rp 20.000 pada perdagangan Selasa 14 Juli 2026, membawa harga logam mulia 24 karat ke level Rp 2.615.000 per gram. Harga buyback ikut ambles Rp 43.000 ke Rp 2.352.000 per gram. Penurunan ini terjadi di tengah penguatan IHSG yang melesat 1,68% setelah S&P Global mempertahankan peringkat investment grade Indonesia. Artikel ini mengupas faktor-faktor di balik pelemahan emas, perbandingan dengan harga global, serta strategi tepat bagi investor yang tetap ingin memanfaatkan emas sebagai aset lindung nilai di tengah rotasi modal ke pasar saham.
IHSG berhasil rebound dan menguat 0,33% ke level 6.057 pada perdagangan Selasa (14/7/2026) setelah S&P Global Ratings mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB (long-term) dan A-2 (short-term) dengan outlook stabil. Keputusan ini menjadi katalis utama di tengah tekanan geopolitik Timur Tengah dan ketidakpastian global. Rupiah stagnan di Rp18.100/US$. Sektor Basic Industry memimpin penguatan (+2,96%), sementara saham perbankan seperti BMRI (+4,17%) dan BBRI (+2,87%) jadi motor penggerak IHSG.